Minggu, 25 April 2010

tulisan untuk sekolah feminis

Gerakan Perempuan Berbasis Agama
Oleh: Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum.

Gerakan Perempuan Melawan Diskriminasi
Gerakan perempuan, yang sering disebut dengan feminisme, merupakan sebuah paham dan atau gerakan yang menganggapa danya diskriminasi terhadap perempuan, sehingga harus diperjuangkan. Gerakan feminisme beragam; dari feminisme liberal yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk sama dengan laki-laki; feminisme radikal yang memperjuangkan perempuan, dengan melandaskan pada hal-hal yang paling radikan, misalnya, perempuan lemah karena ia harus mengadung dan melahirkan; feminisme sosialis/ marxis yang sering menganalisis permasalahan perempuan dari segi ekonomi; dan sebagainya…, juga feminisme yang berbasis pada agama.
Gerakan feminisme sebagai ‘a snow balling issue’ bergulir dari Barat ke seluruh penjuru dunia. Walaupun masih banyak nuansa orang-orang yang alergi dengan feminisme, namun dapat diakui kini isu dan gerakan ini telah masuk ke semua lini kehidupan, termasuk keagamaan (terutama Islam, agama kita). Para pemikir muslim sudah banyak yang berpikir tentang feminisme dan bahkan menggunakan analisisnya untuk melakukan kajian terhadap teks-teks keagamaan. Mereka ini dapat disebut sebagai feminis muslim. Mereka belum tentu perempuan. Kaum laki-laki juga banyak yang menjadi feminis ini. Mereka memperjuangkan hak-hak perempuan, dengan melakukan pembacaan kembali terhadap pemahaman keagamaan yang dianggap diskriminatif terhadap perempuan dan bias gender.
Analisis gender, juga sering dilakukan oleh para feminis muslim ini dalam kajian teks keagamaan tersebut. Gender sebagai ‘kelamin sosial’ yaitu sifat-sifat yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan, karena bentukan sosio-cultural. Misalnya perempuan lemah, manja, cengeng, emosional dan sebagainya. Sedangkan laki-laki disifati dengan kuat, tegar, pemberani, mandiri, melindungi dan sebagainya. Begitu juga tentang peran adalam amsyarakat dan keluarga, seperti laki-laki bertanggung-jawab, perempuan yang ditanggung oleh laki-laki; laki-laki menafkahi dan perempuan dinafkahi; laki-laki bekerja secara professional, sedangkan perempuan bekerja di rumah (domestic). Sifat dan peran ini, berdasarkan analisis gender, tidak bersifat mutlak, namun dapat berubah dan dapat dipertukarkan berdasarkan sosio-cultural masyarakatnya. Analisis aini yang sedang mewarnai pemahaman keagamaan yang dikembangkan oleh para feminis muslim.

Peran Pemahaman Keagamaan dalam Diskriminasi terhadap Perempuan

Diskriminasi terhadap perempuan, banyak yang ditimbulkan dari sisi cultural. Kultur yang memposisikan perempuan berbeda dan cenderung lebih rendah dari laki-laki, yang tersosialisakan sejak kecil, membentuk persepsi laki-laki dan perempuan anggota masyarakat cenderung meng-amini bahwa perempuan tidak sepadan dengan laki-laki. Culture ini terbentuk dari nilai-nilai yang mengkristal dalam masyarakat, yang ter-internalisasi dan eksternalisasi/ sosialisasi pada masing-masing individu, sehingga menjadi sebuiah common sense.
Nilai ini dapat berasal dari apa saja, seperti kepercayaan, tradisi, bahkan ajaran agama. Di sinilah ajaran agama memiliki andil dalam pembentukan bias gender dan diskriminasi antara laki-laki dna perempuan ini. Sebelumnya perlu dibedakan antara ‘agama dan pemahaman keagamaan/ ad-din wa al-fikrah ad-diniyyah’. Agama bersifat asasi, seperti akidah dan kepercayaan kepada Tuhan. Sementara ajaran detail tentang hokum dan aturan rinci merupakan wilayah fiqh. Al-fiqh adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti al-fahmu, yaitu pemahaman. Sehingga, fiqh merupakan produk fuqaha atau ulama pada masanya; yang tentunya berdasarkan pengalaman dan pengamatan kondisi masyarakat pada saat itu.
Pemahaman keagamaan yang sampai kepada masyarakat saat inilah, yang masih cenderung bias gender dan diskriminatif terhadap perempuan. Misalnya paham masyarakat bahwa laki menjadi pemimin bagi perempuan; perempuan tidak boleh jadi pemimpin; istri harus selalu sedia melayani suaminya; perempuan tidak cakap hokum; perempuan setengah dari laki-laki dalam hal kewarisan dan persaksian dan sebagainya….
Pemahaman keagamaan yang sampai kepada masyarakat ini dijadikan pedoman dan keyakinan, sehingga kebenarannya dianggap mutlak. Sehingga perempuan yang tidak sesuai dengan pemahaman tersebut diangap aneh dan membangkang terhadap ajaran agama. Istri yang tidak mengikuti suaminya dianggap durhaka, nusuz dan sebagainya.
Gerakan Reinterpretasi dari Para Feminis Muslim
Bentuk perjuangan para feminis muslim ini diantaranya adalah melakukan kajian ulang terhadap nash/ teks keagamaan yang dianggap bias gender dan diskriminatif terhadap perempuan. Dengan metode penafsiran modern, mereka melakukan kajian tersebut dna mereinterpretasi terhadap teks-teks keagaam tersebut. Metode penafsiran kontekstual, begitulah orang sering menyebutnya.
Metode penafsiran modern yang sering dipakai saat ini diantaranya adalah metode penafsiran double movement yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman. la merumuskan dua langkah dalam menafsirkan Al-Qur'an, yaitu pertama, memahami arti dan makna dari suatu pernyataan dengan mengakaji situasi historis dimana pernyataan A1 Qur'an itu turun, baik situasi spesifik maupun situasi makro dalam masyarakat, kedua, mengeneralisasi jawaban-jawaban spesifik sebagai pernyatan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum...lihat Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Sebuah Transfornrasi Intelektraal, alih Bahasa Ahsin Muhammad, Cet 2, (Bandung: Pustaka, 1995), hlm. 7
Metode lain adalah pembalikan naskh yang dikemukakn oleh Mahmoud Thaha. la membangi ayat A1 qur'an menjadi ayat-ayat Makkah yang mengandung nilai-nilai universal (the second massage) dan ayat-ayat Madinah berupa hukum-hukum Islam praktis (the first massage). Dalam konsep pemalikan Nasakh-nya, ayat-ayat Makkah menasakh ayat-ayat Madinah. Lihat, Mahmoud Muhammed Taha, The Second Massage of Islam (Ar-Risalah Tsaniyah min al-Islam), alih Bahasa Abdullahi Ahmed An-Naim, (Syracuse: Syracuse University Press, 1985)
Metode hudud/ teori limit yang dikemukakan oleh Muhammad Syahrur juga sering digunakan. Syahrur merumuskan metode penafsiran nash dengan menggunakan teori-teori matematika (grafik fungsi). Dia membagi hudud/ limit menjadi 1) Al-had al- adna yaitu limit atau batas terendah, contohnya ayat tentang larangan perkawinan (An-Nisa' 23), 2} AI-had Al-a'la, dengan contoh ayat potong tangan bagi pencuri (AI-Maidah 38), 3}AI-had al-adna wa al-had al a'la ma'an dengan contoh ayat waris bagi anak laki-laki dan perempuan (An-Nisa' 11, 12, i3), dimana bagian dua adalah batas tertinggi untuk bagian anak laki-laki dan satu adalah batas terendah untuk bagian anak perempuan, 4} AI-had al-a'la wa al had at-adna bertemu di satu titik, dengan contoh ayat tentanghukuman jilid/ cambuk bagi pezina (An-Nur 2), 5) Al-had al-a'la menjadi garis ynag tegak lurus, dengan contoh ayat tentang larangan untuk mendekati zina (AI-Isra' 32) dan perbuatan yang keji (Al-An'am 151), dan 6} Al-had al-a'la melengkung tidak dapat melebihi suatu titik, sedangkan al-had al-adna dapat menyentuh garis, dengan contoh riba dan shadaqah, dimana riba tidan boleh dan digambarkan dengan batas tertinggi sedangkan shadaqah dianjurkan dan digambarkan dengan batas terendah. Muhammad Syahrur, AI-Kitab wa Al-Qur'an, (Damakus: Dar alAhali, 1992), hlm.543 – 464.
Adapun diantara ayat-ayat yang sering dilakukan kajian ulang adalah:
1. ayat waris; bagian waris perempuan setengah dari laki-laki;
2. ayat tentang persaksian; dua orang perempuan sama dengan satu orang laki-laki
3. ayat poligami; laki-laki bisa beristri sampai dengan empat
4. ayat bahwa laki-laki adalah pemimpi bagi perempuan, dan ayat nusuz
5. hadis bahwa jika urusan diserahkan kepada perempuan maka tunggu saja kehancurannya.
6. hadis tentang perempuan yang menolak suaminya, maka malaikat akan melaksantnya sampai pagi; dan perempuan harus melayani suami walaupun di atas punggung onta
7. dan sebagainya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar