Minggu, 03 Januari 2010

feature

Metode Pembelajaran Modern ala ISESCO
Oleh: Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum.

“The new paradigm; is the change paradigm from the material values to knowledge values.” Kalimat inilah yang yang paling berkesan bagi saya dalam mengikuti training “Modernizing Islamic Education Teaching Mathods” yang dilaksanakan atas kerjasama antara ISESCO dan UIN Sunan Kalijaga. Directur ISESCO, Mr. Abbas, begitu panggilannya, dengan semangatnya, mempresentasikan ide dan konsepnya tentang landasan filosofi pendidikan di era modern ini.
Mr. Abbas Sadri juga mengatakan bahwa Negara maju bukanlah Negara yang kaya; melainkan Negara yang para warganya berpengetahuan dan berpendidikan tinggi. Era sekarang ini merupakan intellectual capital era. Sehingga, pendidikan menjadi sangat penting saat ini. Dan, para pengajar akan sangat berperan untuk mencerdaskan sumber daya manusia ini.
Terdapat tujuh keahlian (skill) yang harus dimiliki saat ini, yaitu critical thinking and doing; creativity and innovation; collaboration and team work; cross cultural understanding; communication and presentation; computing and information; career and life long learning. Tujuh skill inilah yang hendaknya ditamankan kepada para siswa dan mahasiswa sebagai gerenasi mendatang. Sehingga, kita negara-negara muslim dapat maju sebagaimana yang telah dicapai oleh negara-negara maju lainnya.
Mr. Abbas juga memaparkan adanya six-T (enam Tehnologi) yang harus dikembangkan saat ini; yaitu information and communication tech; bio-tech; nano-tech; energy tech; space tech; dan community and rural tech. Jika suatu Negara dapat menguasai keenam teknologi ini maka, ia akan menjadi negara yang hebat. Saat ini, belum ada Negara yang dapat menguasai keenam tehnologi tersebut secara keseluruhan. Sehingga, pendidikan kita akan mengarah ke sana….
Terkait dengan strategi pembelajaran Mr. Mahmoud memandu training ini dengan penuh kesabarannya. Bermula dari konsep how do we learn, how do we think and how do we research; dimunculkan tentang konsep sumber pengetahuan yang relative berbeda dari konsep barat yang rasional dan empiris. Jika para peserta memaparkan bahwa kita mendapat pengetahuan dengan berpikir, membaca, dan observasi atau penelitian…maka Mahmoud memaparkan bahwa kita mendapatkan pengetahuan, pertama dari instink, kemudian indera, akal dan experience. Dia juga memaparkan bahwa al- Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, merupakan buku pengetahuan. Al-Qur’an banyak menyebutkan keutamaan orang-orang yang berpengetahuan, berpikir dan meneliti baik tentang masyarakat maupun alam sekitarnya sebagai ciptaan Tuhan. Pemikiran seperti inilah, menurut saya, merupakan khas pemikiran dan konsep keilmuan Islam.
Experience sebagai sumber pengetahuan; dan AHA experience merupakan hal yang paling penting. Menurut saya, bagian ini sangat menarik. Suatu konsep yang belum pernah saya dapatkan di pelatihan Cados (calon Dosen) oleh CTSD. AHA experience merupakan pengalaman langsung yang diperoleh seorang siswa ketika ia berpikir dan benar-benar paham tentang sesuatu, bisa merasakan dan mengalaminya dengan sendirinya.
Senada dengan hal itu Mr. Mahmoud juga menyatakan bahwa terdapat dua tipe pengetahuan; yaitu explicit knowledge dan tacit knowledge. Explicit knowledge merupakan pengetahuan yang diperoleh dari membaca buku atau artikel dan sumber bacaan lainnya; sedangkan tacit knowledge adalah pengetahuan yang didasarkan kepada pengalaman. Berdasarkan konsep-konsep inilah, maka strategi pembelajaran di kelas akan menjadi lebih baik, jika para siswa atau mahasiswa menjadi setral pembelajaran; atau apa yang disebut CTSD sebagai students centre learning.
Masing-masing students telah memiliki paling tidak tacit knowledge, sehingga pemaparan tentang pengalaman masing-masing students sangat diperlukan, agarmereka mampu mencapai the AHA experience. Dengan konsep ini, maka para pengajar hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi para students untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para ranah strategi ini, konsep ISESCO tidak jauh berbeda dengan konsep teaching and learning dari CTSD.
Mengenai learning objection, para peserta training juga diberi pemahaman tentang cara membuat learning objecton yang baik; yaitu SMART (specific, measurable, achievable, reliable, time bounded). Kemudian, baru dirumuskan strategi pembelajaran dan media apa yang akan digunakan untuk mencapai learning objection tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah dipraktikkan di kalangan dosen UIN sebagai apa yang ada dalam SAP (Satuan Acara Pembelajaran); dengan konsep kompetensi dasar dan standar kompetensi serta strategi pembelajaran. Hal ini juga tidak berbeda dengan konsep yang ditawarkan oleh CTSD….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar