Senin, 01 Oktober 2012

artikel jurnal

KONTROVERSI PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA
Oleh: Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum.[1]

Abstrak

Tulisan ini membahas permasalahn hukum tentang perkawinan beda agama di Indonesia, terutama setelah berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam pembahasan tulisan ini, dinyatakan bahwa perkawinan beda agama setelah berlakunya UU Perkawinan, relatif sulit dilakukan. Dengan  tidak diaturnya secara jelas perkawinan beda agama dalam UU perkawinan, maka terdapat polemic dalam pemahaman dan pelaksanaannya. Berdasarkan Pasal 2 UU Perkawinan, ada yang menyatakan bahwa perkawinan beda agama tidak boleh. Tapi, berdasarkan Pasal 66 UU Perkawinan, maka terdapat ahli hukum yang menyatakan adanya kekosongan hukum, sehingga peraturan GHR dapat diberlakukan. Dengan demikian, maka perkawinan beda agama dapat dilaksanakan dengan pencacatan di Kantor Catatan Sipil. Sementara itu, saat ini realitas masyarakat masih menghendaki berlakunya legalitas perkawinan beda agama. Hal ini didasarkan pada banyaknya praktik perkawinan beda agama di masyarakat, yang relatif sulit dilaksanakan. Sehingga, hal ini menjadi permasalahan hukum yang perlu mendapatkan penyelesaian.


Pendahuluan

Perkawinan Beda Agama, dahulu diatur dalam sebuah peraturan yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda; yaitu Penetapan Raja tanggal 29 Desember 1896 No. (Stb. 1898 No. 158), yang dikenal dengan peraturan tentang Perkawinan Campuran (Regeling op de Gemengde Huwelijken), yang kemudian disebut GHR. Dalam GHR ini, jika dua orang yang berbeda agama hendak melangsungkan perkawinan, maka Kantor Cacatan Sipil yang akan mencatat perkawinannya. Namun, setelah berlakunya undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut dengan UU Perkawinan), terutama setelah tahun 1983, pelaksanaan perkawinan beda agama menjadi sulit pelaksanaannya.
Dalam Pasal 2 UU Perkawinan, dinyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukam berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Dari pasal ini, di lapangan sering kali dimaknai bahwa orang Islam melaksanakan perkawinan dengan orang Islam, dengan berdasarkan agama Islam; orang Katolik melaksanakan perkawinan dengan orang katolik dengan berdasarkan agama Katolik, dan seterusnya. Sehingga, perkawinan dua orang yang berbeda agama relatif sulit untuk dilaksanakan.
Ketika dilihat realitas di masyarakat, perkawinan beda agama relatif banyak terjadi. Data yang pernah penulis dapatkan di Kabupaten Gunung Kidul –daerah yang relatif berpenduduk plural dari segi agamanya—dapat dipaparkan bahwa di Gereja Katolik Wonosari (Santo Petrus Kanisius), tempat satu-satunya perkawinan berdasarkan agama Katolik dilaksanakan, terdapat rata-rata 32 % pertahun pasangan berasal dari agama yang berbeda. Adapun di beberapa KUA terdapat rata-rata 2,5 % pasangan yang berasal dari agama yang berbeda.[2]
Cinta yang bersifat universal, tanpa mengenal batasan agama, ras dan golongan, memungkinkan dua orang berbeda agama menjadi saling mencintai dan hendak melangsungkan perkawinan. Di sisi lain, kebebasan beragama dijamin secara konstitusional di Indonesia dan dilindungi sebagai hak asasi manusia. Sehingga, sulitnya pelaksanaan perkawinan beda agama di Indonesia, menjadi permasalahan yang harus mendapatkan solusi.
Tulisan ini mencoba untuk membahas perkawinan beda agama dengan berbagai pemikiran kontroversinya. Bagaimana konsep sahnya perkawinan di Indonesia berdasarkan UU Perkawinan; perkawinan beda agama sebelum berlaku UU Perkawinan; dan perkawinan beda agama setelah berlakunya UU perkawinan.
Perkawinan Beda Agama dalam Hukum Indonesia

  1. Pengertian Pekawinan
Pengertian perkawinan dapat diambil dari Pasal 1 UU perkawinan yaitu “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri.” Menurut Wantjik Saleh, dengan ‘ikatan lahir batin’ dimaksudkan bahwa perkawinan itu tidak hanya cukup dengan adanya ‘ikatan lahir’ atau ‘ikatan batin saja’ tapi harus kedua-duanya. Suatu ‘ikatan lahir’ adalah ikatan yang dapat dilihat, yaitu adanya suatu hubungan hukum antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama, sebagai suami istri, yang dapat disebut juga ‘ikatan formal’. Hubungan formal ini mengikat bagi dirinya, maupun bagi orang lain atau masyarakat. Sebaliknya, ‘ikatan bathin’ merupakan hubungan yang tidak formil, suatu ikatan yang tidak dapat dilihat, tapi harus ada karena tanpa adanya ikatan bathin, ikatan lahir akan menjadi rapuh.[3]
Dari pengertian perkawinan tersebut, dapar dikatakan bahwa perkawinan mempunyai aspek yuridis, social dan religius. Aspek yuridis terdapat dalam ikatan lahir atau formal yang merupkan suatu hubungan hukum antara suami istri, sementara hubungan yang mengikat diri mereka maupun orang lain atau masyarakat merupakan aspek social dari perkawinan. Aspek religius yaitu dengan adanya term berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai dasar pembentukan keluaraga yang bahagia dan kekal. Hal ini sebagaiamana dinyatakan dalaam penjelasan Pasal 1 UU Perkawinan bahwa :
Sebagai Negara yang berdasarkan Pancasila, dimana Sila yang pertama ialah ke-Tuhan Yang Maha Esaaa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama. Kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/ jasmani, tetapi unsur bathin/ rokhani juga mempunyai peranan yang penting.

Aspek religius ini juga terdapat dalam pasal-pasal lain, seperti dalam syarat sahnya pekawinan, dan larangan-larangan perkawinan.

2. Syarat Sah Perkawinan

Sebagai salah satu perbuatan hukum, perkawinan juga mempunyai akibat hukum. Adanya akibat hukum penting sekali hubungannya dengan sahnya perbuatan hukum itu. Dalam pasal 2 UU Perkawinan disebutkan bahwa:
(1)   perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
(2)   Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dan pasal ini dapat diketahui bahwa syarat sah perkawinan adalah dilaksanakan menurut agama dan kepercayaan masing-masing, sebagaimana dalam penjelasan Pasal 2 UU Perkawinan bahwa tidak ada perkawinan diluar hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu, sesuai dengan UUD 1945. adapun UUD 1945 dalam pasal 29 dinyatakan bahwa:
1)      Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
2)      Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Tentang tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu, Prof. Dr. Hazairin SH. Menyatakan bahwa:
‘Jadi bagi orang Islam tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar hukum agamanya sendiri. Demikian juga bagi orang Kristen dan bagi orang Hindu atau Budha seperti yang dijumpai di Indonesia’.

Sementara Pasal 2 (2) tentang pencatan sebagai syarat sah perkawinan hanya bersifat administrative. Sebagaimana dinyatakan oleh Wantjik Saleh bahwa perbuatan pencatatan itu tidaklah menentukan ‘sah’ nya suatu perkawinan, tetapi menyatakan bahwa peristiwa itu memang ada dan terjadi, jadi semata-mata bersifat administrative.[4] Juga dinyatakan dalam Penjelasan Umum UU Perkawinan, bahwa pencatatan tiap-tiap perkawinan adlah sama halnya dengan pencatatn peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran kematian yang dinyatakan surat-surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam daftar pencatatan.
Pencatatn perkawinan ini dilaksanakan di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi yang tidak beragama Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan UU Perkawinan.
Adapun syarat-syarat perkawinan diatur dalam Pasal 6 sampai Pasal 11 UU Perkawinan, yaitu:
1.      Adanya persetujuan kedua caaalon mempelai.
2.      Adanya izin dari orang tua/ wali bagi calon mempelai yang belum berumur 21 tahun     
3.      Umur calon mempelai pria sudah mencapai 19 tahun dan mempelai wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
4.      Antara kedua calon mempelai tidak ada hubungan darah, hubungan keluarga, dan hubungan yang dilarang kawin oleh agama dan peratiuran lain yang berlaku.
5.      Tidak terkait hubungan perkaewinan dengan orang lain.
6.      Tidak bercerai untukkedua kali denga suami atau isteri yang sama, yanhg hendak dikawini
7.      Bagi seorang wanita (janda) tidak dapat kawin lagi sebelum lewat waktu tunggu
3. Pengertian Perkawinan Campuran sebelum UU Perkawinan.
Sebelum adanya UU Perkawinan, keadaan hukum perkawinan di Indonesia beragam. Setiap golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan penduduk yang lain. Persoalan ini menimbulkan masalah hukum perkawinan antar golongan, yaitu tentang hukum perkawinan manakah yang akan diberlakukan untuk perkawinan antara dua orang dari golongan yang berbeda. Dalam rangka memecahkan masalah tersebut, maka pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan. Penetapan Raja tanggal 29 Desember 1896 No. (Stb. 1898 No. 158) yang merupakan peraturan tentang Perkawinan Campuran (Regeling op de Gemengde Huwelijken).
Pengertian perkawinan campuran dapat dilihat pada Pasal 1 GHR itu yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perkawinan campuran ialah perkawinan antara orang-orang di Indonesia yang tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan. Berdasarkan pasal GHR tersebut, para ahli hukum berpendapat bahwa yang dimaksud perkawinan campuran adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing pada umumnya takluk pada hukum yang berlainan.
Dalam menentukan hukum mana yang berlaku bagi orang-orang yang melakukan perkawinan campuran, GHR menyatakan bahwa dalam hal seorang perempuan melakukan perkawinan campuran, maka ia selama perkawinannya iu belum putus, tunduk kepada hukum yang berlaku bagi suaminya baik di lapangan hukum public maupun hukum sipil (Pasal 2).
Dalam Pasal 7 ayat (2) GHR dinyatakan bahwa dalam perkawinan campuran ini, perbedaan agama, bangsa, atau asal sama sekali tidak menjadi halangan untuk melangsungkan perkawinan.

4. Status Hukum Perkawinan Beda Agama Setelah Adanya UU Perkawinan
UU Perkawinan memberikan peranan yang sangat menentukan sah/ tidaknya suatu perkawinan kepada hukum agama dan kepercayaan masing-masing calon mempelai. Keadaan tersebut nampak jelas dalam Pasal 2 UU Perkawinan yaitu bahwa “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurutagama dan kepercayaannya masing-masing.” Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) dinyatakan bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum agamanya dan kepercayaannya itu.
Prof. Dr. Hazairin SH, secara tegas dan jelas memberikan penafsiran pasal 2 tersebut bahwa bagi orang Islam  tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar ‘hukum agamanya sendiri’. Demikian juga bagi orang Kristen, dan bagi orang Hindu. Karena  itu, maka berarti jalan buntu bagi para calon mempelai yang berbeda agama unuk melaksanakan perkawinan antar agama. Karena, di samping peraturan dalam Pasal 2 ini, mereka  juga tidak mungkin menggunakan peraturan perkawinan campuran dalam Bab XII pasal 57 UU Perkawinan, yang tidak mengatur tentang perkawinan antara agama.
Terutama umat Islam—sebagai mayoritas penduduk Indonesia ini--, sangat mensyukuri Pasal 2 (1) tersebut, karena dengan pasal ini tertutuplah kemungkinan untuk melakukan perkawinan secara ‘sekuler’ dan juga tertutuplah kemungkinan bagi seorang muslim untuk menikah dengan laki-laki atau perempuan musyrik, karena pernikahan ini dilarang (tidak sah) menurut hukum Islam (fiqh). Bagi umat Islam, adanya larangan untuk melangsungkan perkawinan beda agama tersebut, merupakan masalah penting karena dalam peraturan perkawinan peninggalan Belanda berupa GHR, penduduk Indonesia diizinkan melakukan perkawianan beda agama.
Dengan term, perkawinan adalah sah apabila dilakukan berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing, bagi orang Islam juga dimaknai bahwa perkawinan tidak boleh melanggar ajaran kitab suci al-Qur’an. Sementara itu, dalam al-Qur’an juga terdapat larangan bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan untuk menikah dengan orang musyrik.[5]
Begitu juga dalam ajaran agama Katolik. Disebutkan dalam kitab Kanonik tahun 1917 kanon 1060 yang berbunyi:
Dengan sangat keras gereja di mana-mana melarang perkawinan antara dua orang yang dibabtis, yang satu Katolik dan yang lain anggota dari sekte bidaah atau skisma, dan bila ada bahaya murtad pada jodoh Katolik serta anaknya, maka juga dilarang oleh hukum ilahi sendiri.

Dalam kanon 1070 dinyatakan juga bahwa:
Tiadanya permandian sah sebagai halangan nikah yang mengakibatkan perkawina  orang Katolik dengan orang tak dibaptis menjadi tidak sah.

Berdasarkan hukum kanonik tersebut, maka dalam ajaran Katolik juga tidak diperbolehkan adanya perkawinan beda agama, yaitu perkawinan antara orang katolik dan non-Katolik.[6]
Dalam agama Hindu, juga terdapat ajaran tentang samkara sebagai permulaan sahnya perkawinan. Dasar-dasar yang harus diingat adalah bahwa: 1) wanita dan pria harus sudah dalams atu agama, sama-sama Hindu, 2) Widiwadana yaitu pemberkahan keagamaan dipimpin oleh Sulinggih atau Panindita. Dari ajaran tentang samkara tersebut, berarti perkaiwan beda agama dalam ajaran Hindu juga cenderung tidak diperbolehkan.[7]
Sementara itu, dalam ajaran Buddha terdapat empat kunci pokok kebahagiaan suami isteri dalam rumah tangga, yaitu: 1) sama sada (memiliki keyakinan yang sama); 2) sama sila (memiliki moralitas yang sama); 3) sama caga (sama-sama mempunyai kemuraha hati); dan 4) sama pasiya (sama-sama memiliki kebijaksanaan). Sehingga, dengan demikian ajaran Buddha juga menganjurkan perkawinan antara orang yang memiliki keyakinan yang sama (umat Buddha dengan umat Buddha).[8]
Paparan tentang ajaran agama-agama tersebut, merupakan rujukan ketika memahami Pasal 2 (1) bahwa perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut agama dan keperyacaan masing-masing. Sehingga, berdasarkan hukum agama yang ada di Indonesia, perkawinan beda agama relatif sulit untuk dilaksanakan.
Sementara itu, dalam Pasal 66 UU Perkawinan menyatakan bahwa dengan perlakunya UU ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijk Ordonantie Christen Indonesiers, S. 1933 No. 74), Peraturan Perkawinan Campur (Regeling op de Gemengde Huwelijk S. 158 tahun 1898) dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku.
Dari ketentuan Pasal 66 tersebut, dapat dinyatakan bahwa ketentuan perkawinan beda agama dalam GHR tidak berlaku lagi, sedangkan perkawian campur dalam UU Perkawinan memiliki rumusan yang berbeda.
Namun, dari Pasal 66 tersebut, terdapat beberapa ahli hukum yang mengatakan bahwa terdapat kekosongan hukum tentang perkawinan campuran beda agama. Karena UU Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan campuran beda agama, seangkan bunyi pasal 66 menyatakan bahwa peraturan perkawinan lama tidak berlaku selama telah diatur oleh UU Perkawinan ini.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh beberapa sarjana diantaranya Purwanto S. Ganda Sybrata bahwa:
Perkawinan campuran antara agama selama belum diatur secara langsung dalam UU Perkawinan dapat dilangsungkan menurut ketentuan GHR dengan disesuaikan dengan asas-asas dalam UU Perkawinan.[9]

Maria Ulfa Subadio juga menyatakan bahwa:

Meskipun perkawinan warga Negara Indonesia yang berlainan agama tidak diatur dalam UU Perkawinan, akan tetapi berdasarkan Pasal 66, ketentuan dalam GHR masih dapat dipergunakan dalam perkawinan antar agama.[10]

    Dengan tidak adanya ketentuan tentang perkawinan beda agama dalam UU Perkawinan juga menimbulkan ketidakpastian mengenai ketentuan hukum yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaannya.
Permasalahan perkawinan beda agama dapat dilihat dalam beberapa kasus di Jakarta, seperti pasangan Duddy yang beragama Islam dan Sharon yang beragama Kristen, yang akhirnya menikah di gereja setempat, karena penolakan Kantor Catatan Sipil untuk mencatatkan perkawinan mereka dan mengeluarkan akte perkawinannya untuk ke Kua bagi pihak orang tua perempuan, pasangan Boy Bolang dan Aditya yang menunggu izin kawin dari Pengalan Negeri Jakarta Barat, pasangan Jamal Mirdad yang beragama Islam dan Lidia Kandau yang beragama Kristen Protestan yang menunda perkawinannya selama dua bulan karena menunggu proses pengadilan namun akhirnya mendapt sutar izin dari Kantor Catatan Sipil DKI Jakarata.[11]
Praktik Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama di Masyarakat
Permasalahan perkawinan beda agama yang masih menjadi polemic –sebagaimana terpapat di atas—maka pelaksanaan perkawinan beda agama di masyarakat relatif sulit. Padahal, perkawinan beda agama merupakan realitas yang masih terjadi di masyarakat. Sebagaimana data yang pernah penulis peroleh di Kabupaten Gunung Kidul –sebagai daerah yang sangat plural dalam kehidupan keberaganaan-- perkawinan beda agama di Gereja Katolik Wonosari mencapai jumlah rata-rata 32% pertahun; di KUA juga terdapat perkawinan beda agama dengan jumlah yang relatif signifikan; antara pemeluk agama Buddha dan non-Buddha juga terdapat beberapa perkawinan beda agama.
Adapun pelaksanaan perkawinan antara dua orang yang memeluk agama yang berbeda, salah satu pihak, biasanya menundukkan diri atau masuk agama pihak lain --baik masuk agama semu atau sesungguhnya. Misalnya, seorang non-muslim yang hendak melangsungkan perkawinan dengan seorang muslim dengan menggunakan hukum Islam, dengan pencacatan oleh KUA, sebelumnya harus mengucapkan ikrar syahadat. Ikrar syahadat ini menandakan dirinya masuk agama Islam. Di KUA beberapa Kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul, ikrar syahadat ini tampak dalam berkas cacatan perkawinan, yang menjadi dokumen resmi di KUA. Sehingga, untuk mengetahui perkawinan antara dua orang yang pada asalnya berbeda agama ini, menjadi sangat mudah, dengan melihat dokumen pencatatan perkawinannya di KUA.[12]
Adapun seorang Katolik yang hendak melangsungkan perkawinan dengan seorang yang beragama lain (non-Katolik) dengan sakramen gereja Katolik, maka harus mendapatkan dispensasi perkawinan terlebih dahulu dari keuskupan wilayah. Dispensasi ini akan dikeluarkan setelah pihak non-Katolik mengikuti pelatihan agama Katolik selama kurang lebih satu tahun. Dengan dispensasi tersebut, maka keduanya bias melangsungkan perkawinan seraca agama Katolik, dengan pemberkatan sakramen gereja. Adapun status pihak non-Katolik tersebut, ketika melangsungkan perkawinan, belum sepenuhnya menjadi anggota umat Katolik. Hal ini menjadi semacan lembaga penundukan diri; yang berarti ia menundukkan diri kepada hukum agama Katolik.[13]
Jika pemeluk agama Katolik dan Kristen hendak melangsungkan perkawinan, dapat langsung diselenggarakan tanpa dispensasi. Perkawinannya disebut dengan perkawinan ekuemene. Sakramen dilaksanakan di gereja salah satunya –Katolik atau Kristen—dengan menghadirkan kedua tokoh agamanya, untuk memberi pemberkatan.[14]
Jika seorang beragama Buddha hendak melangsungkan perkawinan dengan seorang non-Buddha dengan berdasarkan agama Buddha, biasanya pihak non-Buddha masuk agama Buddha semu dengan mengganti status agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Begitu juga antara pemeluk agama Hindu dan non-Hindu, dan pemeluk agama Kristen dengan non-Kristen. Masuk agama semu dengan mengubah status agama dalam KTP menjadi solusi paling mudah untuk mengatasi sulitnya pelaksanaan perkawinan beda agama saat ini. Namun, beberapa agama yang relatif ketat –seperti Islam dan Katolik—tidak dengan begitu mudahnya, masuk agama semu.[15]
Adapun bagi orang-orang kaya, dapat saja melaksanakan perkawinan beda agama ke luar negeri; untuk menghindari sulitnya prosedur dan pelaksanaan perkawinan beda agama di Indonesia ini. Di sisi lain, hingga saat ini perkawinan beda agama tetap menjadi realitas masyarakat yang tak terhindarkan lagi.
Terobosan Hukum tentang Perkawinan Beda Agama
Kasus lain yang terjadi pada pasangan Andy Vonny Gani P. yang beragama Islam dengan Adrianus Petrus Hendrik Nelwan yang beragama Protestan. Mereka mendatangi KUA Tanah Abang Jakarta, mengajukan permohonan agar perkawinan mereka dapat dilangsungkan menurut agama Islam, namun KUA menolak permohonan tersebut karena adanya perbedaan agama. Kemudian keduanya menghadap ke Kantor Catatan Sipil, namun Kantor Catan Sipil juga menolaknya. Oleh karena KUA dan Kantor Catatan Sipil menolak melamgsungkan pernikahan mereka, maka akhirnya mereka mengajukan permohonan ke pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan penetapannya No. 382/Pdt/1986/PN.JKT.PST, tanggal 11 April 1986 menolak permohonan mereka dan menguatkan penolakan KUA dan Kantor Catatn Sipil. Pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah sebagai berikut:
-          menimbang bahwa UU Perkawinan memang tidak mengatur perkawinan antar agama, yang diatur dan dicatat adalah perkawinan dimana pihak-pihak seagama dan dicatat oelh Kantor Pencata NTR  bagi yang beragaqma Islam, serta Kantor Catatan Sipil bagi yang beragama lain selain Islam.
-          Menimbang bahwa dengan demikian penolakan oleh dua instansi Pencatat Nikah sudah tepat dan beralasan, karena perkawinan antar agama dalam UU No. 1 Tahun 1974 memang tidak diatur. Hal tersebut karena memang ajaran agama membenarkan adanya halangan dalam perkawinan bagi calon suami istri yang berbeda agama. Mahkamah Agung berpendapat haruslah dapat ditemukan dan ditentukan hukumnya.
-          Menimbang bahwa menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No. 1 Tahun 1974, Pegawai Pencatat untuk perkawinan menurut agama Islam adalah mereka sebagaimana dimaksud dalam UU No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan NTR, sedangkan bagi mereka yang berlainan agama selain bergama Isalm adalah Pegawai Pencatat Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil.
-          Menimbang bahwa dengan demikian bagi pemohon yang beragama Islam dan yang akan melangsungakan perkawinan dengan seorang laki-laki yang beragama Protestan, tidak mungkin melangsungkan perkawinan di hadapan Pegawai Pencatat NTR.
-          Menimbang bahwa perlu ditemukan jawaban apakah mereka dapat melangsungkan perkawinan di hadapan Pengawai Pencatat Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagi satu-satunya kemungkinan, sebab di luar itu tidak lagi kemungkinan untuk melangsungkan perkawinan.
-          Menimbang bahwa dengan diajukannya permohonan untuk melangsungkan pernikahan kepada Kepala Kantor Catatan Sipil, harus ditafsirkan bahwa permohonan berkehendak untuk melangsungkan perkawinan tidak secara Islam dan dengan demikian haruskan ditafsirkan pula bahwa dengan mengajukan permohonan itu pemohon sudah tidak menghiraukan lagi status agamanya (in casu agama Islam) nsehingga Pasal 8 sub f UU No. 1 Tahun 1974 tidak lagi merupakan halangan untuk dilangsungkannya perkawinan yang mereka kehendaki, dan dalam hal/ keadaan yang demikian seharusnya Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk melangsungkan perkawinan yang kedua calon suami istri tidak beragama Islam, wajib menerima permohonan tersebut.
-          Menimbang bahwa dengan demikian maka penolakan Kantor Catatan Sipil untuk melangsungakn atau membantu melangsungakn perkawinan antara pemohon Andrianus Petrus Hendrik Nehwan tidaklah dapat akan mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon kasasi untuk sebagian.
         
Dengan adanya yurisprudensi ini, maka dapat menjadi pedoman para hakim dalam memeriksa dan mengadili permohonan perkawinan antar agama, sehingga tidak terjadi lagi seperti penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.[16] Dengan demikian, dapat dikatakan juga bahwa perbedaan agama tidaklah menjadi penghalang untuk melangsungkan perkawinan. Dan agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran dari pejabat pelaksanaan perkawinan dan pemimpin agama tentang boleh tidaknya perkawinan beda agama dan bagaimana prosedur pelaksanaanya, maka perlu ada pedoman yang pasti berupa petunjuk pelaksanaan dari intansi-instansi yang berwenang seperti Departemen Agama, Departemen Kehakiman, dan Mahkamah Agung.
Sehubungan dengan perlu adanya petunjuk pelaksanaan tersebut maka Ketua Mahkamah Agung dengan surat No. KMA/ 72/IV/1981 tanggal 20 kepada Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, bahwa:
  1. merupakan suatu kenyataan yang hidup dalam masyarakat Indonesia yang serba majemuk ini yang terdiri dari berbagai macam golongan suku, adalah pemeluk agama dan penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda satu denga yang lainnya.
  2. Adalah suatu kenyataan pula bahwa antar mereka itu, ada yang menjalin suatu hubungan dalam membentuk suatu keluarga yang bahagia dan kekal melalui proses perkawinan, di mana undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan belum mengatur prihal perkawinan campuran.
  3. Meskipun demikian dapar dicatat bahwa Pasal 66 UU Perkawinan memungkinkan S. 1898 No. 158 diberlakukan untuk mereka sepanjang UU Perkawinan belum mengatur perihal perkawinan campuran.
  4. Mahkamah Agung berpendapat serta berpendirian Negara Republik Indonesia mengakui perkawinan yang ada sebagai suatu ‘staatshuwelijk’ maka untuk menghilangkan atua setidak-tidaknya mengurangi adanya perkawinan yang dilakukan secara liar dan/ atau diam-diam, serta untuk menjamin adanya kepastian hukum, kami harapkan dengan hormat, perkenan:
    1. yth. Sdr. Menteri Agama besrta seluruh jajaran yang ada dalam naungannya untuk memberikan bantuan demi kelancaran pelaksanan perkawinan campuran yang dimaksud.
    2. yth. Sdr. Menteri Dalam Negeri, untuk mengusahakan agar para Gubernur/ Bupati/ Wali kota dalam hal ini pegawai pada kantor Catatan Sipil sebagai instansi yang berwenang menyelenggarakan perkawinan campuran termasuk antara penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apabila syarat-syarat perkawinan sudah dipenuhi dengan baik.
  5. Demikian untuk dimaklumi hendaknya, dan atas bantuan serta perkenan Saudara-saudara Menteri yang kami harapkan sudah akan memberi dalam waktu mendatang ini, kami ucapkan terima kasih.

Dari surat Ketua MA tersebut, dapat diketahui bahwa MA menganggap bahawa perkawinan beda agama masih termasuk perkawinan campuran, dan dalam pelaksanaannya harus diterapkan ketentuan dalam GHR, serta MA menyatakan bahwa perkawinan di Indonesia sebagai suatu ‘staatshuwelijk’, berarti suatu perkawinan beda agama yang hanya dilakukan di Kantor Catatan sipil, sudah sah.
Penutup

Dari paparan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perkawinan beda agama setelah berlakunya UU Perkawinan, relatif sulit dilakukan. Dengan  tidak diaturnya secara jelas perkawinan beda agama dalam UU perkawinan, maka terdapat polemic dalam pemahaman dan pelaksanaannya. Berdasarkan Pasal 2 UU Perkawinan, ada yang menyatakan bahwa perkawinan beda agama tidak boleh. Tapi, berdasarkan Pasal 66 UU Perkawinan, maka terdapat ahli hukum yang menyatakan adanya kekosongan hukum, sehingga peraturan GHR dapat diberlakukan. Dengan demikian, maka perkawinan beda agama dapat dilaksanakan dengan pencacatan di Kantor Catatan Sipil.
Terlepas dari polemic tersebut, saat ini realitas masyarakat masih menghendaki berlakunya legalitas perkawinan beda agama. Banyaknya praktik perkawinan beda agama di masyarakat, yang relatif sulit dilaksanakan, menjadi permasalahan hukum yang perlu mendapatkan penyelesaian.









Daftar Pustaka

Alyasa Abu Bakar, Perkawinan Muslim Dengan Non-Muslim: Dalam Peraturan Perundang-undangan, JUrisprudensi dan Praktik Masyarakat, (Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2008)

Djaya S. Melida, Masalah Perkawinan Antar Agamadan Kepercayaan di Indonesia dalam Perspektif Hukum, (Jakarta: Vrana Widya Darma, 1988)

Maria Ulfa Subadio, Perjuangan Untuk Mencapai UU Perkawinan, (Jakarta: Idaya, 1981)

K. Watjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta: Ghalia, 1992)

OS. Eoh, Perkawinan Antar Agama dalam Teori dan Praktik,  (Jakarta: Srigunting, 1996)

Sri Wahyuni, Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama di Kabupaten Gunung Kidul, Hasil Penelitian, tahun 2004

Sri Wahyuni, ‘Perkawinan Beda Agama dalam Perspektif Agama-agama’, dalam Jurnal Essensia, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2005

Sri Wahyuni, Perkawinan Beda Agama…juga dalam Jurnal Madania, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2005

Sution Usman Adji, Kawin Lari dan kawin Antar Agama, (Yogyakarta: Liberty, 1989)





[1] Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalaijaga Yogyakarta
[2] Sri Wahyuni, Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama di Kabupaten Gunung Kidul, Hasil Penelitian, tahun 2004
[3] K. Watjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta: Ghalia, 1992), hlm. 14 - 15
[4] Ibid., hlm. 17
[5] Alyasa Abu Bakar, Perkawinan Muslim Dengan Non-Muslim: Dalam Peraturan Perundang-undangan, JUrisprudensi dan Praktik Masyarakat, (Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2008), hlm. 2
[6] Sri Wahyuni, ‘Perkawinan Beda Agama dalam Perspektif Agama-agama’, dalam Jurnal Essensia, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2005
[7] Ibid. data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan Kepala Bimas Hindu, Departemen Agama Kantor Wilayah DIY dan Pendeta Gede
[8] Ibid.  data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan Bikkhu Sasana Boddhi, di Vihara Gondo Manan.
[9] Djaya S. Melida, Masalah Perkawinan Antar Agamadan Kepercayaan di Indonesia dalam Perspektif Hukum, (Jakarta: Vrana Widya Darma, 1988), hlm. 79.
[10] Maria Ulfa Subadio, Perjuangan Untuk Mencapai UU Perkawinan, (Jakarta: Idaya, 1981), hlm. 23.
[11] Sution Usman Adji, Kawin Lari dan kawin Antar Agama, (Yogyakarta: Liberty, 1989), hlm. 122

[12] Sri Wahyuni, Perkawinan Beda Agama…juga dalam Jurnal Madania, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2005
[13] Ibid.
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] OS. Eoh, Perkawinan Antar Agama dalam Teori dan Praktik,  (Jakarta: Srigunting, 1996), hlm. 178-179.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar