Rabu, 21 Oktober 2009

hasil penelitian

ISLAM KAMPUS DI UNIVERSITAS NEGERI JEMBER (UNEJ)
Oleh: Sri wahyuni, M.Ag.,M.Hum.

A. GAMBARAN UMUM UNIVERSITAS JEMBER
1. SEJARAH UNIVERSITAS JEMBER
Universitas Jember berasal dari Universitas Swasta bernama Universitas Tawang Alun yang didirikan pada tanggal 04 November 1957. Universitas Tawang Alun dikelola oleh Yayasan Tawang Alun yang dibentuk pada tanggal 05 Oktober 1957 oleh dr. Achmad R., Th. Soengadi dan M. Soerahman (Pamong Praja) yang didukung oleh R. Soedjarwo (Bupati KDH Tk. II Jember).
Tanggal 05 Januari 1963 dengan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 1 Tahun 1963 Universitas Brawijaya diakui sebagai universitas Negeri dan Universitas Tawang Alun diakui sebagai cabang Universitas Brawijaya berlokasi di Jember yang terdiri dari 5 (lima) fakultas yaitu Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat; Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Pendidikan; Fakultas Sosial dan Politik, Fakultas Kedokteran. Dengan keputusan Presiden RI Nomor 196 Tahun 1963, Fakultas Ilmu Pendidikan Cabang Universitas Brawijaya di Jember diintegrasikan ke dalam Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan (IKIP) Malang menjadi IKIP Malang Cabang Jember. Pada tahun ajaran 1963/1964 didirikan 2 fakultas yaitu Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi di Banyuwangi di bawah binaan Universitas Brawijaya Cabang Jember.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 151 tahun 1964 tanggal 09 November 1964, Universitas Brawijaya Cabang Jember dinyatakan berdiri sendiri dengan status negeri, menjadi Universitas Negeri Jember terdiri dari Fakultas Hukum di Jember dengan cabangnya di Banyuwangi; Fakultas Sastra di Banyuwangi. Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Negeri Jember No. 583/AU/22/1965 tanggal 31 Desember 1965, Fakultas Ekonomi dan Sastra di Banyuwangi dipindahkan ke Jember. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi no. 161 tahun 1967, mulai 01 januari 1968 IKIP Malang Cabang Jember diintegrasikan ke Universitas Jember, sehingga sejak saaat itu, Universitas Negeri Jember memiliki 6 Fakultas, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Sosial dan Politik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 61 tahun 1982 sebutan Universitas Negeri Jember menjadi Universitas Jember.
Selanjutnya, Universitas Jember yang terdiri dari 6 Fakultas berkembang menjadi 9 Fakultas, Program Studi Kedokteran, dan Program Pascasarjana, Program D3 Tehnik, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Program Studi Farmasi dan Program studi S0 di bawah Fakultas; yaitu:[1]
- Fakultas Hukum, terdiri dari 1 Program Studi S1
- Fakultas Ilmu Sosial dan Politik terdiri dari 5 Program Studi S1, 1 Program Studi Ekstensi S1, 1 Program Karya Siswa dan 1 Program Studi D3.
- Fakultas Pertanian terdiri dari 4 Program Studi S1
- Fakultas Ekonomi terdiri dari 3 Program Studi S1, 2 Program Studi Ekstensi S1, 4 Program Studi D3
- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, terdiri dari 8 Program Studi S1, 1 Program Studi D2, 1 Program Penyetaraan S1, 1 Program Akta Mengajar IV.
- Fakultas Sastra terdiri dari 3 Program Studi S1 dan 1 Program Studi D3
- Fakultas Teknologi Pertanian, terdiri dari 2 Program Studi S1
- Fakultas Kedokteran Gigi terdiri dari 1 Program Studi S1
- Fakultas MIPA terdiri dari 4 Program Studi S1
- Program Studi Pendidikan Dokter terdiri dari 1 Program Studi S1
- Program Studi Kesehatan Masyarakat terdiri dari 1 Program Studi S1
- Program Studi Tehnik terdiri dari 3 Program Studi S1 dan 3 Program Studi S0
- Program Pascasarjana terdiri dari 4 Program Studi S2
- Program Studi Farmasi terdiri dari 1 Program Studi S1

Dalam perkembangannya, pada saat penelitian ini dilaksanakan (tahun 2007), beberapa Program studi tersebut telah meningkat statusnya menjadi Fakultas, hanya tinggal satu yang masih tetap sebagai Program studi yaitu PSKM (Program Studi Kesehatan Masyarakat).
Visi UNEJ adalah Universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mandiri, berkualitas, berwawasan lingkungan, dan berkemampuan mengembangkan ilmu, pengetahuan, dan teknologi terutama kearah berkembangnya agroindustri. Adapun misinya adalah:[2]
- Meningkatkan dan mengembangkan pendidikan akademik, professional, penelitian, pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas secara berkelanjutan, bagi kepentigan kemanusiaan.
- Meningkatkan kualitas dan mengembangkan sistem manajemen kelembagaan
- Membina dan mengembangkan jaringan kerjasama dengan lembaga lain di dalam dan luar negeri

Tujuan UNEJ adalah:[3]

- Menghasilkan lulusan yang berkualitas
- Memperluas peran dan daya tampung
- Menghasilkan karya ilmiah dan teknologi yang berkualitas
- Membina dan mengembangkan kehidupan masyarakat akademik,
- Meningkatkan kinerja professional, dan
- Memupuk dan menjalin jaringan kerjasama

B. SEJARAH PERKEMBANGAN POLITIK KEPEMIMPINAN DI UNEJ

Sebagaimana terpapar di atas bahwa Universitas Jember (UNEJ), dahulu dikelola oleh Yayasan Tawang Alun yang didirikan oleh dr. Achmad R. Th. Soengadi dan M. Soerahman yang didukung oleh R. Soedjarwo (Bupati Jember). Sampai saat ini keempat orang tersebut dikenal sebagai empat tokoh pendiri UNEJ. Menurut beberapa nara sumber, para tokoh pendiri UNEJ tersebut adalah kader PNI –dalam bahasa mereka disebut sebagai orang merah.
Mengapa orang-orang merah yang memegang kepemimpinan Universitas? Menurut KH. Muchit Muzadi (kakak KH. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU), seorang tokoh sepuh NU di Jember yang juga menjadi anggota Dewan Penyantun UNEJ, menyatakan bahwa dahulu memang orang-orang nasionalis sekuler yang bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Sementara para santri tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga, pada periode awal perguruan Tinggi di UNEJ ini juga dikelola oleh para kader nasionalis sekuler. Merekalah yang menaruh perhatian terhadap pendidikan tinggi sebelum para santri memperhatikannya. Santri masuk perguruan tinggi baru tahun 1960an. Adapun santri pertama yang menjadi sarjana, menurut KH. Muchit Muzadi, adalah KH. Shodiq Mahmud, SH.[4] Namun menurut Drs. Humaidi Radi, seorang dosen FISIP, alumni HMI, menyatakan bahwa tahun 1959 HMI Fakultas Hukum telah ada, yang dipelopori oleh Bapak Halim SH, yang menjadi dosen Fakultas Hukum UNEJ. Tokoh HMI ini berasal dari kalangan anak NU, dan memang saat itu anak-anak NU masuk dalam organisasi HMI. Baru setelah berdiri PMII, maka anak-anak NU berafiliasi ke organisasi PMII ini. Sehingga, dapat dikatakan bahwa dalam sejarah perkembangan UNEJ, generasi pertama adalah generasi nasionalis yaitu GMNI, gerenasi kedua adalah HMI dan generasi ketiga adalah PMII.
Selanjutnya dr. Achmad dikenal sebagai Rektor pertama UNEJ yang periode kepemimpinannya sampai tahun 1966. Setelah periode kepemimpinan Rektor pertama ini, UNEJ dipimpin oleh beberapa Rektor dari militer, selama kurang lebih 20 tahun, yaitu tahun 1966 hingga tahun 1986. Mereka adalah Letnan Kolonel R. Winoto tahun 1966-1967, Letnan Kolonel Soedi Hardjohoedojo tahun 1967 sampai tahun 1969, Letnan Kolonel Soetarjo, SH. tahun 1969 sampai tahun 1978, dan Kolonel Drs. H. Warsito tahun 1978 sampai tahun 1986.
Kepemimpinan militer tersebut menurut peneliti merupakan suatu yang unik, karena asumsi bahwa selama ini diyakini bahwa Perguruan Tinggi merupakan komunitas intelektual, yang biasanya dikelola juga oleh tokoh-tokoh intelektual dan akademisi. Tentang hal ini, terdapat beberapa komentar, diantaranya ada nara sumber yang menyatakan bahwa pada masa dwi fungsi ABRI, kepemimpinan militer merupakan suatu yang jamak. Mulai dari daerah Kecamatan, Kabupaten Gubernur dan Presiden, adalah militer. Sehingga Perguruan Tinggi pun juga dipimpin oleh militer. Namun, terdapat beberapa nara sumber yang menyatakan bahwa kepemimpinan militer di UNEJ terjadi karena UNEJ selalu bergolak. Dari masa awal perkembangannya di perguruan tinggi ini senantiasa terjadi pergolakan dan peristiwa-peristiwa politik yang sengit, sehingga kepemimpinan UNEJ di-hendle oleh militer. Hal ini bertujuan untuk mengurangi pergolakan di UNEJ atau bahkan agar tidak terjadi pergolakan seperti yang telah terjadi sebelumnya.
Pada masa awal perkembangan UNEJ ketika masih disebut sebagai Universitas Brawijaya Cabang Jember, tepatnya pada masa-masa menjelang G 30 S PKI, sekitar tahun 1962-1964, terjadi sebuah peristiwa yang dikenal dengan peristiwa Utrecht. Utrecht adalah seorang pakar Hukum yang buku-bukunya masih menjadi literatur di beberapa Fakultas Hukum di Perguruan Tinggi hingga saat ini. Utrecht adalah seorang warga negara Indonesia keturunan Belanda dan Ambon. Dia adalah pakar hukum di UNEJ –pamannya Bob Tutupoli, seorang penyanyi terkenal tempo dulu, yang juga pernah kuliah di Fakultas Hukum UNEJ. Tahun 1962an, saat itu Utrecht menjabat sebagai sekretaris Dekan Fakultas Hukum UNEJ – saat itu belum ada Pembantu Dekan. Sebagai Sekretaris Dekan Fakultas Hukum, dia berkuasa untuk mengkoordinasi seluruh elemen kemahasiswaan di Fakultas Hukum. Maka, dia membubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Fakultas Hukum, yang saat itu masih bisa eksis di dalam kehidupan kampus –karena sebelum peraturan NKK/BKK semua organisasi yang sekarang dikenal sebagai organisasi ekstra kampus bisa eksis di dalam kampus.
Utrecht, saat itu dikenal sebagai pembimbing GMNI di UNEJ. Hingga saat ini, para kader GMNI mengenang jasa-jasanya, sebagaimana dikatakan oleh Kasim Sembiring SH, seorang Dosen UPTBSMKU untuk matakuliah Pancasila dan Kewarganegaraan yang bersuku Batak, bahwa Utrecht sangat berjasa, dan perginya Utrecht dari UNEJ, telah menutup hubungan antara UNEJ dengan perguruan-perguruan tinggi di Belanda, jika ada Utrecht maka kerjasama UNEJ dengan Perguruan Tinggi di Belanda bisa terjalin dengan lancar.
Di samping sebagai pembimbing GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia) di UNEJ, menurut Drs. Humaidi Radi, seorang dosen FISIP UNEJ yang saat itu telah mengalami peristiwa Utrecht, mengatakan bahwa di Situbondo Utrecht juga menjadi pembimbing CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang diklaim sebagai anak mahasiswanya PKI. Menurutnya, Utrecht juga seorang koordinator Komunis Internasional. Sebagai dosen dan Sekretaris Dekan Fakultas Hukum, Utrecht selalu menjelek-jelekkan umat Islam dan organisasi Islam. Menurut Drs. Turki, mantan Dekan FISIP UNEJ, yang juga telah mengalami peristiwa Utrecht, dia juga berusaha mengadu-domba organisasi mahasiswa Islam saat itu. Misalnya dengan menjelek-jelekkan HMI dan memuji-muji PMII di hadapan para kader PMII atau sebaliknya. Utrecht juga mengkampanyekan ‘ganyang kontra revolusi’ kepada para mahasiswa dan civitas akademika UNEJ saat itu.
Setelah Utrecht membubarkan HMI Komisariat Fakultas Hukum, maka para kader HMI menyebar ke beberapa organisasi mahasiswa Islam lainnya, --seperti Drs. Turki yang saat itu anggota HMI, masuk ke PMII dan membesarkan PMII-- sehingga pembubaran HMI ini meraih simpati banyak kalangan organisasi mahasiswa Islam lainnya, dan organisasi masyarakat Islam seperti NU dan Muhammadiyah, bahkan organisasi mahasiswa keagamaan lain seperti PEMKRI dan GMKI. Akhirnya, muncul solidaritas bersama antara seluruh umat Islam di Jember, dan terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh umat Islam Jember untuk menentang Utrecht.
Peristiwa Utrecht ini menjadi suatu peristiwa nasional, yang juga ditanggapi oleh Presiden Soekarno saat itu. Sehingga, Depatemen Ilmu Pengetahuan dan Perguruan Tinggi mengeluarkan keputusan, yang diantaranya adalah mengusir Utrecht dari UNEJ; dan memindahkan beberapa Dosen alumni HMI di FKIP ke Perguruan Tinggi lain, yaitu Drs. Darpo ke IKIP Surabaya dan Drs. Amir Hamzah ke IKIP Malang; dan anggota HMI Komisariat Fakultas Hukum UNEJ, dipindahkan ke fakultas lain di UNEJ atau boleh pindah ke Fakultas Hukum di Perguruan Tinggi lain.
Peristiwa Utrecht ini, menurut Drs. Humaidi Radi yang pernah ditangkap pihak kepolisian untuk diinterogasi sehari menjelang saat demonstrasi besar-besaran umat Islam Jember untuk menentang Utrecht tersebut, menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan ‘teskes’ kekuatan NU. Karena Jember dan daerah tapal kuda (Lumajang, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso dan Banyuwangi) adalah basis NU yang relatif besar dan sangat diperhitungkan. Karena saat itu berlaku ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) yang dirumuskan oleh Presiden Soekarno, sebagai konsep untuk mempersatukan orang-orang Nasionalis, orang-orang Islam dan orang-orang Komunis. Saat itu, kelompok Nasionalis diwakili oleh PNI (Partai Nasionalis Indonesia), sedangkan golongan Islam terdawahi dalam NU sebagai sebuah partai Islam yang besar, dan golongan komunis terwadahi dalam PKI (Partai Komunis Indonesia). Dengan peristiwa tersebut, menunjukkan bahwa NU sebagai salah satu kekuatan Islam masih sangat kuat.
Saat itu pula, kelompok PKI telah menyusun rencana pembunuhan umat Islam secara masal. Mereka mendaftar para tokoh Islam yang akan dibunuh. Mereka menyediakan lubang-lubang untuk mengubur hidup-hidup para tokoh Islam. Mereka menyerukan dendang lagu ‘genjer-genjer…’ sebagai tanda untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Hingga kemudian tahun 1965-1966 terbentuk organisasi KAMI/KAPI dan terjadi konsulidasi nasional sehingga muncul Tritura (Tri Tuntutan Rakyat, yang salah satu isinya adalah tuntutan pembubaran PKI).
Selain peristiwa Utrecht, pergolakan terjadi kembali di era 1970-an, pada saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat oleh Daud Yusuf. Beberapa gejolak yang terjadi diantaranya demonstrasi tentang pelarangan jilbab, peristiwa Malari, kemudian penentangan NKK/NKK.
Pada peristiwa NKK/BKK ini, terjadi pencekalan para aktivis mahasiswa di UNEJ. Saat itu, para aktivis mahasiswa adalah para aktivis organisasi mahasiwa, yang sekarang dianggap organisasi ekstra kampus. Para aktivis mahasiswa akan dikenai DO. Namun kemudian, terutama di FISIP, para aktivis mahasiswa tersebut tidak di-Do melainkan diskors satu tahun.
Pergolakan-pergolakan di UNEJ tersebutlah yang menurut beberapa nara sumber, menyebabkan UNEJ di pimpin oleh militer selama 20 tahun. Hingga tahun 1986 dilaksanakan pemilihan Rektor pertama, yaitu dengan terpilihnya Prof. Dr. H. Simanhadi Widyaprakosa yang menjabat tahun 1986 sampai tahun 1995 (selama dua periode); kemudian digantikan oleh Prof. Dr. H. Kabul santoso, MS., tahun 1995 sampai tahun 2003 (selama dua periode); dan saat ini dipimpin oleh Ir. Trcisius Sutikto, M.Si., yang menjabat tahun 2003 sampai 2007 untuk periode pertama dan 2007 sampai 2011 untuk periode kedua.
Jadi saat penelitian ini dilakukan, UNEJ di bawah kepemimpinan Pak Tikto –begitu panggilan akrabnya—untuk periode kedua. Pemilihan Rektor ini baru saja dilaksanakan. Menurut beberapa nara sumber, pemilihan Rektor periode pertama pak Tikto dahulu menuai protes dari kalangan organisasi Islam, bahkan isu sara dimunculkan untuk menentang Rektor non-muslim. Namun, pada periode kedua yaitu pemilihan Rektor tahun 2007, Pak Tikto menang telak.
Menurut beberapa nara sumber, hingga saat ini jajaran pejabat UNEJ dari jurusan, dekan hingga Rektor adalah kader GMNI –orang-orang merah menurut sebutan mereka. Namun, GMNI biasanya berkoalisi dengan kelomopok kader HMI atau PMII yang menurut mereka lebih menguntungkan. Pada pemilihan periode kedua ini, GMNI berkoalisi dengan PMII, dengan mengangkat Drs. H. Marwoto, M.Si. sebagai Pembantu Rektor III UNEJ. Bapak Marwoto adalah seorang da’i, tokoh NU yang sangat diperhitungkan. Dia juga menantu dari Kiyai besar di Jember. Sehingga, dipasangnya nama Pak Marwoto di jajaran Pembantu Rektor ini, akan menambah kekuatan jajaran pejabat UNEJ. Karena mayoritas masyarakat Jember adalah Nahdiyyin. Sehingga, kekuatan NU yang besar di Jember harus diperhitungkan.
Kekuatan NU ini terbukti pada waktu pemilihan dekan Fakultas Sastra, saat pak Marwoto menjadi calonnya. Saat itu, kedudukan draw antara pak Marwoto dan calon lain dari GMNI. Namun, masyarakat NU Jember melakukan unjuk rasa untuk mendukung naiknya pak marwoto menjadi Dekan Fakultas Sastra UNEJ.
Koalisi antara para kader GMNI dan PMII tersebut, sebenarnya juga menuai banyak protes di beberapa kalangan dosen dan mahasiswa muslim yang idealis, yang tidak mau memilih pemimpin dari non-muslim. Bahkan, isu politik uang juga bergulir, dalam rangka pemilihan Rektor tersebut. Mereka menyatakan bahwa terpilihnya Rektor non-muslim tersebut karena membeli suara para anggota Senat Universitas. Sehingga, masih juga terdapat riak demonstrasi yang menentang politik uang dan Rektor non-muslim di kalangan aktivis muslim, pada saat terpilihnya Pak Tikto periode kedua ini.
Memang unik, UNEJ yang berada di kota Jember, daerah yang mayoritas masyarakatnya muslim NU, dipimpin oleh seorang Rektor yang non-muslim, dan mayoritas pejabatnya adalah orang-orang merah (kader GMNI). Hal ini tidak terlepas dari perkembangannya dalam sejarah awal berdirinya UNEJ hingga saat ini, yang masih didominasi oleh kelompok merah. HMI sebagai generasi kedua, telah banyak memiliki kader di jajaran dosen di berbagai fakultas di lingkungan UNEJ. Namun, untuk mengambil posisi pejabat kampus, masih sulit bagi mereka, sehingga banyak kadernya yang memilih sekolah ke luar negeri dan meningkatkan kualitas akademiknya. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Drs. Humaidi Radi, juga Drs. Khairus Sholihin, dosen Fakultas Sastra UNEJ, alumni HMI.
Di fakultas tertentu, kekuatan kelompok hijau –bahasa mereka untuk orang-orang Islam—relatif besar, misalnya di FISIP. Di fakultas ini dosen dari kader PMII juga banyak. Sehingga, kepemimpinan fakultas, seringnya berdaur antara kader PMII dan kader HMI. Namun, di fakultas tertentu sangat tajam didominasi oleh kelompok merah, seperti Fakultas Hukum. Konon, menurut beberapa nara sumber, di Fakultas ini sangat tajam pertentangan antara kelompok merah dan hijau. Sehingga, mahasiswa sering menjadi korban. Misalnya, mahasiswa GMNI akan mendapatkan nilai yang baik dari dosen alumni GMNI, atau mahasiwa HMI akan mendapat nilai yang baik dari dosen alumni HMI, dan sebaliknya.
Sementara kelompok PMII sebagai generasi ketiga, saat ini menjadi organisasi ekstra kampus yang beranggota mayoritas di UNEJ. Saat ini, banyak santri yang telah bersekolah, dan semua kalangan masyarakat telah bisa mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Kaum santri dan anak-anak NU saat ini, mesti masuk dalam organisasi PMII ini. Demikianlah perkembangan politik aliran dalam mewarnai pola kepemimpinan di UNEJ.
B. MASJID KAMPUS
1. Gambaran Umum Masjid Kampus UNEJ
Masjid kampus UNEJ adalah masjid al-Hikmah. Masjid ini terletak di bagian depan lingkungan kampus UNEJ. Jika kita masuk ke lingkungan kampus UNEJ dari bagian depan, akan melalui gerbang UNEJ yang disebut orang-orang sebagai daerah ‘doube w’. Masuk menyusuri jalan depan dari gerbang ke gedung pusat UNEJ, berturut-turut kita akan melihat di sebelah kiri jalan adalah sekretariat MENWA, Pos Satpam, kemudian akan nampak menara masjid di balik pepohonan.
Masijd yang terletak di bagian depan lingkungan kampus ini sangat strategis, karena semua civitas akademika UNEJ akan melewatinya ketika keluar ataupun masuk kampus, sehingga banyak yang mampir untuk menunaikan ibadah atau shalat di masjid al-Hikmah tersebut. Di samping itu, karena letaknya di bagian depan dan mudah terjangkau, maka masyarakat sekitar kampus juga banyak yang ke masjid tersebut untuk melaksanakan shalat Jum’at ataupun shalat terawih pada bulan Ramadhan.
Masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini dibangun pada tahun 1972. Saat itu UNEJ dipimpin oleh Rektor Letnan Kolonel Soetarjo, SH., yaitu Rektor keempat yang menjabat sejak tahun 1969 hingga tahun 1978.
Bangunan masjid kampus UNEJ al-Hikmah terletak di atas tanah seluas kira-kira 500 meter2. Bagian depan terdapat ruangan untuk sekretariat UKMKI-LDK UNEJ di sebelah kanan, dan di samping kanan adalah ruangan takmir masjid UNEJ. Ruangan masjid yang luas, terbagi menjadi dua bagian, sebelah kakan untuk jamaah laki-laki dan sebelahb kiri agak belakang untuk jamaah perempuan, dengan menggunakan sekat kain setinggi satu meter. Serambi kanan untuk jamaah laki-laki dan serambi kiri untuk jamaah perempuan. Di bagian belakang masjid, berderet dari paling kiri terdapat tempat wudlu putri, dan paling kanan adalah tempat wudlu putra. Di antara kedua tempat wudlu tersebut, ditengah terdapat tiga kamar. Dua kamar dari sebelah kiri adalah kamar para mahasiswa pengurus takmir masjid al-Hikmah, sedangkan satu kamar lagi yang disebelah kiri tempat wudlu putra adalah koperasi masjid al-Hikmah.
Di dalam sekretariat takmir masjid al-Hikmah ini terdapat lemari yang berisi buku-buku keislaman. Inilah perpustakaan masjid al-Hikmah. Perpustakaan ini meminjamkan buku-buku persediaannya, untuk dibaca di tempat, tetapi tidak boleh di bawa pulang. Maka setiap hari, terdapat anggota takmir atau LDK UNEJ yang piket untuk menjaga sekterarit takmir dan perpustakaan, untuk melayani peminjaman buku-buku perpustakaan.

2. Struktur Kepengurusan

Kepengurusan masjid kampus UNEJ al-Hikmah terbagi menjadi dua yaitu pertama, takmir masjid yang mengurusi infrastruktur masjid, seperti kebersihan dan peralatan persiapan shalat; serta kedua, UKMKI-LDK UNEJ yang mengurus kegiatan-kegiatan kerohaniahan Islam di masjid kampus al-Hikmah.

a. Takmir Masjid

Takmir masjid kampus UNEJ al-Hikmah, diangkat dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Pembantu Rektor II UNEJ. Surat Keputusan ini diperbaharui setiap tahunnya. Namun, satu hal unik bahwa Ketua Takmir dari awal dibangunnya masjid yaitu tahun 1972 hingga 2007 ini, tetap dijabat oleh orang yang sama, yaitu Bapak Drs. H. Muhammad Syafi’i Nur. Dia adalah dosen FKIP jurusan Ekonomi, yang juga seorang da’i di kota Jember dan sekitarnya. Dia sudah pensiun sejak tahun 2006 yang lalu, tetapi tahun 2007 ini masih saja diangkat kembali menjadi takmir masjid kampus al-Hikmah.
Menurutnya, hal tersebut di atas disebabkan oleh karena masjid kampus sejak berdirinya dan hingga saat ini menjadi perebutan berbagai kelompok organisasi Islam ataupun firqoh-firqoh Islam. Pada awal pendiriannya, masjid kampus menjadi ajang perebutan pengaruh antara kelompok NU dan Muhammadiyah. Maka diangkatlah Drs. H. Muhammad Syafi’i Nur, seorang yang mengaku dan diangap ‘MuhammadiNU’. Memang dia berasal dari keluarga Muhammadiyah dan NU. Bapaknya adalah seorang kiyai besar di Madura, sedangkan ibunya adalah aktivis dan Ketua Aisyiyah pada masanya. Sehingga, dia tetap dekat dengan kedua ormas Islam tersebut, tanpa berafiliasi dengan keduanya. Dia kenal baik dengan para tokoh kedua ormas Islam tersebut, bahkan diantaranya adalah saudara-saudaranya. Sehingga menurutnya, pihak rektorat percaya kepada beliau bahwa dengan kepemimpinan takmir di tangannya, maka perebutan antara kelompok NU dan Muhammadiyah dapat diminimalisir atau bahkan dapat diatasi.
Selain kedua ormas tersebut, banyak pula organisasi dan jamaah atau firqoh Islam yang ingin memanfaatkan masjid untuk kegiatan-kegiatannya, dan ‘menyebarkan pengaruhnya’. Bahkan, tidak jarang mereka menggunakan kekerasan untuk meminta izin. Bapak Syafi’i menceritakan bahwa pernah beberapa kelompok minta izin untuk menggunakan masjid al-Hikmah dan memaksa dengan membawa ‘golok’. Namun, dengan sosoknya sebagai seorang Madura yang berkarakter keras dan tegas, akhirnya maslaha-masalah seperti ini dapai teratasi.
Anggota takmir yang diangkat oleh Pembantu Rektor III adalah Drs. H. Ihwan Aziz, M.Hum, dosen Fakultas Hukum; dan Drs. H. Bawi Fathoni, dosen Agama dan Ketua UPTBSMKU UNEJ. Bapak Ihwan Aziz adalah dosen dari kelompok Muhammadiyah, dan bapak Bawi Fathoni dari kelompok NU. Sehingga, kedua kelompok ini mendapat kesempatan yang sama untuk berperan di masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini. Bahkan, para imam dan khotib shalat Jum’at pun, digilir antara para tokoh NU dan Muhammadiyah.
Selain takmir dari para dosen yang diangkat oleh Pembantu Rektor III UNEJ ini, terdapat beberapa personil takmir operasional yang berasal dari mahasiswa UNEJ. Mereka inilah yang sehari-hari bertugas dalam rangka mempesiapkan infrastruktur masjid, seperti kebersihan, persiapan shalat, adzan dan iqamah, mengurus infa’ setiap shalat jum’at, menerbitakn bulletin jum’at dan sebaginya. Mereka ini adalah Mustakim, mahasiswa FKIP matematika semester 9; Ahmad Waqi’, mahasiswa FKIP Matematika semester 9; Ihsan, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat semester 9; dan Muhammad Haryanto, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat semester 3.
Satu hal yang unik yang jarang ada di masjid lain, bahwa di masjid kampus al-Hikmah ini terdapat takmirah atau takmir putri. Ketika ditanyakan tentang mengapa ada takmir putri, menurut mereka, jikalau tidak ada, maka siapa yang bertugas untuk menjaga kebersihan mukena-mukena shalat…. Tetapi memang, mukena (kain shalat untuk perempuan) di masjid ini selalu bersih dan wangi. Mereka juga masuk dalam tim penerbitan dan redaksi bulletin al-Hikmah, yang terbit setiap hari Jum’at dan dibagikan kepada para jama’ah shalat Jum’at.
Adanya para takmir putri ini terkait dengan adanya struktur lain di masjid yaitu UKMKI-LDK UNEJ. Ternyata mereka yang menjadi takmir baik putra ataupun putri adalah mahasiswa yang aktif di LDK UNEJ. Seperti Ketua LDK UNEJ yaitu Ihsan, juga tinggal di masjid sebagai takmir operasional. Sehingga, sebenarnya sulit dipilah antara eksistensi mereka di LDK atau takmir masjid al-Hikmah, karena sekretariat LDK dan takmir juga bersebelahan dan sama-sama terletak di masjid ini.


b. Lembaga Dakwah Kampus

Lembaga Dakwah Kampus UNEJ ini adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UNEJ. LDK inilah yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kerohanian Islam di masjid kampus al-Hikmah ini.
Struktur Organisasi LDK terdiri dari tiga bidang yaitu Bidang Pendidikan, yang terdiri dari tiga departemen yaitu Departemen Pembinaan dan Pengkaderan, Departemen Pengkajian dan Penelaran, Departemen Tsaqafah; bidang pengembangan, yang terdiri dari 3 departemen yaitu departemen Pers dan Analisa Data, departemen Humas, dan departemen sarana usaha, departemen pengembangan SDM dan departemen eksteren; serta bidang kemuslimahan yang terdiri dari dua departemen, yaitu departemen studi muslimah dan departemen bina usaha dan Kreasi Muslimah. LDK UNEJ juga memiliki lembaga-lembaga diantaranya Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAGZIS) dan Litbang LDK UNEJ.
LDK UNEJ yang menempati masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini, dianggap oleh ketua takmir Bapak Syafi’i Nur sebagai kelompok yang netral, tidak NU dan tidak Muhammadiyah, dan bukan organisasi ekstra kampus. Memang, mereka ini adalah kelompok yang berdiri sendiri. Mereka tidak berafiliasi dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) dan tidak ada anggota ataupun pengurusnya yang menjadi kader di OMEK seperti PMII, HMI, KAMMI, IMM dan lain-lain. Karena OMEK tidak bisa masuk kampus, tidak bisa mengunakan fasilitas kampus, termasuk juga tidak bisa menggunakan masjid untuk kegiatan-kegiatannya.
Namun, dalam kemandiriannya ini, LDK merupakan suatu firqoh tersendiri. Berdasarkan beberapa nara sumber, menyatakan bahwa mereka adalah Hizbul Khilafah (HK). Hal ini dinyatakan oleh Mustakim, salah seorang takmir operasional masjid al-Hikmah. Johar Fathoni, seorang mahasiswa semester akhir fakultas Ekonomi, yang dahulu pernah menjadi takmir operasional di masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini, juga mengungkapkan hal yang sama. Dia bercerita bahwa dia dahulu menjadi takmir masjid al-Hikmah, karena kebutuhan ekonomi untuk mencari tempat tinggal yang gratis. Kemudian, dia keluar dari takmir masjid al-Hikmah, setelah mengetahui bahwa nantinya setelah dua setengah tahun mereka aktif di sana, mereka akan dibai’at, untuk menjadi anggota Kizbul Khilafah (HK).
Menuruntnya, HK ini merupakan sempalan dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), namun mereka telah memiliki dan mengangakat seorang amir sebagai khalifahnya, sedangkan HTI hanya mengusung wacana dan ideologi khilafah tetapi belum mewujudkan dan mengangkat seorang khalifah sebagai pemimpin mereka. Menurutnya, pola gerakan organisasi atau firqoh ini adalah dengan menguasai masjid. Mereka melakukan perkaderan mereka dengan jamaah masjid ini. Ir. Habib Ihsan M.Sc., seorang alumni Fakultas Pertanian UNEJ, yang saat ini menjadi Dosen di Universitas Muhammadiyah Jember, seorang Muhammadiyah yang saat ini lebih aktif di PKS, memaparkan bahwa dia sering mengisi kajian di masjid kampus al-Hikmah dan kajian-kajian keislaman di UKKI fakultas-fakultas. Menurutnya, LDK UNEJ adalah HTI yang telah menyeleweng dari ajaran HTI.
Hal senada juga disampaikan oleh para kader KAMMI, yang dahulu pernah aktif di LDK UNEJ. Menurut mereka, dahulu pernah terjadi friksi di LDK UNEJ, sehingga seluruh kader OMEK saat ini ‘didepak’ keluar dari LDK UNEJ. Dahulu, di LDK UNEJ sempat hampir di kuasai HTI, kemudian kelompok HTI ini ‘disingkirkan’. Setelah itu, LDK UNEJ merangkul para kader OMEK seperti HMI, PMII dan KAMMI serta IMM. Namun, pada akhirnya juga terjadi friksi kembali, sehingga para kader OMEK juga disingkirkan dari LDK UNEJ. Saat ini, LDK UNEJ satu warna, yang mengadakan kegiatan-kegiatan di masjid al-Hikmah dan menguasai masjid tersebut. Sehingga, tidak ada firqoh ataupun OMEK dan OMIK lain yang dapat menggunakan fasilitas masjid kampus. Seorang aktivis UKKI (Unit Kegiatan Kerohaniahan Islam) Fakultas Kedoketran Gigi pernah bercerita bahwa kelompok mentoring-nya pernah menyelenggarakan mentoring di masjid kampus UNEJ al-Hikmah atas permintaan dan kesepakatan para pesertanya. Namun, ternyata mereka ‘diusir’ dan tidak boleh mengadakan mentoring di masjid UNEJ ini.

2. Kegiatan Ritual Keagamaan

Masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini setiap harinya menyelenggarakan shalat jama’ah lima waktu. Azan, iqamah dan imam dilaksanakan oleh para takmir operasional masjid ini. Shalat jama’ah ini, biasanya hanya diikuti oleh sekitar 10 sampai 15 orang, bahkan kadang tidak mencapai 10 orang. Mereka yang shalat di masjid tidak mengikuti shalat jamaah ini. Letak masjid kampus yang terlalu jauh dari fakultas-fakultas dan unit-unit kerja di lingkungan kampus UNEJ ini menyebabkan tidak semua civitas akademika dapat melaksanakan shalat jama’ah di masjid kampus al-Hikmah ini.
Meskipun demikian, masjid ini selalu ramai, disinggahi orang-orang dan para mahasiswa untuk menunaikan shalat, silih berganti. Mereka tidak mengikuti jama’ah masjid. Melainkan shalat sendiri-sendiri sesuai dengan waktu yang mereka miliki.
Mereka yang aktif di LDK UNEJ, juga tidak aktif dalam mengikuti shalat jama’ah di masjid ini. Kajian yang dilaksanakan sore hari setelah waktu ashar, sekitar jam 4an. Mereka datang setelah shalat di tempat tinggal masing-masing, kemudian ke masjid hanya untuk mengikuti kajian atau kegiatn-kegiatan lain. Begitu juga waktu kajian setelah isya’. Mereka datang sesudah isya’ hanya untuk mengikuti kajian, tanpa mengikuti shalat jama’ah maghrib atau isya’. Bahkan jumlah peserta kajian lebih banyak dari pada jumlah jama’ah shalat setiap harinya.
Adapun shalat Jum’at yang dilaksanakan oleh masjid kampus UNEJ al-Hikmah ini, diikuti oleh para civitas akademika UNEJ dan masyarakat sekitar kampus UNEJ. Jama’ah bisa mencapai 700an orang, penuh hingga serambi dan halaman.

3. Kegiatan Pendidikan dan Kajian

Sebagaimana terpapar di atas bahwa kegiatan keagamaan seperti kajian dan pendidikan di UNEJ ini dilaksanakan oleh LDK UNEJ. Di antara kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah:
- Kursus Baca Tulis al-Qur’an (KBTA). Kegiatan ini dilaksanakan satu minggu sekali yang bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan membaca dan menulis al-Qur’an secara benar, baik ilmu tajwid maupun makharijul hurufnya. Penyampaian KBTA dikemas dalam metode qira’ati, dengan kurikulum yang strategis mulai basic hingga pendalaman. Pertemuan yang rutin, keaktivan, dan suasana kondusif dapat mempercepat perkembangan mahasiswa dalam memahami materi-materi yang diberikan. Sedangkan kelas KBTA UKMKI LDK UNEJ dibagi menjadi tiga (3) yaitu basic, pendalaman, dan mahir. Pengembangan KBTA yang dilakukan secara berkala adalah materi lagu-lagu baca al-Qur’an dan Musabaqah Tilawatil Qur’an, yang memiliki tujuan mencetak qari’ dan qari’ah.
- Kursus bahasa Arab. Kursus ini bertujuan untuk melatih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan terhadap penguasaan bahasa arab, baik itu cara menulis, membaca dan berbicara dengan bahasa Arab. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali dalam satu minggu dan dibagi dalam beberapa kelas sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.
- Training Muqaddimah Forum. Training ini merupakan program pengembangan bidang II, yang diselenggarakan tiap bulan sekali. Pengembangan seni komunikasi massa, seni retorika baik dari segi materi maupun tehnik merupakan meteri-materi yang menjadi titik perhatian kegiatan ini. Di antara arah praktis kegiatan ini adalah mencetak MC, pemandu, moderator seminar, ataupun mencetak kader yang memiliki kemampuan untuk berbicara dalam forum dengan baik meliputi sisi pemilihan kata, artikulasi, struktur penyampaian, maupun penampilan.
- Training Penulisan, yang diselenggarakan dalam rangka mencetak kader jurnalis Lembaga Dakwah Kampus, yang memiliki kemampuan mengapresiasikan pemikran dan ide-idenya dalam bentuk karya tulis. Pengembangan selanjutnya didukung dengan media dakwah berupa madding (majalah dinding), bulletin, info LDK, dan majalah berkala yang dijadikan wahana pengembangan minat dan bakat kader dakwah UKMKI LDK UNEJ. Dalam waktu berkala, UKMKI LDK UNEJ menyelenggarakan Training Jurnalistik yang menghadirkan training jurnalistik yang menghadirkan pimred media massa, para wartawan sebagai penunjang training penulisan yang diselenggarakan secara rutin dan terpadu. Kegiatan ini diselenggarakan dua kali setiap bulan.
- Kuliah ahad pagi. Kuliah ini dikemas secara terpadu sesuai dengan dunia mahasiswa, yang di dalamnya dilakukan kombiansi antara proses penyampaian secara klasikal (penyampaian materi) dan secara modern (diskusi dua arah). Penambahan wawasan mahasiswa akan wacana dan cakrawala pengetahuan Islam merupakan misi yang senantiasa dikedepankan dalam kegiatan ini. Pemecahan problem kontemporer Islam yang hangat dan menarik adalah titik tolak pelaksanaan kegiatan ini, sehingga mahasiswa tidak tertinggal dengan semakin cepatnya informasi dan perkembangan cakrawala dunia Islam. Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari Ahad pagi pukul 08.00 WIB, dengan menghadirkan berbagai elemen tokoh masyarakat, seperti Mubaligh terkemuka, ustadz dan dosen agama.
- Bimbingan agama Islam. Kegiatan BAI ini diadakan dalam rangka meningkatkan ajaran-ajaran Islam di kalangan mahasiswa. Intensitas pertemuan bimbingan ini seminggu satu kali, dengan waktu pelaksanaan sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan pembimbing. Adapun materi bimbingan meliputi: aqidah, Syari’ah, Sirah Nabawiyah, Fiqh Dakwah, Akhlak, Ibadah, Tafsir, Iqtishad (ekonomi) Islam, politik dll.
- Kajian keputrian dan bina muslimah. Kajian ini berbentuk dialog fiqh wanita, forum muslimah, dll. Variasi kegiatan bina muslimah dilaksanakan dalam berbagai bentuk acara seperti training tata boga (seni memasak), seni kreativitas/kerajinan tangan (handy craft) dan berbagai kreasi muslimah lainnya. Tujuan penyelanggaraan kegiatan ini selain sebagai wahana pengembangan kreativitas kepada para aktivis muslimah lembaga dakwah kampus, juga memberikan suatu fasilitas khusus kepada para muslimah untuk memupuk dan mengembangkan bakat dan minatnya. Sedangkan tujuan jangka panjang kedua kegiatan tersebut adalah mencetak kader muslimah terampil dan muttaqin, yang dapat melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik di masa mendatang.
Di samping kegiatan rutin tersebut, terdapat beberapa kegiatan insidental. Diantaranya adalah Paket Pekan Rajab, Pesantren Kampus, Studi Islam Intensif, Pondok Ramadhan, Seminar Nasional, Paket Idul Adha, Islamic Short Course, Muhibah antar LDK, Islamic Expo, Islamic Studia, saresehan Muslimah.


4. Kegiatan Sosial

Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAGZIS) al-Hikmah, berada di bawah naungan LDK UNEJ. Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menditribusikan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) dari masyarakat. Penyaluran ZIS dialokasikan pada bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi umat dan sebagainya. Sehingga hal ini dapat dinyatakan sebagai kegiatan sosial masjid kampus UNEJ al-Hikmah.


5. Kegiatan Ekonomi

LDK UNEJ memiliki koperasi al-Hikmah. Koperasi al-Hikmah, merupakan pengembangan dari departemen sarana usaha UKMKI LDK UNEJ. Koperasi al-Hikmah bergerak di bidang muamalah sebagai badan pengusahaan dana dakwah. Berbagai persediaan ditawarkan meliputi: kebutuhan sehari-hari, alat tulis kantor (ATK), buku-buku keislaman, berbagai busana muslim, souvenir cantik, snack, dll. Pengembangan kegiatan koperasi al-Hikmah (KAH) adalah bursa yang diselenggarakan secara momentum, Islamic Expo, dan Bursa Akhir Pekan yang dilaksanakan setiap hari Jum’at dan Sabtu.

6. Masjid Lain di Kampus UNEJ

Masjid lain di kampus UNEJ adalah masjid Nurul Haq di Fakultas Pertanian. Masjid ini dahulu adalah masjid masyarakat setempat. Tetapi, setelah terjadi pembebasan tanah masyarakat di sekitar kampus UNEJ untuk dibangun gedung fakultas-fakultas, maka masjid tersebut masuk dalam lingkungan kampus UNEJ. Persisnya, masjid tersebut kini berada di lingkungan Fakultas Pertanian UNEJ, dan masih terdapat beberapa rumah di sebelah kanan masjid dan sebelah barat Fakultas Pertanian tersebut.
Masjid ini diurus oleh takmir dari masyarakat sekitar UNEJ. Namun, terdapat kepengurusan Remaja Masjid Nurul Haq, yang terdiri dari para mahasiswa UNEJ, yang mengadakan kegiatan-kegiatan keislaman di masjid tersebut.
Masjid Nurul Haq ini digunakan untuk shalat jama’ah lima waktu setiap harinya. Shalat jama’ah diikuti oleh sekitar 5 sampai 10 orang. Sama halnya dengan kondisi masjid kampus UNEJ al-Hikmah, sebenarnya banyak civitas akademika UNEJ terutama Fakultas Pertanian yang melaksanakan shalat di masjid ini. Namun, mereka tidak mengikuti shalat jama’ah. Mereka hanya singgah untuk shalat sendiri-sendiri sesuai dengan waktu yang dimiliki masing-masing.
Adapun shalat Jum’at di masjid Nurul Haq Fakultas Pertanian ini, diikuti oleh para civitas akademika Fakultas Pertanian dan sekitarnya, juga para anggota masyarakat di sekitar Fakultas ini. Jama’ah bisa mencapai jumlah 200 orang, sehingga banyak yang melaksanakan shalat di serambi dan halaman masjid.
Memang bangunan masjid ini tidak seluas masjid kampus UNEJ al-Hikmah. Luasnya kira-kira hanya 200 meter2. Terdapat serambi di bagian kanan, kiri dan depan. Sementara di bagianbelakang terdapat ruang kecil yang digunakan untuk sekretariat Remaja masjid Nurul Haq.
5. Mushalla-mushalla di Fakultas

Mushalla terdapat di semua fakultas serta di unit-unit kerja di lingkungan UNEJ, seperti di gedung Pusat atau rektorat. Mushalla ini digunakan untuk shalat bagi para cuvitas akademika di masing-masing fakultas dan unit kerja. Namun, mereka juga jarang mengadakan shalat jama’ah dengan mengumandangkan adzan dan iqomah sebelumnya. Hanya di fakultas ekonomi yang mushallanya dilengkapi dengan alat pengeras suara, sehingga mereka mengumandangkan adzan dan iqamah, selanjutnya mengadakan shalat jama’ah. Di fakultas-fakultas lainnya, mushalla juga digunakan untuk shalat jama’ah bagi para civitas akademika fakultas yang ingi melaksanakan shalat tepat waktu. Biasanya shalat jama’ah ini hanya diikuti sekitar 5 orang. Mereka tidak mengumandangkan adzan. Selanjutnya, para civitas akademika melaksanakan shalat sendiri-sendiri sesuai dengan waktu yang mereka miliki.
Bangunan mushalla di fakultas-fakultas ini, rata-rata hanya berukuran 5 x 4 meter, sudah termasuk dengan serambi samping-sampingnya. Bahkan, di Prorgam Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) sebagai prodi termuda belum memiliki mushalla.



C. PERKULIAHAN AGAMA ISLAM
1. Kurikulum Perkuliahan Agama Islam
Perkuliahan Agama Islam di UNEJ, masuk dalam Mata Kuliah Umum (MKU). Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 56/U/1994 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, bahwa pendidikan Pancasila, Pendidikan agama, dan pendidikan kewiraan/ Kewarganegaraan termasuk dalam Mata Kuliah Umum (MKU) yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi. Sedangkan MKU adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran dalam kurikulum perguruan tinggi yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan Agama di perguruan tinggi bertujuan untuk membantu terbinanya mahasiswa yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis, bersikap rasional dan dinamis, perpandangan luas, ikut serta dalam kerjasama antar umat beragama dalam rangka dan pemanfaat ilmu dan teknologi serta seni untuk kepentingan nasional.
Adapun pokok-pokok bahasan Pendidikan Agama Islam yaitu manusia dan agama; agama Islam; sumber ajaran Islam; kerangka dasar ajaran Islam; aqidah, syari’ah; ibadah dan mu’amalah; akhlak; taqwa; serta Islam dan Ilmu Pengetahuan.[5]
Adapun buku pedoman yang digunakan adalah buku yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama tahun 1998/1999, yaitu Suplemen Buku Daras Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Para dosen agama Islam di UPTBSMKU ini kemudian merumuskan buku Rancangan Pembelajaran Pegembangan Kepribadian Pendidikan Matakuliah Pendidikan Agama Islam, untuk merinci pokok-pokok bahasan yang telah ditetapkan tersebut di atas. Dalam rancangan ini, dipaparkan pula tentang metode yang digunakan, materi pembahasan dan sistem evaluasinya. Adapun literatur yang tertera dalam buku rancangan ini adalah Islam Rahmatan Lil ‘alamin, karya Agus Afandi dkk, Unesa University Press, Surabaya; Pendidikan Agama Islam, karya Muhammad Daud Ali; Konsep Dasar Pendidikan Akhlak karya Mahjuddin; Moral dan Kognisi Islam karya Muslim Nurdin; Wawasan Al-Qur’an karya Quraisy Shihab; Wawasan Islam karya Ali Anwar yusuf; Aqidah Islam karya Sayyid Sabiq; dan Aklhak Nabi Muhammad Saw. karya Ahmad Muhammad al-Hufy. Dalam pengembangannya, tentu saja para dosen menyampaikan materi sesuai dengan literatur lainnya yang dikuasainya.
Kuliah Agama Islam dahulu 2 sks, sejak tahun 2006 ditambah menjadi 3 sks. Kuliah ini diselenggarakan di masing-masing fakultas di lingkungan UNEJ, pada semester genap atau untuk mahsiswa semester dua.
2. Kualifikasi Dosen Agama Islam
Dosen agama Islam di UNEJ hanya berjumlah 8 orang, untuk mengajar seluruh Fakultas dan Prodinya. Mereka adalah:
1. Drs. H. Bawi Fathoni; NIP 130 368 788; Pangkat Pembina Utama Muda / Lektor Kepala /IVC; Asal Instansi FISIP
2. Drs. H. Mahfudz Siddiq, MM; NIP 131 759 536; Pangkat Pembina / Lektor Kepala / IV.a; Asal Instansi FISIP
3. Drs. H. Zaenal Fanani; NIP 131 269 799; Pangkat Pembina / Lektor Kepala / IV. A; PP. Darussholah
4. H. Zainul Fanani, M.Ag; NIP 150 336 909; Pangkat Penata Muda / Ass. Ahli / III.b; Asal Instansi STAIN Jember
5. Abdul Muis, S.Ag; NIP 150 301 652; Pangkat Penata Muda / Ass. Ahli / III.b; Asal Instansi STAIN Jember
6. Dra. Hj. Mukni’ah; NIP 150 294 080; Pangkat Penata / Lektor / III.c; Asal Instansi STAIN Jember
7. Drs. Hamzah; Pangkat Penata Muda / Ass. Ahli / III.a; Asal Instansi UPT BSMKU
8. Drs. H. Achmad Rosyidi; Pangkat Pembina / Lektor Kepala / IV. A; Asal Instansi FISIP
Dari delapan orang dosen agama tersebut, tiga orang diangkat dengan SK di FISIP UNEJ, satu orang dengan SK di UPTBSMKU; dan tiga orang dengan SK di STAIN Jember, yaitu dosen STAIN Jember yang diperbantukan untuk mengajar Agama Islam di UNEJ; serta satu orang Dosen Luar Biasa dengan SK di Pondok Pesantren Darussholah Jember. Mereka ini semua adalah alumni IAIN atau sekarang STAIN Jember.
Mengapa penugasan mereka berbeda-beda? Memang dahulu pada awalnya Pendidikan Agama belum dikoordinasikan dalam satu UPT BSMKU. Maka dosen agama Islam di diangkat dengan SK di salah satu fakultas di UNEJ, yaitu di FISIP. Namun pada perkembangannya, Matakuliah Agama Islam dikoordinasikan dalam satu UPT yaitu UPTBSMKU, sehingga berikutnya Dosen Agama Islam di angkat dengan SK di UPTBSMKU. Ketika dirasakan kurangnya dosen agama Islam di UNEJ maka diambil tenaga dosen dari luar lembaga UNEJ yaitu dari Pondok Pesantren Darusholah Jember, dan kemudian diangkat DPK STAIN Jember untuk membantu mengajar Agama di UNEJ.
Selain itu, di beberapa fakultas juga terdapat dosen fakultas yang dianggap mumpuni dalam pengetahuan keagamaan Islam, sehingga diperbantukan untuk mengajar Pendidikan Agama Islam. Seperti Drs. H. Syafi’i Nur, seorang da’i terkenal di Jember –bapaknya seorang penyanyi religi terkenal Opik-- yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir masjid kampus UNEJ al-Hikmah. Maka, dia selain mengajar mata kuliah Ekonomi di Jurusan Ekonomi FKIP, maka dia juga membantu mengajar Pendidikan Agama Islam di FKIP.
3. Pemberdayaan SDM Dosen Agama Islam
Dari depalan orang dosen agama Islam tersebut di atas, hampir semua adalah lulusan S1. Hanya dua orang yang lulusan S2 yaitu satu orang Master Agama dan satu orang Master Manajemen. Mereka bercerita bahwa sulit sekali untuk mendapatkan bantuan studi ataupun beasiswa. Sehingga banyak yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2, namun mereka mengeluhkan tentang biaya. Di sisi lain, mereka juga mengeluhkan tugas mereka yang sangat berat, yaitu mengajar hampir setiap hari dari pagi hingga sore. Sehingga ketika ingin malaksanakan studi lanjut mereka sulit untuk mengatur waktunya.
Ketika ditanya tentang upaya pemberdayaan yang dilakukan pihak universitas bagi para dosen agama Islam, Bapak Drs. H. Mahfudz Siddiq, MM, koordinator dosen Agama Islam di UPTBSMKU mengatakan bahwa mereka selama ini telah diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dan workshop ke berbagai kota di seluruh Indonesia, dan hampir semua dosen agama Islam telah memperoleh giliran untuk mengikuti pelatihan atau workshop ini.
Tentang penelitian yang dilakukan para dosen agama, menurutnya sulit bagi para dosen agama untuk mendapatkan fasilitas untuk penelitiannya, ataupun dana penelitian dari Lembaga Penelitian UNEJ. Karena proposal penelitian yang harus diajukan oleh para dosen harus berdasarkan jurusan masing-masing, sehingga mereka tidak mempunyai tema yang akan diangkat sebagai judul proposal penelitian kompetitif. Misalnya, dia yang diangkat dengan SK penempatan di FISIP, harus mengajukan penelitian sesuai dengan jurusan di FISIP, dan ini sangat menyulitkan mereka.
Untuk menulis artikel di jurnal kampus UNEJ pun, mereka tidak mempunyai peluang subjek pembahasan. Tema-tema keagamaan atau keislaman, tentunya tidak masuk dalam subjek jurnal fakultas atau jurusan di UNEJ. Kecuali jika tulisannya bertema sosiologi agama, untuk dimasukkan ke jurnal sosiologi. Oleh karena itu, untuk kebutuhan kenaikan pangkat, mereka memasukkan karya tulisnya ke jurnal luar kampus UNEJ, seperi Jurnal di STAIN Jember atau jurnal lainnya, walaupun harus membayar sejumlah uang.
4. Peran Dosen Agama Islam dalam Kehidupan Islam Kampus
MKU di UNEJ berada di bawah koordinasi UPTBSMKU, yaitu salah satu Unit Pelaksana Tehnik yang menangani kelompok mata kuliah Umum, yaitu ISBD, Pancasila dan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama. Kantor UPTBSMKU ini terletak di Universitas Terbuka Jember, yang konon katanya kampus UNEJ lama, bersamaan dengan UPT LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) yang juga berkantor di sana. Gedung ini terletak jauh dari kampus UNEJ, sekitar 5 kilometer dari UNEJ. Di UPTBSMKU inilah para dosen MKU berkumpul melakukan koordinasi. Di sini merupakan ruang transit bagi para dosen MKU termasuk dosen agama.
Menurut mereka, mereka agak sulit mengakses ke kampus UNEJ, karena mereka seakan terisolir di UPT tersebut. Apalagi untuk aktif dalam kehidupan keagamaan di kampus. Di samping jadwal mereka yang sangat padat untuk mengajar, sehingga mereka juga tidak mempunyai waktu untuk membina Unit Kerohanian Islam di kampus UNEJ. Sementara mereka juga berasal dari STAIN Jember, sehingga mereka tidak at home di UNEJ sendiri.
Di sisi lain, terdapat perbedaan pemikiran antara para dosen agama dengan para aktivis mahasiswa Islam di UNEJ, terutama LDK UNEJ, masjid kampus dan UKKI masing-masing fakultas. Sehingga, para dosen agama juga enggan untuk berkiprah di masjid kampus, dan para aktivis LDK juga tidak menggunakan para dosen agama sebagai membicara ataupun pembimbing organisasi mereka.
Para dosen agama Islam yang berasal dari STAIN Jember, menurut mereka, mereka mengembangkan pemikiran moderat dan cenderung liberal. Sementara itu, para mahasiwa aktivis Islam kampus adalah kader-kader KAMMI yang mengembangkan pemikiran fundamental. Sehingga, menurut Pak Mahfud Siddiq, dia lebih baik berkiprah dan aktif dalam kegiatan masjid di masyarakatnya dari pada di masjid kampus.
Dengan demikian, para dosen agama hanya melakukan transfer pengetahuan Agama Islam di kelasnya masing-masing, tidak di luar kelas. Mereka hanya sekedar mengajar di kelas, dan itu menurutnya sudah sangat melelahkan, karena waktu yang sangat penuh.

5. Pelaksanaan Perkuliahan Agama Islam
Perkuliahan agama Islam dilaksanakan di semua fakultas di lingkungan UNEJ. Mereka di bagi perkelas. Dosen sering menggunakan metode pengajaran dengan strategi active learning atau Problem Based Learning dan collaborative learning. Dengan metode pembelajaran seperti ini para mahasiswa diharapkan dapat berkomunikasi, kerjasama dalam kelompok, mengelola informasi secara efektif, berpikir kritis, bersikap rasional, bertanggungjawab, meningkatkan iman dan taqwa, serta mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan secara Islam dan ilmiah.[6]
Pelaksanaan metode active learning ini dengan strategi pembagian kelompok. Setiap kelompok diminta untuk membuat makalah untuk dipresentasikan di kelas. Sehingga mahasiswa yang aktif untuk berdiskusi, dengan pemakalah dan pembahas dari mereka. Menurut mereka lebih efektif, terutama untuk pengaturan waktu mereka. Karena para dosen agama Islam ini mengajar dari pagi hingga sore, sehingga dengan metode seperti ini, mereka tidak terlalu lelah dan tidak kehabisan suara. Di samping memang sistem pembelajaran untuk perguruan tinggi adalah sistem pembelajaran adragogik, dimana mahasiswa sebagai pusat pembelajaran dan dosen adalah fasilitatornya. Sehingga strategi active learning ini sangat cocok untuk sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi UNEJ.
Kadang para dosen juga meminta para mahasiswa di kelasnya untuk membaca dan menulis al-Qur’an, untuk mengetahui kemampuan mereka baca tulis al-Qur’an. Dosen agama Islam kadang juga meminta para mahasiswa di kelasnya untuk mempraktikkan bacaan shalat, untuk mengetahui kemampuan mereka.

6. Mentoring Agama Islam
Sebagaimana telah dipaparkan bahwa dosen hanya mengajar atau melaksanakan pembelajaran dengan mahasiswa di kelas. Sementara itu, dosen tidak melaksanakan follow up pembelajaran agama Islam di luar kelas, ataupun menambah pembalajaran agama Islam bagi mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan agama yang memadai, seperti mahasiswa yang belum bisa baca dan tulis al-Qur’an. Atau dengan kata lain dosen tidak memberikan mentoring agama Islam di luar kelas perkuliahan, dan dosen agama Islam juga tidak mengkoordinasikan mentoring. Mentoring hanya dilaksanakan oleh LDK Universitas dan UKKI Fakultas-fakultas bagi para mahasiswa yang membutuhkan.
Mentoring agama Islam, biasanya dilakukan dengan memberikan pengetahuan agama dasar bagi para mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan agama yang cukup sesuai dengan standar yang ditetapkan. Misalnya dengan mengajarkan baca tulis al-Qur’an bagi mahasiswa yang belum mampu; memberikan wawasan agama Islam dasar tentang fiqh ibadah, akidah dan akhlak dan lain-lain.
Di UNEJ, UPTBSMKU sebagai UPT yang mengkoordinasi MKU Agama Islam, tidak mengkoordinasi mentoring agama Islam. Menurut Drs. H. Bawi Fathoni, mentoring belum dapat dilaksanakan. Sementara ini mentoring dilaksanakan oleh LDK dan UKKI Fakultas-fakultas, yang tidak diwajibkan bagi seluruh mahasiswa. Sebenarnya mereka telah merancang mentoring untuk selurh mahasiswa, karena pihak Universitas telah menjanjikan untuk membangun gedung untuk laboratorium al-Qur’an. Dengan fasilitas laboratorium tersebut, nantinya mudah untuk mengkoordinasi mentoring baca tulis al-Qur’an bagi mahasiswa. Mereka juga menunggu dana yang dijanjikan oleh Departemen Agama untuk membantu membuat fasilitas laboratorium tersebut. Sehingga, mentoring selama ini belum dapat dilaksanakan.
Sementara itu, mentoring agama Islam yang dilaksanakan oleh LDK UNEJ, hanya diikuti oleh beberapa orang mahasiswa. Mereka membuka pendaftaran bagi para mahasiswa yang ingin mengikuti mentoring. Mereka menarik simpati dan partisipasi mahasiswa baru dengan menyebarkan liflet-liflet, menempel pamphlet-pamplet kegiatan, dan memasang sepanduk besar d masjid tentang kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap sore dan malam, pada pekan mahasiswa baru. Dengan demikian, para mahasiswa yang tertarik dan ingin bergabung, mereka akan datang ke masjid. Atau para anggota senior mengajak para adik kelasnya di SMA untuk masuk dan aktif dalam kegiatan di masjid, juga untuk mengikuti mentoring.
Demikian juga mentoring yang dilaksanakan oleh UKKI setiap fakultas. Mereka menarik minat mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan-kegiatannya, juga untuk mengikuti mentoring pada saat rujak party, yang dilaksanakan dalam pekan mahasiswa baru. Sehingga mahasiswa baru yang tertarik akan mendaftar. Dengan demikian, mentoring tidak menjadi kegiatan yang massif. Mentoring tidak diikuti banyak orang. Hanya mahasiswa yang bernimat dan benar-benar ingin memperdalam pengetahuan agamanya sajalah yang mengikuti mentoring. Terkecuali di Fakultas Kedoketeran, setelah Pembantu Dekan III dijabat oleh Bu Ani, menurut seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran yang juga aktif di UKKI Fakultasnya, mentoring saat ini menggunakan presensi bagi mahasiswa, dan setengah diwajibkan.

7. Respons Dosen dan Mahasiswa terhadap Perkuliahan Agama Islam
Perkuliahan Agama Islam tidak begitu menghadapi hambatan di masing-masing fakultas di lingkungan UNEJ. Hanya setelah pemberlakuan sistem pembelajaaran Problem Based Learning (PBL) di Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, ada sedikit masalah tentang penyelenggaraan perkuliahan agama masuk blok atau tidak masuk blok. Namun, masalah ini telah terpecahkan dengan baik. Para dosen non-agama dan para dosen agama juga menjalin hubungan yang baik dan toleran.
Masalah yang sering terjadi dalam perkuliahan agama Islam adalah pluralitas pemahaman mahasiswa tentang Islam, yang kadang mempersulit para dosen dalam penyelenggaraan perkuliahan. Mereka yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan para dosen agama Islam, sering mendebat atau memprotes dengan keras. Apalagi adanya berbagai firqoh keagamaan yang bermacam-macam dengan berbagai karakter pemahaman dan pemikirannya tentang Islam, bisa menimbulkan kesulitas dalam memahamkan materi perkuliahan. Jika toleransi pemikiran tidak tercapai, tidak jarang hal seperti ini akan dapat menimbulkan konflik.
Seorang mahasiswa FISIP juga bercerita bahwa dia selama mendapatkan materi perkuliahan agama Islam, sering mendebat dosennya dan menyalahkannya, karena dia merasa apa yang dikatakan oleh para dosen agama Islam, berbeda dengan apa yang dia peroleh di pondok dahulu.
Pak Shiddiq, koordinator dosen agama Islam di UPTBSMKU juga bercerita bahwa sering sekali perbedaan-perbedaan pendapat seperti ini terjadi di kelas. Sementara, menurutnya, para dosen agama Islam cenderung mengembangkan pemikiran Islam yang moderat cenderung kepada liberal. Sedangkan banyak mahasiswa yang berfikir tradisonal atau bahkan fundamental, sehingga pertentangan pemikiran terjadi. Namun menurutnya, dosen hanya bisa mengatakan bahwa pemikiran dan pemahaman tentang Islam memang beragam, kita tidak usah berusaha untuk menyamakan. Biarkan kami menggunakan pemahanan ini, dan kami juga akan membiarkan anda untuk menggunakan pemahaman seperti itu.
D. VARIAN ISLAM KAMPUS

A. ORGANISASI KEMAHASISWAAN INTRA KAMPUS (OMIK)
1. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tingkat Universitas

Satu hal yang menarik bagi peneliti ketika mencari pengurus organisasi kemahasiswaan Pusat, ternyata tidak ada. Memang, di UNEJ tidak ada BEM ataupun Senat Mahasiswa Universitas. Menurut beberapa nara sumber, dahulu ada BEM Universitas. Namun, sejak tahun 1998 tidak ada lagi. Kepengurusan BEM Universitas, terakhir periode 1997/1998. Setelah itu, tidak terlaksana regenerasi, hingga akhirnya BEM Universitas vacum hingga saat ini.
Menurut Pembantu Rektor III, usaha untuk membentuk kembali BEM Universitas ini telah dilaksanakan. Bahkan beliau berjanji, bahwa sebelum berakhir masa jabatannya, BEM Universitas harus telah terbentuk. Beberapa kali pihak rektorat atau dalam hal ini Pembentu Rektor III, mengundang para pengurus BEM masing-masing Fakultas dan para pengurus UKM Universitas, untuk membicarakan masalah pembentukan BEM Universitas. Namun menurutnya, dari seratus lebih undangan, hanya hadir sekitar 17 orang. Sehingga, pembicaraan selalu tidak berhasil, karena tidak mencapai kuorum.
Berdasarkan beberapa nara sumber, tidak adanya BEM ini, disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, konflik kepentingan antara para kader Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK) dalam perebutan kekuasaan di kepengurusan BEM Universitas. Menurut Pembantu Rektor III, pembentukan BEM terakhir –tahun 1998an—diliputi dengan kekerasan, bahkan ada mahasiswa yang berkelahi dengan membawa senjata tajam, sehingga melibatkan pihak kepolisian. Menurut Drs. Agus, mantan Kasubag Kemahasiswaan UNEJ saat itu, yang saat ini menjabat sebagai kasubag Keuangan UNEJ, yang juga mantan aktivis KNPI Jember, bahwa Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) diwarnai oleh warna-warna bendera OMEK. Ketika terjadi pemilu mahasiswa, para kader OMEK inilah yang mengikuti bursa pencalonan pengurusnya. Terutama BEM Universitas, sebagai organisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat Universitas, menjadi ajang perebutan kekuasaan. Sehingga, ketika power sharing (pembagian kekuasaan) di antara OMEK tidak tercapai, maka kepengurusan BEM ini sulit terbentuk. Hingga saat ini, suara perwakilan mahasiswa yang duduk di BEM Fakultas dan UKM Universitas, tidak mencapai kebulatan dalam hal pembentukan BEM.
Begitu juga pada tingkat OMEK, tidak semua OMEK yang menghendaki terbentuknya BEM Universitas. Menurut beberapa nara sumber, bahwa yang mengusung isu pembentukan kembali BEM Universitas adalah OMEK PMII dan HMI. Sementara GMNI, ketika ditanyakan tentang pembentukan BEM Universitas kembali, ataupun pembentukan kembali beberapa BEM di Fakultas yang tidak ada BEM-nya, mereka cenderung menolaknya. Dalam kata lain, GMNI tidak menghendaki pembentukan BEM kembali. Mereka lebih memperhitungkan masalah hitung-hitungan suara. Ketika dilaksanakan pemilu mahasiswa untuk membentuk BEM Universitas atau BEM di beberapa fakultas (Fakultas Hukum, Pertanian dan Ekonomi), mereka merasa tidak bisa menang. Sehingga bagi mereka, lebih baik tidak ada BEM. Sehingga mereka juga mengupayakan agar BEM tidak terbentuk.
Kedua, BEM Universitas belum mampu mengakomodir kepentingan seluruh elemen yang ada di bawahnya. BEM Universitas sebagai organisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat Universitas, membawahi UKM-UKM dan BEM Fakultas. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 155/U/1998 tentang Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, bahwa di Perguruan Tinggi terdapat satu organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi yang menaungi seluruh aktivitas kemahasiswaan. Sehingga seluruh UKM Universitas juga berada di bawah koordinasi dan naungan BEM Universitas ini. Ketika BEM Universitas dianggap tidak mampu mengakomodir dan mengayomi seluruh UKM Universitas, maka bagi para pengurus UKM Universitas ini, lebih baik BEM Universitas tidak ada. Dengan tidak adanya BEM Universitas, maka UKM-UKM Universitas di lingkup UNEJ, tidak di bawah BEM Universitas, melainkan langsung di bawah koordinasi Pembantu Rektor III. Prosedur pendanaan dan kegiatan tidak harus melalui BEM Universitas, dan hal ini bagi mereka lebih menguntungkan, dari pada jika prosedurnya harus melalui BEM Universitas.
Ketiga, masalah yang timbul dari personil pengurus BEM Universitas yang dahulu ada. Misalnya ketidakaktivan pengurus BEM Universitas terpilih, menyebabkan ketidakpercayaan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang berada di bawahnya. Sehingga, BEM Universitas tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Konflik individu antara para pengurus BEM juga terjadi, begitu juga konflik kepentingan individu para pengurus BEM Universitas itu sendiri, terutama dalam masalah keuangan. Hal ini menyebabkan ketidaksolidan kepengurusan BEM Universitas, dan ketidak percayaan pihak luar –seperti organisasi kemahasiswaan di bawah koordinasinya—sehingga BEM Universitas juga tidak mampu melaksanakan fungsinya dengan baik.
Keempat, adanya kaidah bahwa organisasi kemahasiswaan adalah dari, untuk dan oleh mahasiswa, dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 155/U/1998 tentang Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Hal ini menjadikan pihak rektorat menunggu respons mahasiswa untuk pembentukan BEM Universitas. Sehingga, ketika tidak dapat dicapai kesepakatan di kalangan mahasiswa, maka BEM Universitas juga tidak mungkin terbentuk.
Kelima, terdapat beberapa aktivis OMEK yang menyatakan bahwa tidak adanya BEM Universitas merupakan sebuah rekayasa dari pihak pimpinan yang mayoritas orang-orang merah. Karena jika terbentuk BEM, maka mayoritas pengurus yang akan terpilih di BEM Universitas tentu adalah para kader PMII dan HMI yang masih dominan di kalangan mahasiswa. Adanya BEM Universitas juga akan mempersatukan gerakan mahasiswa secara simultan dari tingkat fakultas hingga universitas, sehingga mereka dapat melaksanakan fungsi kontrol dan akan mengkritisi kebijakan pimpinan. Tetapi, jika tidak ada BEM Universitas gerakan mahasiswa akan terpisah-pisah secara parsial, sehingga kontrol kebijakan terhadap pimpinan juga lemah.

2. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tingkat Universitas

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) wadah untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam berbagai minat dan bakatnya. UKM ada yang berada pada tingkat Universitas, yaitu yang mewadahi seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas dalam satu wadah UKM; dan ada yang pada tingkat Fakultas masing-masing di lingkungan UNEJ, yang hanya mewadahi mahasiswa di fakultas tertentu. Diantara UKM tingkat Universitas adalah: a. UKM Olah Raga, mencakup cabang-cabang olah raga atletik, renang, senam, bela diri, dan permainan-pertmainan seperti sepak bola, bola volley, bola basket, tennis lapangan, bulu tangkis dan sebagainya; b. UKM Kesenian, mencakup seni reog, musik, suara, drama atau teater, lukis, pahat, potografi, dan seni tari; UKM Pramuka; UKM Menwa (Resimen Mahasiswa); UKM Penerbitahn Kampus; UKM Pecinta Alam; UKM Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI); dan University Student English Forum (USEF)

3. Organisasi Kemahasiswaan di Fakultas-Fakultas
a. Fakultas Pertanian

Ketika dilakukan penelitian ini, di Fakultas Pertanian ini tidak terdapat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurut para mahasiswa yang kini masih aktif di organisasi kemahasiswaan intra kampus, BEM Fakultas ini dahulu pernah ada. Namun, sejak tahun 2003 BEM Fakultas tidak ada lagi, dan hingga kini, belum ada upaya-upaya untuk membentuk BEM Fakultas Pertanian.
Organisasi kemahasiswaan intra kampus tingkat fakultas di Fakultas Pertanian ini hanya terdiri dari UKM-UKM, diantaranya adalah Unit Kegiatan Seni Mahasiswa Panjalu (untuk mewadahi bakat dan minat mahasiswa Fakultas Pertanian ini dalam bidang kesenian); MAPENSA yaitu UKM untuk pecinta alam; Plantarum sebagai Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Pertanian; UKKM (Unit Kegiatan Kesejahteraan Mahasiswa), yang mengembangkan koperasi mahasiswa fakultas ini; UKKMK yaitu UKM Kerohanian Kristen; UKMO yaitu UKM olahraga dan F-SIAP sebagai Unit Kegiatan Kerohanian Islam di Fakultas Pertanian.
Kegiatan kemahasiswaan di Fakultas ini juga terpusat pada jurusan-jurusan. Bahkan, menurut para pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di lingkungan Fakultas Pertanian, bahwa ada atau tidak ada BEM tidak berpengaruh bagi mereka. Karena, semua mahasiswa fakultas ini tergabung dalam kegiatan-kegiatan HMJ masing-masing. Semua mahasiswa jurusan merupakan anggota HMJ masing-masing. Sehingga BEM tidak punya anggota riil dalam hal ini. Adapun ketika melaksanakan kegiatan tingkat Fakultas, cukup dengan mengambil perwakilan dari setiap HMJ dan UKM di seluruh lingkungan Fakultas Pertanian ini. Misalnya, ketika pelaksanaan OSPEK tingkat Fakultas, panitia pelaksana diambil dari perwakilan masing-masing UKM dan HMJ. Sehingga, ketiadaan BEM tidak menghambat pelaksanaan kegiatan tingkat Fakultas.
Di Fakultas ini terdapat 4 jurusan, sehingga terdapat 4 HMJ, yang diantaranya adalah Himagro untuk jurusan agronomi; HMJ-Agri bisnis; HMJ Ilmu Tanah dan HMJ Hama Penyakit Tanaman. Setiap HMJ ini mengembangkan wacana kejurusan masing-masing.
Setiap HMJ memiliki anggota biasa, anggota tetap dan anggota pengurus. Anggota biasa merupakan anggota mahasiswa jurusannya yang belum lulus dalam Ospek Jurusan atau mereka yang tidak mengikuti Ospek Jurusan. Adapun mereka yang sudah lulus mengikuti Ospek Jurusan masuk sebagai anggota tetap, sehingga pada periode berikutnya dapat dipilih menjadi anggota pengurus. Kepengurusan HMJ ini melaksanakan regenerasi setiap satu tahun sekali dengan menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan, dalam Rapat anggota ini, dibahas Laporan pertanggungjawaban Pengurus HMJ selama pelaksanaan kepengurusannya satu tahun, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan AD/ART HMJ, dan dilaksanakan pemilihan Ketua HMJ. Ketua terpilih inilah, yang akan menyusun formasi kepengurusan dan memilih para personil pengurus HMJ-nya.
Semua organisasi kemahasiswaan di Fakultas Pertanian ini berada di bawah koordinasi dan pembinaan Pembantu Dekan III. Pada dasarnya, pihak fakultas menginginkan dibentuknya kembali BEM fakultas, namun, para mahasiswa ataupun para perwakilan organisasi mahasiswa di Fakultas ini tidak menghendakinya. Sehingga, pada akhirnya kembali kepada peraturan dasar tentang kemahasiswaan bahwa organisasi mahasiswa adalah dari, oleh dan untuk mahasiswa. Oleh karena itu, sampai saat penelitian ini dilaksanakan, BEM Fakultas Pertanian belum terbentuk.
Suatu analisis lain tentang ketiadaan BEM ini adalah bahwa kekuatan masing-masing organisasi mahasiswa ekstra kampus hampir seimbang sehingga tidak dapat mencapai kesepakatan bulat untuk membentuk kembali BEM Fakultas ini. Isu pembentukan kembali BEM di beberepa fakultas yang tidak ada BEM selalu diusung oleh para kader PMII dan HMI, sementara GMNI tidak menginginkan adanya BEM. Hal ini dikarenakan sistem hitung-hitungan ketika dibentuk BEM seberapa jauh kader mereka dapat duduk di kepengurusan. Maka, bagi organisasi yang lebih besar akan menginginkan BEM, sedangkan yang anggotanya lebih sedikit (tetapi cenderung seimbang) tidak menginginkan BEM, karena mereka sudah merasa akan kalah dalam pemilihan.
b. Fakultas Hukum

Sama halnya dengan Fakultas Pertanian, di Fakultas Hukum juga tidak terdapat BEM Fakultas. Di Fakultas ini juga tidak terdapat jurusan, karena penjurusan mahasiswa tidak dilakukan pada awal masuk, melainkan ketika mahasiswa menjelang pembuatan tugas akhir (Skripsi). Sehingga di fakultas ini HMJ juga tidak ada.
Organisasi kemahasiswaan yang ada di fakultas ini hanyalah UKM-UKM, diantaranya adalah UKM ALSA (Asean Law Student Association) yaitu UKM yang bergerak di bidang kajian hukum dan advokasi; UKM Bahana Justitia yaitu UKM yang mewadani minat dan bakat mahasiswa Fakultas Hukum di bidang seni musik; Imparsial, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Hukum; Gymnastic yaitu UKM Olahraga; Jantung Teater yaitu UKM yang mewadahi minat dan bakat mahasiswa di bidnag teater; Akasia yaitu UKM Pecinta Alam di Fakultas Hukum; dan SIB (Studi Islam Berkala) yaitu UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) di Fakultas Hukum.
Upaya pembentukan kembali BEM Fakultas Hukum ini telah dilakukan. Namun, selalu tidak berhasil. Hingga Pembantu Rektor III melayangkan surat himbauan untuk membentuk kembali BEM Fakultas ini tahun 2005. Namun, UKM-UKM di lingkungan Fakultas Hukum ini menolak himbauan tersebut. Berdasarkan musyawarah 8 UKM di fakultas ini tanggal 11 januari 2005, mereka memutuskan untuk menolak pembentukan kembali BEM Fakultas Hukum.
Alasan mereka yang menolak pembentukan BEM Fakultas ini diantaranya adalah:
Pertama, Relevansi BEM, mengingat lancarnya setiap aktivitas dari beberapa UKMF dan aktivitas mahasiswa lainnya yang berupa kelompok belajar dan sebagainya selama ini, telah cukup memberikan ruang bagi mahasiswa aktif untuk berkreasi dan berkarya, sekalipun selama ini di Fakultas Hukum tidak ada BEM; kedua, Efektifitas BEM, kaitannya dengan rencana pembentukan BEM di Fakultas Hukum, perlu juga kita telaah aktivitas dari BEM fakultas lain yang selama ini aktivitasnya hanya sekedar sebagai motor politikbagi kekuasaan tertentu, sehingga keberadaan BEM tersebut sama sekali bukanlah “ Dari-Oleh- Dan Untuk Mahasiswa”; ketiga, keberadaan BEM ini cenderung akan menjadi rantai baru dalam sistem birokrasi yang kita akui juga cukup sulit sekali. Jadi, anggapan tentang efektivitas BEM untuk kepentingan mahasiswa sangatlah minim sekali.[7]


Sebagaimana kondisi peta Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK) di fakultas Pertanian, di Fakultas Hukum ini kekuatan OMEK juga hampir seimbang, antara PMII, HMI dan GMNI. Sehingga tarik menarik kepentingan diantara OMEK ini mempersulit untuk membentuk BEM atau Senat Mahasiswa Fakultas.

c. Fakultas FKIP

Di Fakultas ini, organisasi kemahasiswaan sangat lengkap, mulai dari BEM Fakultas, UKM dan HMJ, dan sesemuanya memiliki nama-nama yang unik. Diantara HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) atau HMP (Himpunan Mahasiswa Program) di lingkungan Fakultas KIP ini adalah Libra untuk HMP Ekonomi; Lumba-lumba untuk HMP Biologi; Kelamas untuk HMP Sejarah; Andragogi untuk HMP Pendidikan Luar Sekolah; MSc untuk HMP Matematika; Neutron, untuk HMP Fisika; ESA untuk HMP Bahasa Inggeris; IMABINA untuk HMP Bahasa Indonesia; dan HMP PGSD.
Adapun UKM-UKM di Fakultas ini diantaranya adalah GEMAPITA untuk UKM Pecinta Alam; Pijar sebagai lembaga Pers mahasiswa; TIANG sebagai UKM Teater; PRESMA (Pusat Riset Mahasiswa); Piramid sebagai UKM Musik; dan UKKI-MASA sebagai Lembaga Dakwah kampus atau Unit Kegaiatan Kerohanian Islam di tingkat FKIP.
Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) ini menyelenggarakan regenerasinya setahun sekali dengan mengadakan rapat anggota tahunan. Masing-masing OMIK melaksanakan rapat ini untuk membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, membahas AD/ART organisasi dan pemilihan ketua umum. Setiap OMIK melaksanakan pemilihan ketua umumnya masing-masing, dan ketua umum terpilihlah yang akan menyusun formasi kepengurusan dan menentukan para personil jajaran pengurusnya.
OMIK di FKIP ini nampak didominasi berbagai OMEK Keislaman diantaranya PMII, HMI, KAMMI, dan IMM. Sehingga nuansa keislaman nampak jelas dalam sistem kepengurusan OMIK di Fakultas ini. Hal ini nampak pada struktur kepengurusan yang mencantumkan devisi atau bidang kerohanian Islam di setiap HMJ di lingkungan Fakultas ini. Walaupun devisi ini hanya melaksanakan kegiatan insidental seperti peringatan hari-hari besar Islam (PHBI) dan kajian serta buka puasa bersama di bulan Ramadhan. Bahkan, menurut seorang pengurus Kelamas, terdapat kegiatan yasinan dan pengajian pada malam jum’at, walaupun tidak dapat dilaksanakan dengan rutin.

d. Fakultas FISIP

Sebagaimana kondisi di FKIP, di FISIP ini juga terdapat organisasi kemahasiswaan yang lengkap, mulai dari BEM Fakultas, HMJ-HMJ dan UKM. Di antara UKM yang terdapat di Fakultas ini adalah Wisma Gita sebagai UKM kesenian; PRISMA sebagai Lembaga Pers Mahasiswa; UKM Olahraga; MAPALUS sebagai UKM Pecinta Alam; Paduan Suara Mahasiswa; dan SIKLUS sebagai UKKI di Fakultas ini.
Adapun HMJ yang berada di lingkungan FISIP adalah HIMAHI yaitu Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional; HIMAHISTA yaitu Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara; HIMAKES yaitu Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial; HIMADITA yaitu Himpunan Mahasiswa D3.
Setiap organisasi ini juga melaksanakan regenerasi satu tahun sekali, dengan mengadakan rapat anggota tahunan, untuk membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, dan pemilihan ketua umum, yang akan menyusun formasi kepengurusan dan menentukan para personil pengurusnya.
Di Fakultas ini, OMEK terbesar adalah PMII dan HMI, sehingga para pengurus OMIK terdiri dari para kader PMII dan HMI, serta sedikit KAMMI dan IMM.
e. Fakultas Ekonomi

Saat penelitian ini dilaksanakan (tahun 2007), di Fakultas Ekonomi tidak terdapat BEM Fakultas. Menurut para pengurus HMJ dan UKM yang dapat dijumpai di lingkungan sekretariat OMIK Fakultas Ekonomi ini, dahulu BEM Fakultas Ekonomi pernah ada, namun sejak tahun 2003 tidak ada. Sehingga organisasi kemahasiswaan yang ada di tingkat fakultas hanyalah UKM-UKM, yaitu UKM MAPALA (Pecinta Alam); Ecpose sebagai Lembaga Pers Mahasiswa; KSPM yaitu Kelompok Studi Pasar Modal); KSKIK yaitu Kelompok Studi Kewirausahaan dan Industri Kecil; dan Bastiling sebagai UKKI di Fakultas Ekonomi.
Adapun HMJ di lingkungan Fakultas Ekonomi ini diantaranya adalah HMJ Ilmu Ekonomi, HMJ Manajemen, HMJ Akuntansi, HIMADITA untuk D3, HIMANR untuk mahasiswa non Reguler.
Di fakultas ekonomi ini telah melaksanakan proses pembentukan BEM Fakultas. Telah terbentuk Forbes (Forum Bersama) untuk pembentukan BEM Fakultas Ekonomi ini, sejak tahun 2006. Forum ini telah membentuk AD/ART hingga saat ini tahun 2007, tinggal melaksanakan pembentukan kepengurusan BEM. Namun, menurut Johar Fathoni, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2002 yang juga aktif di OMEK PMII, sengaja proses pembentukan BEM tersebut diperlambat sambil menunggu kesiapan berbagai elemen.
Di Fakultas Ekonomi ini PMII dan HMI merupakan OMEK yang memiliki anggota mayoritas di kalangan mahasiswa, serta KAMMI yang para kadernya aktif di UKKI Bastiling. Menurut Johar, para kader PMII mendominasi kepengurusan BEM Fakultas di era 1995 hingga tahun 1998an. Setelah itu HMI mendominasi BEM Fakultas tahun 1999 hingga tahun 2002, masa kepengurusan BEM terakhir. Ketika kepengurusan BEM tahun 2002 facum, maka tidak terjadi regenerasi dan BEM Fakultas Ekonomi tahun 2003 tidak ada dengan sendirinya. Sehingga, beberapa tahun terakhir ini diupayakan proses pembentukan BEM Fakultas.
f. Fakultas Sastra

Di Fakultas Sastra terdapat kepengurusan organisasi kemahasiswaan yang lengkap mulai dari BEM Fakultas, UKM hingga HMJ bahkan terdapat Parlemen Mahasiswa (PARMA) yang berfungsi untuk melaksanakan kontrol terhadap kepengurusan BEM Fakultas dan kegiatan-kegiatannya.
Di fakultas ini terdapat 4 jurusan, sehingga juga terdapat 4 HMJ yaitu EDSA (English Department Students Association) untuk jurusan sastra Inggeris; IMASIN (Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia) untuk jurusan sastra Indonesia; BKMS (badan Keluarga Mahasiswa Sejarah) untuk jurusan Sejarah; HIMADITA untuk D3.
Adapun UKM di Fakultas sastra diantaranya adalah LPMS (Lembaga Pers Mahasiswa Sastra); DKK (Dewan Kesenian Kampus); SWAPENKA untuk UKM pecinta alam; FORSA sebagai UKM olah raga dan LEKFAS sebagai UKKI di Fakultas Sastra.
Sebagaimana pola regenerasi organisasi kemahasiswaan di Fakultas-fakultas lainnya, organisasi kemahasiswaan di Fakultas Sastra ini melaksanakan regenerasi setahun sekali dengan menyelenggarakan rapat anggota dan pemilu mahasiswa untuk memilih ketua umum masing-masing organisasinya. Selanjutnya ketua umum terpilih yang akan menyusun formasi kepengurusan dan menunjuk para personil pengurusnya.
Di fakultas sastra ini OMEK yang memiliki anggota besar adalah PMII dan HMI, kemudian KAMMI mulai berkembang dan beberapa kadernya di kepengurusan UKKI Fakultas sastra (LEKFAS).

g. Fakultas MIPA

Di Fakultas MIPA ini juga terdapat organisasi kemahasiswaan yang lengkap, dari BEM Fakultas, UKM dan HMJ. UKM yang ada di lingkungan Fakultas MIPA ini diantaranya adalah PALAPA sebagai UKM Pecinta Alam; TITIK untuk UKM Kesenian; ALFA sebagai Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas MIPA; dan IONS sebagai UKKI Fakultas MIPA.
Adapun HMJ di lingkungan Fakultas MIPA ini adalah HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika); HIMAFI (Himpunan Mahasiswa Fisika); HIMAKI (Himpunan Mahasiswa Kimia); dan HIMABIO (Himpunan Mahasiswa Biologi).
Di fakultas ini, menurut Ketua Umum HIMATIKA, tidak banyak mahasiswa yang aktif di organisasi. Karena mereka disibukkan dengan sistem perkuliahan dan praktikum yang padat. Sehingga, pergulatan OMEK pun tidak begitu nampak, walaupun ada beberapa kader OMEK di Fakultas ini. Pencalonan dalam pemilu mahasiswa baik BEM Fakultas maupun HMJ tidak juga diwarnai bendera-bendera OMEK.

h. Fakultas Teknologi Pertanian

Di Fakultas Teknologi Pertanian ini terdapat kepengurusan BEM Fakultas, UKM-UKM dan HMJ. Di Fakultas ini terdapat dua jurusan, sehingga terdapat pula dua HMJ yaitu HIMAGASTA untuk jurusan Teknologi hasil Pertanian dan HIMATIKTA untuk Jurusan Teknik Pertanian.
Adapun UKM di lingkungan Fakultas ini diantaranya adalah Katulistiwa sebagai UKM Pecinta Alam; Dolanan untuk UKM Kesenian; Sahara untuk UKM Olahraga; manifest sebagai Lembaga Pers Mahasiswa; UKMK yaitu UKM Kesejahteraan mahasiswa yang mengelola Koperasi, kantin kampus, fotokopi dan percetakan; serta Kosinusteta sebagai UKKI di Fakultas tenologi Pertanian ini.

i. Fakultas Kedokteran Gigi

Fakultas ini merupakan fakultas yang relatif baru, sehingga organisasi kemahasiswaan juga masih tertata rapi sebagaimana juga di fakultas-fakultas lain yang relatif baru, seperti Fakultas Kedokteran, Farmasi dan Program Studi Kesehatan Masyarakat. Dalam artian, bahwa BEM Fakultas atau SEMA Fakultas sebagai organisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat fakultas benar-benar terlaksana. Di fakultas ini, UKM dan HMJ berada di bawah BEM, baik masalah pendanaan maupun koordinasi kegiatannya, serta keputusan struktur kepengurusannya.
Di fakultas ini organaisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat fakultas adalah Senat Mahasiswa Fakultas. Kepengurusan Senat Mahasiswa Fakultas ini terdiri dari beberapa bidang diantaranya adalah:
- bidang I, yaitu bidang pendidikan dan penalaran, yang membawahi UKM Densa Forer yaitu UKM bahasa Inggeris.
- Bidang II, yaitu bidang minat dan bakat, yang membawahi beberapa UKM diantaranya adalah LISMA sebagai UKM Kesenian; Paduan Suara Mahasiswa; UKM Olah Raga dan Warta Denting, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas kedokteran Gigi.
- Bidang III, yaitu bidang Kesejahteraan Mahasiswa, membawahi ID (Islamic Dental) , yaitu UKKI Fakultas Kedokteran Gigi.
- Bidang IV yaitu bidang hubungan luar, sebagai bidang yang melaksanakan kerjasama dengan organaisasi di luar SEMA Fakultas Kedokteran Gigi.
Di fakultas ini tidak banyak mahasiswa yang aktif di organisasi, sehingga pergulatan OMEK dalam OMIK pun tidak begitu nampak. Sebagaimana di fakultas eksakta yang lain, karena mahasiswa terlalu disibukkan dengan sistem perkuliahan dan praktikum.

j. Fakultas Kedokteran

Fakultas ini juga merupakan fakultas yang relatif baru, yaitu baru berdiri tahun 2000, sehingga sebagaimana di fakultas Kedokteran Gigi, Organisasi kemahasiswaan masih tertata rapi. Organisasi kemahasiswaan tertinggi di Fakultas Kedokteran ini adalah BEM Fakultas, yang membawahi UKM-UKM. Kepengurusan BEM Fakultas ini terdiri dari beberapa departemen, yaitu departemen luar negeri, dalam negeri, departemen sosial, departemen minat dan bakat. Departemen minat dan bakat inilah yang membawahi beberapa UKM, yaitu diantaranya UKM Olah raga, Paduan Suara Mahasiswa, UKM Kerohanian Islam (IMSAC), Kristen, Hindu, dan Tim Bantu Medis.

k. Fakultas Farmasi

Di Fakultas Farmasi ini, organisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat Fakultas adalah BEM, sedangkan UKM di lingkungan Fakultas ini berada di bawah kepengurusan BEM. Kepengurusan BEM Fakultas Farmasi terdiri dari beberapa bidang, diantaranya adalah bidang kerohanian, yang membawahi UKKI Asy-Syifa’ dan UK3 (Unit Kegiatan Kerohaniahan Kristen); bidang Pengembangan Mahasiswa, yang membawahi beberapa UKM diantaranya Pring Kuning sebagai UKM Pecinta Alam, Lingkar sebagai Lembaga Pers Mahasiswa, dan Esensi yaitu Ekspresi Seni Farmasi; bidang kaderisasi, social, Keuangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bidang eksternal.
Di fakultas ini juga terdapat MPM yaitu Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, yang berfungsi sebagai lembaga pengawas terhadap BEM, kepengurusannya dan kegiatan-kegiatannya.
Di fakultas ini, mahasiswa yang aktif di OMEK tidak banyak, karena sebagaimana di fakultas eksakta yang lain, mereka disibukkan dengan sistem perkuliahan dan praktikum.

l. Fakultas Tehnik

Fakultas tehnik terletak di gedung terpisah jauh dari kampus UNEJ. Fakultas ini berada di daerah Patrang. Walaupun kampus fakultas ini jauh dari kampus pusat UNEJ, namun organisasi mahasiswa juga marak di sana. Sebagaimana di fakultas-fakultas lainnya, BEM Fakultas Tehnik merupakan organisasi kemahasiswaan tertinggi di tingkat fakultas. Di samping itu, terdapat beberapa UKM di Fakultas Tehnik ini diantaranya adalah UKM olah raga, UKM Kesenian Paduan Suara Mahasiswa, UKM Go Car, UKM Robotik, UKM MAHADIKA untuk Pecinta Alam, dan RISTEK sebagai UKKI Fakultas Tehnik.
Fakultas Tehnik ini terdiri dari tiga jurusan, sehingga terdapat tiga HMJ juga yaitu HME untuk jurusan Elektro, HMS untuk jurusan Tehnik Sipil, dan HMM untuk jurusan tehnik mesin. Di setiap kepengurusan HMJ ini terdapat devisi kerohanian Islam. Devisi ini yang melaksanakan kegiatan-kegiatan keislaman seperti peringatan hari-hari besar Islam.

m. Program Studi Kesehatan Masyarakat

Organisasi kemahasiswaan di Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) ini, sebagaimana di Fakultas-fakultas baru, BEM merupakan organisasi mahasiswa tertinggi di Prodi ini, sedangkan UKM berada di bawah kepengurusannya. Kepengurusan BEM di PSKM ini terdiri dari beberapa bidang diantaranya adalah keilmuan dan panalaran, yang membawahi UKM Sinfesta sebagai Lembaga Pers Mahasiswa; bidang Bakat dan Minat, yang membawahi beberapa UKM diantaranya adalah UKM Pecinta Alam, UKM Paduan Suara Mahasiswa, UKM Olah raga, UKM teater PH-95; bidang pengabdian sosial; dan bidang kerohanian, yang membawahi ISPHA sebagai UKKI di PSKM ini.


B. ORGANISASI KEMAHASISWAAN ISLAM INTRA KAMPUS

UKMKI-LDK UNEJ

UKMKI-LDK (Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohaniahan Islam Lembaga Dakwah Kampus) merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di UNEJ. LDK merupakan wadah yang telah disediakan oleh pihak rektorat bagi mahasiswa muslim yang memiliki dedikasi menyebarkan keislaman di kampus dan masyarakat. Selanjutnya menjadi garda depan untuk menuju kampus yang islami.
LDK sebagai UKMKI tingkat universitas yang bernaung di bawah rektorat, dikelola oleh mahasiswa di bawah koordinasi, bimbingan dan pembinaan Pembantu Rektor III. Inti kekuatan LDK UNEJ berada dan berpusat di masjid kampus al-Hikmah Universitas Jember.
Adapun Visi dan misi LDK UNEJ adalah: [8]

- menciptakan generasi muslim yang professional dan berkompeten edalam bidangnya masing-masing
- mencetak generasi muslim yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam)
- menciptakan dan mensyaratkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus
- merajut terbentuknya ukhuwah Islamiyah (visi keumatan)
- menjadikan akidah Islam sebagai pandangan hidup, pola pikir dan pola sikap bagi setiap individu muslim

UKMKI Lembaga Dakwah Kampus Universitas Jember merupakan wadah pembinaan dakwah Islamiyah yang kondusif, yang mampu melahirkan generasi umat yang memiliki intelektualisme tinggi, capable, kokoh dan mampu menjalankan profesi akademisnya dengan landasan keimanan dan ketaqwaan.
Ukhuwah Islamiyah adalah tujuan jangka panjang. Adapun peran dan fungsi LDK adalah sebagai berikut:[9]
- pelayanan dan pemberdayaan potensi umat terutama civitas akademika Universitas Jember
- Laboratorium kegiatan Islam bagi civitas akademika, dan media pengaplikasian nilai-nilai kehidupan Islam.
- Lembaga telaah dan pengkajian Islam.

UKMKI LDK UNEJ adalah UKM tingkat universitas yang bergerak di bidang dakwah kampus, yang berada langsung di bawah koordinasi, bimbingan serta tanggungjawab Pembantu Rektor III yang dibantu Pembina UKMKI LDK UNEJ. Pembinanya adalah Drs. H.M. Syafi’i Noer dan Drs. Ichwan S. Azis, M.Hum.
Untuk mempermudah koordinasi dan geraknya dalam melaksanakan aktivitasnya UKMKI LDK UNEJ secara struktur kelembagaannya adalah sebagai berikut:[10]

Bidang Pendidikan
Bidang ini terdiri dari tiga departemen:
Departemen Pembinaan dan Pengkaderan
- merencanakan dan melaksanakan bimbingan agama Islam untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap Islam.
- melaksanakan kegiatan keagamaan di kampus atau fakultas yang bekerja sama dengan dosen agama Islam, UKMKI tingkat fakultas dan lain-lain
Departemen Pengkajian dan Penalaran
- merencanakan dan melaksanakan kajian Islam kontemporer, kajian Islam tematik, bedah buku, kajian dhuha dll.
- Menyelenggarakan training skill pengembangan wawasan berpikir, seperti latihan kepemimpinan dan manajemen dakwah
Departemen Tsaqafah
- mengembangkan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan tsaqafah islamiyah, seperti khursus bahasa arab, kajian tasfir, Qira’atul Kutub
- Menyelenggarakan kursus baca tulis al-Qur’an (KBTA), Qira’atul mujawwadah dan seleksi Tilawatil Qur’an

Bidang Pengembangan
Bidang ini terdiri dari tiga departemen:
Departemen Pers dan Analisa Data
- mengupayakan media komunikasi dan informasi, seperti majalah opini, majalah dinding, penulisan artikel, bulletin, info LDK dan lain-lain.
- Menyelenggarakan training jurnalistik

Departemen Humas
- menjalin komunikasi dengan pihak yang mempunyai keterkaitan dengan lembaga seperti Senat Mahasiswa, Fakultas, Ormas/ Lembaga Islam, Pondok Pesantren, Tokoh masyarakat, dan lain-lain.
- Menyelenggarakan kegiatan pendukung di atas.
Departemen Sarana Usaha
- mengupayakan pengadaan sarana penunjang aktivitas lembaga dan mobilisasi dana. Adapun bentuk kegiatan yang dilakukan seperti koperasi al-Hikmah, Wartel dan photocopy.
- Menyelenggarakan kegiatan ekonomi Islam penunjang seperti Islamic Expo, Bursa Ramadhan, Bursa Jum’at, dan lain-lain.
Departemen Pengembangan SDM
- mengupayakan pembentukan skill (keahlian)
- mengembangkan keterampilan untuk memberikan dasar wirausaha

Departemen Ekstern
- menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar
- menjalin hubungan yang harmonis dengan civitas akademika
- memberikan pelayanan kepada masyarakat

Bidang Kemuslimahan
Bidang ini terdiri dari dua departemen:
Departemen Studi Muslimah
- Merencanakan dan melaksanakan kajian kemuslimahan, seperti dialog Fiqh Wanita, seminar keputrian, saresehan muslimah dll
- Menyelenggarakan kegiatan pengembangan dan pemberdayaan muslimah melalui studi seputar problema muslimah
- Menjalin komunikasi dengan muslimah LDK lain
Departemen Bina Usaha dan Kreasi Muslimah
- Merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang meningkatkan keterampilan mahasiswi, seperti training tata boga, kreasi muslimah, training muslimah dan lain-lain.
- Menyelenggarakan pengembangan usaha dan kreativitas muslimah lainnya

LDK UNEJ, ditunjuk sebagai koordinator Puskomda IX, dengan wilayah kerja eks karesidenan Besuki (Jember, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, dan Probolinggo)
Untuk menjalin komunikasi antar LDK dibentuk koordinasi antar LDK. Koordinasi LDK se-Indonesia dinamakan Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas). Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) adalah lembaga yang menangani eksternal LDK yang memiliki hubungan dengan PTN/PTS di daerahnya.
Tugas LDK UNEJ sebagai Puskomda adalah menyelenggarakan pertemuan rutin LDK dalam wilayah kerja Puskomda IX; menyelenggarakan dan mengikuti forum silaturrahmi LDK tingkat nasional dan daerah serta mensosialisasikan hasilnya kepada LDK yang termasuk dalam wilayah kerja Puskomda IX; mengadakan muhibah antara LDK, forum komunikasi daerah dan sebagainya.
LDK UNEJ memiliki Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAGZIS). Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menditribusikan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) dari masyarakat. Penyaluran ZIS yang dialokasikan pada bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi umat dan sebagainya. Selain itu, LDK UNEJ juga memiliki Litbang yang berfungsi sebagai Pembina dalam pembinaan keislaman

2. FS-UKI (Forum Silaturrahim Unit Kerohanian Islam)

FS-UKI merupakan forum silaturrahim bagi seluruh UKKI di semua fakultas di lingkungan UNEJ. Berbeda dengan LDK UNEJ yang merupakan organisasi Mahasiswa intra kampus di tingkat Universitas yang berada di bawah koordinasi Pembantu Rektor III, FS-UKI tidaklah demikian. FS-UKI tidak mempunyai sekretariat di dalam kampus, dan tidak mendapatkan fasilitas dari dana kemahasiswaan dan tidak di bawah koordinasi langsung Pembantu Rektor III. FS-UKI, walaupun kondisinya demikian, tetapi FS-UKI mengkoordinasikan UKKI di fakultas-fakultas di lingkungan UNEJ. FS-UKI juga mewakili UKKI pada tingkat regional.
FS-UKI berdiri tahun 2005. Ketika akan diselenggarakan Forum Silaturrahmi LDK Nasional, Puskomnas LDK mengirimkan surat undangan kepada UKKI di masing-masing fakultas di lingkungan UNEJ, yang dialamatkan kepada LDK UNEJ sebagai Puskomda LDK Jember. Namun menurut salah seorang pengurus FS-UKI yang juga mantan ketua FS-UKI, LDK UNEJ ternyata tidak segera menyampaikan surat undangan tersebut. Sehingga Puskomnas LDK menghubungi langsung kepada UKKI Fakultas, dan menginformasikan tentang pengiriman undangan yang dialamatkan kepada LDK Pusat. Sehingga, UKKI fakultas menemui pengurus LDK UNEJ untuk mengambil surat undangan tersebut, namun menurutnya mereka dipersulit. Karena peristiwa itulah, maka UKKI Fakultas menganggap bahwa LDK UNEJ tidak mempu mengakomodir dan mengayomi UKKI fakultas-fakultas. Mereka juga menganggap LDK UNEJ tidak menjalankan fungsinya sebagai Puskomda LDK Jember. Sehingga, UKKI fakultas di lingkungan UNEJ membentuk FS-UKI.
Analisis lain dapat dikemukakan, bahwa LDK UNEJ dan UKKI fakultas-fakultas di lingkungan UNEJ memiliki perbedaan ideology dan pemikiran keislaman. UKKI di setiap fakultas di lingkungan UNEJ didominasi oleh kader-kader KAMMI dan OMEK lain. Sementara itu, LDK UNEJ tidak berafiliasi ke KAMMI ataupun OMEK lainnya. Bahkan LDK UNEJ, menurut ketuanya, tidak ada hubungan dengan OMEK apa pun dan UKKI di fakultas-fakultas di lingkungan UNEJ. LDK UNEJ juga tidak pernah mengadakan kerjasama bahkan mengundang UKKI fakultas.
Memang, LDK UNEJ nampak eksklusif karena tidak menjalin kerjasama dengan OMEK dan OMIK lainnya. Menurut ketuanya, LDK UNEJ terbuka untuk siapa saja, untuk umum, sehingga ketika mengadakan kegiatan, LDK UNEJ ini hanya menempel pamphlet di seluruh fakultas di lingkungan kampus dan sekitar kampus. Sehingga, para pengurus UKKI Fakultas menganggap bahwa LDK UNEJ tidak mengakomodir mereka.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh FS-UKI diantaranya adalah seminar, bedah buku, Islamic Book fair, lomba teater Islami, bazar UKKI Fakultas, lomba majalah dinding Islami, festival nasyid dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat mengkoordinasi UKKI fakultas-fakultas.

3. UKKI Fakultas-Fakultas, antara lain:
a. F-SIAP di Fakultas Pertanian

Forum studi Islam mahasiswa pertanian (F-SIAP) merupakan suatu lembaga dakwah fakultas yang mempunyai tujuan membentuk suatu masyarakat kampus dengan bercirikan intelektualitas dan profesionalitas menuju kebangkitan Islam. F-SIAP berdiri pada tanggal 13 Juli 1990 yang pada saat itu masih bernama Forum Studi Islam Ahad Pagi disingkat F-SIAP. Organisasi ini didirikan atas dasar perasaan senasib, yaitu rasa dahaga akan kesejukan nilai-nilai islam di dunia kampus pertanian.
Visi F-SIAP adalah mewujudkan masyarakat kampus yang islami bercirikan akidah yang kuat, akhlaqul karimah, dan intelektualitas menuju perbaikan umat. Adapun untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka Forum Studi Islam Pertanian (F-SIAP) Universitas Jember melaksanakan aktivitas dakwah yang meliputi :
1. pemantapan pembinaan internal
2. menciptakan suasana yang kondusif dalam rangka peningkatan produktivitas lembaga
3. profesionalisme lembaga dalam hal manajemen adminitrasi dan pengelolaan pendanaan
4. peningkatan sinergisitas dakwah
5. mengintensifkan syiar dakwah
6. peningkatan dan pemberdayaan ummat
7. menjadikan masjid sebagai tempat ibadah, kebudayaan dan perjuangan.
Adapun kegiatan yang dilakukan oleh F-SIAP adalah KRS (Kajian Rabu Sore); SDI (Studi Dasar Islam); Mentoring (Diskusi Kelompok); Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa); BTAQ (Baca Tulis Al-Quran); Rihlah/ Tadabur Alam; Peringatan HBI (Hari-Hari Besar Islam); Bedah Buku/Film; Seminar; Pelatihan; Bakti Sosial dan sebagainya.
Satu hal yang menarik yang diceritakan oleh pengurus F-SIAP di Fakultas Pertanian ini, bahwa mereka sulit untuk menggunakan masjid Nurul Haq Pertanian untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya. Masjid ini selalu digunakan oleh Remaja Masjid Nurul Haq. Bahkan, ketika F-SIAP telah mendapatkan izin dari Takmir untuk menggunakan masjid sebagai tempat untuk kajian Rabu sore, Remaja masjid Nurul Haq juga mnegadakan kajian di hari itu. Padahal, menurutnya menurut Takmir Masjid hari itu belum ada yang menggunakan untuk kegiatan. Sehingga, setiap Rabu sore, terdapat dua kajian di masjid Nurul Haq Pertanian ini.
SIB (Studi Islam Berkala) di Fakultas Hukum

SIB merupakan UKKI di Fakultas Hukum. Kepengurusan UKKI ini dibagi dalam beberapa bidang diantaranya adalah pertama, bidang kaderisasi, yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan PASIB (Penerimaan Anggota SIB) dengan mengadakan rujak party, yaitu acara pekan perkenalan dengan para mahasiswa baru. Acara ini merupakan ajang bagi SIB untuk mempresentasikan tentang SIB dan program-program kegiatannya. Dalam acara ini juga, para pengurus SIB menyebarkan formulir pendaftaran bagi mahasiswa baru, agar bergabung dan menjadi anggota SIB. Bidang ini juga bertanggungjawab atas terlaksananya mentoring tentang keislaman bagi para anggotanya. Bidang ini juga menyelenggarakan rihlah dan tadabbur alam, bedah buku, dan nonton bareng.
Kedua, bidang kemuslimahan, yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan untuk para anggota perempuan, seperti kajian kemuslimahan, seminar dan bedah buku tentang kemuslimahan, bazar buku dan keterampilan-keterampilan keputrian. Ketiga, bidang penelitian dan pengembangan, yang mengadakan kegiatan pelatihan advokasi tentang kasus-kasus hukum. Keempat, Bidang humas yang mengadakan kegiatan pada acara hari-hari besar Islam, kajian dan buka puasa di bulan ramadhan dan sebagainya. Dalam SIB ini ada juga bidang kewirausahaan yaitu dana dan usaha, yang mengupayakan dana untuk membantu pembiayaan kegiatan-kegiatan SIB.
Anggota SIB 50 orang, yang aktif 20 orang. Setiap tahun SIB mengadakan PASIB, yang rata-rata diikuti oleh 5 sampai 10 orang. Anggota dan pengurus SIB terdiri dari kader berbagai OMEK seperti PMII, HMI dan KAMMI. SIB sebagai salah satu UKM di Fakultas Hukum, yang agak sulit untuk berkembang. Salah seorang pengurus SIB bercerita, bahwa kondisi fakultas hukum tidak kondusif bagi SIB, karena mayoritas dosen dan jajaran dekanat adalah orang-orang merah –mereka menyebut golongan merah untuk para kader GMNI—dan bahkan banyak pejabat Fakultas Hukum yang non-muslim. SIB juga tidak memiliki sekretariat sebagaimana UKM lain di Fakultas Hukum.


c. UKKI-MASA di Fakultas FKIP

UKKI-MASA (Moslem Academic Students Activity) adalah salah satu UKM yang berada di FKIP UNEJ. UKKI MASA merupakan wadah bagi mahasiswa muslim untuk meningkatkan kemampuan, minat dan ketrampilan terutama dalam rangka dakwah Islam di tingkat FKIP pada khususnya dan Universitas Jember pada umumnya.
Di FKIP MASA mahasiswa dituntut untuk dapat me-manage waktu serta mampu mengembangkan potensi diri melalui beragam jenis kegiatan yang masih dalam koridor syar’i.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh UKKI-MASA adalah:
Pelatihan Intensif Kreativitas Muslimah; isinya: diskusi, training dan kursus-kursus ketrampilan lainnya seperti merangkai bunga, menjahit, memasak dll.
Ga-Reng ( Mangan Bareng); isinya adalah acara makan-makan bersama guna mempererat ikatan emosional para anggota juga UKKI dari fakultas lain.


d. SIKLUS di Fakultas FISIP

SIKLUS (Studi Islam Lingkup FISIP) merupakan UKKI di FISIP. SIKLUS ini berdiri tahun 1994, dan eksis hingga tahun 1997. Namun dalam perjalanannya, SIKLUS vakum, yaitu tahun 1998 sampai tahun 2001, dan tahun 2002 hingga saat ini kembali aktif.
Kepenguruan SIKLUS terdiri dari beberapa bidang diantaranya adalah bidang kaderisasi, yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan ODI (Orientasi Dasar Islam) sebagai pelatihan bagi calon anggota baru, mengadakan mentoring bagi para anggota, dan mengadakan kegiatan-kegiatan mabit. Bidang Kemuslimhan, yang bertanggungjawab atas kegiatan kemuslimahan seperti kajian-kajian dan keterampilan untuk para anggota perempuan. Bidang ini juga melaksanakan bakti sosial, riyadhah, bela diri dan sebaganya. Di samping itu, terdapat bidang Syiar, yang melaksanakan bedah buku, seminar, dan penerbitan bulletin serta majalah dinding.

Bastiling di Fakultas Ekonomi

Bastiling (Lembaga Studi Islam dan Lingkungan) merupakan UKKI di Fakultas Ekonomi. Kepengurusan Bastiling ini dibagi dalam beberapa bidang, yaitu bidang I, bidang Sumber Daya Insani, yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan mentoring dan penyediaan para mentor, sehingga bidang ini juga melaksanakan pelatihan bagi para mentor. Bidang ini juga bertanggungjawab dalam pelaksanaan pelatihan-pelatihan bagi anggota baru dan juga anggota lama serta pengurus Bastiling. Pelatihan di Basting di bagi menjadi dua tahap, yaitu LDMD I (Latihan Dasar Manajemen Dakwah) bagi para anggota baru. Materi dalam LDMD ini adalah pengenalan tentang bastiling, tentang keislaman dasar, hafalan 10 ayat dari surat Ali Imran, dan outbon untuk melakukan permainan-permainan yang berkaitan tentang kerjasama tim. Sementara itu, LDMD II, diperuntukkan bagi anggota lama yang akan menjabat sebagai pengurus Bastiling, materi LDMD II ini lebih ditekankan pada manajemen keorganisasian, dan kepemimpinan.
Bidang II yaitu bidang sosial dan dakwah, yang melaksanaan kajian-kajian Romadhan, peringatan hari besar Islam, membantuk Bazis, melaksanakan bakti sosial, membuat majalah dinding dan bulletin. Bidang ini juga mengurus kegiatan di desa binaan, yaitu dengan menyelenggarakan bimbingan belajar bagi anak-anak TK sampai kelas VI SD, untuk berbagai mata pelajarannya. Bidang III, yaitu KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam), yang mengadakan kajian dan diskusi-diskusi tentang ekonomi Islam , bedah buku, kuliah informal tentang ekonomi Islam. Kajian ini mengundang para dosen Fakultas Ekonomi UNEJ sendiri, dan para pakar ekonomi Islam dari perguruan tinggi lainnya, bahkan dari kota lain seperti UNAIR Surabaya. Wacana Ekonomi Islam memang sedang semarak saat ini. KSEI ini juga telah membangun jaringan se-Indonesia. Hal ini juga mendapat sambutan baik dari pihak fakultas atau dekanat, bahkan akan dibuka Program Studi Ekonomi Islam. Bidang IV yaitu bidang kemuslimahan sebagai wadah aktivitas dan kreativitas bagi para anggota perempuan. Bidang ini menyelenggarakan kajian kemuslimahan, keterampilan-keterampilan dan bedah buku sebagainya.
UKKI ini sering memanfaatkan musholla sebagai fasilitasnya dan tempat ntuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan. Pihak dekanat (Pembantu Dekan III dan pembantu Dekan II) juga sangat memperhatikan kegiatan mereka.
Anggota Bastiling ini mayoritas merupakan kader KAMMI. Para mentor dan pemateri yang diundang dalam mentoring ataupun kajian-kajian lainnya juga banyak yang berasal dari para murabbi dan murabbiyah KAMMI, serta dari FS-UKI. Ketika mengadakan rapat di sekretariat, atau kegiatan lainnya mereka menggunakan hijab, sebagai pembatas antara ruangan laki-lakid an perempuan.
Bastiling menyelenggarakan rekruitment anggota setiap tahun. Anggota baru yang masuk sekitar 20 sampai 30 anggota. Namun pada perkembangannya, hanya separuh anggota bartu yang aktif. Setiap periode, anggota aktif berjumlah sekitar 40 orang.


f. LEKFAS di Fakultas Sastra

LEKFAS (Lembaga Kerohaniahan Fakultas Sastra) merupakan UKKI yang berbeda coraknya dengan UKKI di fakultas lain, karena LEKFAS bukan hanya untuk kerohaniahan Islam, nelainkan juga menaungi beberapa agama dalam satu kelembagaan. Menurut Bapak Taufiq, SS, dosen ISBD di UPTBSMKU UNEJ, alumni Fakultas Sastra yang juga pernah menjadi aktivis LEKFAS, menyatakan bahwa LEKFAS ini berdiri dilatarbelakangi oleh peristiwa Situbondo dan peristiwa-peristiwa lain tentang ketegangan serta konflik antar agama. LEKFAS berdiri untuk mengembangkan dan mensosialisasikan wacana pluralisme agama dan toleransi antara agama. Dahulu, dalam satu lembaga LEKFAS beranggotakan para mahasiswa dari berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda. LEKFAS tidak hanya mengkaji tentang keislaman, dan anggotanya tidak hanya terdiri dari mahasiswa Islam.
Namun dalam perkembangannya, kepengurusan LEKFAS saat ini terbagi menjadi devisi kerohanian Islam dan kerohanian Kristen. Saat ini, wacana pluralisme tidak lagi menjadi mainstream wacana di UKKI ini, walaupun masih juga dikaji. Kajian terkelompokkan dalam kajian keislaman dan kerohaniahan lain.
Pergeseran ini disebabkan karena peralihan kepengurusan di LEKFAS. Pada awal pendiriannya, LEKFAS didominasi oleh para kader PMII, yang cenderung mengembangkan wacana moderat dan liberal. Namun, kini terdapat beberapa kader KAMMI yang masuk di LEKFAS, bahkan ketua umum tahun 2007 ini adalah kader KAMMI.
Kepengurusan LEKFAS saat ini terbagi dalam beberapa bidang yaitu pertama, bidang keagamaan yang dibagi menjadi devisi Islam dan devisi Kristen. Bidang inilah yang bertanggungjawab untuk melaksanakan diskusi-diskusi dan kajian keagamaan. Kedua, bidang Litbang (Penelitian dan Pengembangan), yang bertanggungjawab untuk melaksanakan perkaderan di LEKFAS. Rekruitmen anggota LEKFAS dilaksanakan dengan mengadakan kajian-kajian di LEKFAS. Bagi anggota baru anggota baru dilaksanakan forum kajian LEKFAS dan disumpah untuk menjadi anggota. Setiap tahun, anggota baru LEKFAS rata-rata berjumlah 20an orang. Ketiga, bidang Humas, bertanggung jawab terhadap terjalinnya jaringan dengan UKM lainnya di Fakultas sastra dan organisasi kemahasiswaan lainnya di lingkungan UNEJ.

g. IONS di Fakultas MIPA

IONS (Islamic Organizations Of Mathematics and Natural Science) merupakan sebuah Unit Kerohanian Islam yang bergerak untuk dakwah kampus yang memiliki status dan peran yang strategis dalam rangka menyebarkan aktivitas dakwah Islam.
Secara legal formal, IONS berada di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember dan kedudukannya berada di bawah Badan Eksekutuf Mahasiswa (BEM) F-MIPA UNEJ.
Pada tahun 1997, Fakultas MIPA baru berdiri dan belum ada Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF). Kemudian, beberapa mahasiswa angkatan 1997 yang terdiri dari semua jurusan di MIPA berinisiatif mendirikan UKMF yang diberi nama Rohis MIPA (Kerohanian Islam MIPA) sebelum senat mahasiswa dan BEM bendiri.
Seiring dengan perkembangan MIPA, Rohis MIPA mengalami banyak cobaan dalam perjalanannya, bahkan nyaris tidak ada kegiatan karena sistem regenerasi yang tidak berjalan. Pada tahun 1999, Rohis MIPA mengadakan Musyawarah Anggota dan menghasilkan sebuah perubahan yang sangat besar untuk kemajuan Rohis MIPA ke depan. Kemudian nama Rohis diganti dengan Islamic Organizations Of Mathematics and Natural Science (IONS).
IONS mempunyai visi untuk membentuk intelektual muslim yang berpondasi pada kekuatan akidah Islam serta beramar ma’ruf nahi munkar demi terciptanya khoiru ummah.
Adapun misi IONS adalah:[11]
Melahirkan pribadi-pribadi muslim yang mampu berdakwah secara professional dan mampu beradaptasi dengan perkembangan IPTEK.
Membina keimanan, ketakwaan dan akhlak berdasarkan al Qur’an dan Sunnah.
Menciptakan IONS sebagai UKM yang Robbaniyah.

Kepengurusan IONS terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang I kaderisasi, yang betanggungjawab dalam pelaksanaan SDI (Studi Dasar Islam), yaitu forum pelatihan bagi para calon anggota baru. Bidang II, bidang Syiar Islam yang mengadakan kajian-kajian keislaman di IONS. Bidang III, bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa, yang menerbitkan bulletin dan majalah dinding, dan bidnag IV yaitu bidang kemuslimahan, sebagai wadah aktivitas dan kreativitas bagi para anggota perempuan. Bidang ini menyelenggarakan kajian kemuslimahan dan keterampilan-keterampilan.
Rekruitmen anggota baru IONS dilaksanakan setiap tahun sekali atau kadang dua kali, dengan jumlah anggota baru sekitar 10 sampai 15 orang. Setiap periode, anggota IONS yang aktif hanya sekitar 20 orang, dan itu adalah personil pengurus IONS. Memang menurut para aktivis mahasiswa FMIPA, di fakultas ini sulit bagi mahasiswa untuk aktif di organisasi, karena mahasiwa disibukkan dengan sistem perkuliahan dan praktikum.
Saat ditanya tentang keberadaan kader-kader OMEK dalam keanggotaan IONS, ketuanya menjawab bahwa memang dahulu pada awalnya anggota dan pengurus IONS adalah kader-kader KAMMI, namun saat ini campuran, anggota IONS terdiri dari para kader KAMMI, HMI dan PMII.

h. Kosinus Teta di Fakultas Teknologi Pertanian

Kosinus Teta merupakan UKKI di Fakultas Teknologi Pertanian. UKKI ini setiap tahunnya menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya SDI (Studi Dasar Islam) bagi para anggota baru Kosinus Teta. UKKI ini juga melaksanakan mentoring bagi para anggota dan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian ini. Mentoring ini bersifat terbuka, bagi siapa saja yang berminat untuk mengikuti mentoring, dan tidak diwajibkan.
Pengurus UKKI ini juga mengadakan program pelatihan bahasa Arab, yang diikuti oleh para anggota dan mahasiswa FTP lainnya. Kajian-kajian keislaman juga secara rutin dilaksanakan, demikian juga kajian akbar dalam moment-moment tertentu. Seperti paket Ramadhan, dengan berbagai kegiatan seperti buka puasa bersama, kajian dan sebagainya. Untuk menjalin hubungan dengan masyarakat di luar kampus, Kosinus Teta juga melaksanakan kegiatan bakti sosial. Bidang kemuslimahan sebagai wadah aktivitas dan kreativitas bagi para anggota perempuan, juga melaksanakan kajian-kajian kemuslimahan.

i. ID (Islamic Dental) di Fakultas Kedokteran Gigi

Berbeda dengan UKKI di fakultas lainnya, ID beranggotakan seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Sehingga keanggotaan terdiri dari anggota biasa, anggota tetap dan anggota pengurus. Anggota biasa yaitu seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, sedangkan anggota tetap atau anggota aktif adalah anggota yang telah mengikuti SIDNI I (Studi Intensif Dasar-dasar Nilai Islam). Sementara itu, anggota pengurus disyaratkan harus mengikuti SIDNI II.
Kepengurusan ID ini terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang I, bidang Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, yang mebawahi departemen kaderisasi dan kemuslimahan. Departemen kaderisasi inilah yang bertanggungjawab dalam rekruitmen anggota ID, dan pelaksanaan SIDNI I dan SIDNI II. SIDNI I merupakan pelatihan bagi para anggota baru untuk menjadi anggota tetap atau anggota aktif ID. Materi pelatihan ini antara lain adalah pengenalan tentang ID dan kajian keislaman dasar. Adapun materi SIDNI II yang diperuntukkan bagi calon pengurus ID, lebih menekankan pada manajemen kepemimpinan dan kepengurusan organisasi. Departemen kaderisasi ini juga melaksanakan mentoring bagi para anggota baru. Mentoring dilaksanakan dengan membentuk kelompok-kelompok. Satu periode mentoring sekitar 4 kelompok, dan jumlah keseluruhan peserta sekitar 25 orang. Pada awalnya, satu kelompok mentoring hanya terdiri dari 3 orang. Namun, kemudian 3 orang tersebut mengajak teman-temannya, atau teman-teman lainnya juga tertarik untuk mengikuti mentoring, sehingga bisa mencapai 6 sampai 7 orang. Materi mentoring ini antara lain adalah baca dan tulis al-Qur’an, fiqh, dan materi keislaman dasar lainnya. Departemen kaderisasi ini juga melaksanakan kajian-kajian rutin. Kajian rutin ini berupa kajian keislaman, yang mengambil tema-tema kedokteran dalam perspektif Islam, misalnya bedah mayat dalam hukum Islam. Kajian lain yang dilaksakan oleh departemen ini adalah kajian umum tentang motivasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas anggota.
Bidang II yaitu bidang Syiar, yang melaksanakan peringatan-peringatan hari besar Islam, kegiatan bulan ramadhan dan menerbitkan majalah dinding. Bidang III yaitu bidang Pengabdian Umat atau Sosial Kemasyarakatan, yang bertanggungjawab terhadap terjalinnya hubungan ID dengan masyarakat sekitar kampus. Mereka melaksanakan bakti sosial, membagikan daging kurban, mengurus dan membagikan zakat dan sebagainya.
Hubungan antara ID dan para civitas akademika Fakultas Kedokteran Gigi ini terjalin dengan baik. Fakultas sering mengadakan kajian Islam bersama, yang dihadiri oleh para dosen, karyawan dan mengudang para anggota dan pengurus ID. Para dosen dan karyawan juga menyalurkan zakat fitrah dan kurban melalui ID untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

j. IMSAC di Fakultas Kedokteran

IMSAC (Islamic Medical Students Association) merupakan organisasi intra kampus yang berbentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yang berkedudukan di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
IMSAC FK UNEJ, selaku Forum UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam). Fakultas Kedokteran UNEJ di bawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa, menjalin kerja sama baik nasional maupun multi nasional dengan:
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran se-Indonesia (FULDFK)
Indonesia Islamic Medical Association (IIMA)
Islamic Medical Associattion of Kingdom of Saudi Arabia (IMAKSA)/ Word Assembly of Moslem Youth (WAMY).
Federation of Islamic Medical Association (FIMA)

Kepengurusan IMSAC terdiri dari beberapa bidang yaitu pertama bidang keakademikan, yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:[12]
a. Bank Soal
Program ini dilaksanakan dengan bekerja mengumpulkan soal-soal mulai dari zaman batu sampai zaman reformasi sekarang ini yang tentunya bermanfaat bagi anggota.
b. Jentiran
Program ini dilaksanakan dengan untuk membantu anggota yang kesulitan dalam memahami materi kuliah.
c. Islamic Movie
Program ini bergerak di bidang pemilihan dan pemutaran film-film tentang dunia kedokteran.
d. Try Out
Program ini bertujuan melatih para anggota agar siap secara mental maupun intelektul untuk membuktikan hasil belajar selama satu semester.
e. Rihlah, yaitu adalah program jalan-jalan atau rekreasi.


Kedua, bidang keprofesian, yang melaksanakn kegiatan sebagai berikut:

a. Bakti Sosial
Program ini dapat berupa pengobatan murah/gratis, sirkumsisi/sunatan massal dan lain-lain yang merupakan kerja sama antara IMSAC (FKU), ID (FKG), PSKM (ISPHA), PSIK dan PS Farmasi.
b. Tenda Tensi Minggu
Program ini berupa latihan tensi menensi, tes kebugaran jasmani dan lain-lain yang diadakan dua minggu sekali.
c. Seminar Profesi
Kegiatan ini merupakan bidang yang paling inti diantara kegiatan-kegiatan yang lain.
d. Les Bahasa Madura
Kegiatan ini diperlukan mengingat mayoritas penduduk kota Jember adalah suku Madura, jadi bahasa Madura sangat diperlukan demi kelancaran komunikasi antara dokter dan pasien.

Ketiga, bidang pembinaan, yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Sirkulasi (Siraman Kalbu dalam Nuansa Islami)
Kegiatan ini berupa kajian kedokteran Islam, fiqh kedokteran, diskusi dll.
b. Penisilin (Pelatihan dan Studi Dasar Islam Lingkup PSPD) FK UNEJ I & II
Kegiatan ini khusus diikuti oleh calon pengurus IMSAC.
c. TCC (The Circle Club)
Kegiatan ini merupakan kegiatan sejenis mentoring.

d. JFY (Just For You)
Program ini berupa penyebaran selebaran ke masing-masing angkatan yang dilaksanakan seminggu sekali.

Keempat, bidang humas, yang bertanggungjawab dalam melaksanakan keagiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Mading
Program ini adalah sebagai sarana informasi tentang IMSAC maupun pengetahuan kedokteran yang terbaru.
b. Al Ishlah
Ini adalah nama bulletin yang merupakan karya anggota IMSAC yang diperuntukkan bagi semua penghuni FK UNEJ.
c. RDK
Kegiatan ini digunakan sebagai sarana mempererat ukhuwah diantara mahasiswa FK yang biasanya diadakan pada bulan Ramadhan dengan diikuti aksi sosial baik dalam kampus maupun diluar kampus.
d. Welcome Party
Acara ini diadakan guna menyambut mahasiswa baru di fakultas kedokteran.
e. FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran), merupakan wadah shilaturahmi para mahasiswa kesehatan dan dokter-dokter muslim se Indonesia.
f. FSUKI (Forum Shilaturahmi Unit Kerohanian Islam), merupakan forum silaturahmi antar fakultas di UNEJ.


k. Asy-Syifa’ di Fakultas Farmasi

Asy-syifa’ merupakan UKKI di Fakultas Farmasi. Kepengurusannya terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang Eksternal, yang bertanggungjawab dalam hal publikasi dan informasi, membuat mailing list, mengadakan silaturahim, dan sebagainya; Bidang iptek, yang menyelenggarakan pendidikan dan tentir bagi adik-adik tingkat; bidang kaderisasi yang melaksanakan up greading; bidang takmir yang bertanggungjawab untuk mengurus mushalla Asy-Syifa’, tempat UKKI ini beraktivitas, serta menyiapkan infrastruktur untuk shalat di mushalla ini, termasuk kebersihannya; bidang SKI (Sejarah Kebaidayaan Islam), yang bertanggungjawab dalam pengadaan kajian-kajian keislaman, seperti kajian tentang kebudayaan dan peradaban Islam, kajian hukum Islam misalnya rokok dalam hukum Islam dan sebagainya; bidang kemuslimahan, yang menjadi wadah bagi para anggota perempuan untuk mengikuti kajian-kajian kemuslimahan dan pelatihan-pelatihan keterampilan.
Rekruitmen anggota dilaksanakan setiap tahun, ketika pekan mahasiswa baru. Mahasiswa baru diundang dalam acara rujak party. Dalam acara ini, para pengurus Asy-Syifa mempresentasikan tentang profil dan kegiatan-kegiatannya. Dalam acara ini pula, mereka menyebarkan formulir bagi para mahasiswa baru, untuk masuk menjadi anggota UKKI Asy-Syifa’. Diantara mahasiswa baru Fakultas farmasi yang berjumlah sekitar 70 sampai 100 orang pertahun, hanya sekitar 10 orang yang masuk menjadi anggota Asy-Syifa’. Anggota Asy-Syifa saat ini berjumlah sekaitar 40 orang. Mereka terdiri dari berbagai kader OMEK yang ada yaitu KAMMI, HMI, PMII dan IMM. Dalam kepengurusan dan kegiatan UKKI ini mereka yang berasal dari OMEK yang berbeda-beda menyatu tanpa sekat-sekat warna bendera ideologis. Hal ini dapat dilihat bahwa ketika mereka mengadakana rapat dan kegiatan lain, hijab tidak digunakan.

l. RISTEK di Fakultas Tehnik

RISTEK (Kerohaniahan Islam Tehnik) merupakan UKKI Fakultas Tehnik. Kepengurusan RISTEK terdiri dari tiga bidang yaitu bidang kaderisasi, yang bertanggungjawab terhadap rekruitmen anggota dan pembinaan anggota; bidang Keislaman yang melaksanakan kajian-kajian keislaman dan bidang humas yang bertanggungjawab dalam pembangunan jaringan dengan organisasi lain serta pemabuatan majalah dinding.
Kegiatan-kegiatan yanag dilaksanakan oleh RISTEK antara lain adalah mabit (malam bina iman dan taqwa), bubarku yaitu buka bersama dan bedah buku, talkshow sejuta kisah Rasulullah, dan bakti sosial, serta peringatan hari-hari besar Islam.
Anggota RISTEK relatif sedikit, karena memang mahasiswa tehnik terlalu disibukkan dengan praktikum, sehingga sulit bagi mereka untuk aktif di organisasi. Sebenarnya RISTEK memiliki anggota sekitar 50 orang, namun yang aktif mengikuti kegiatan dan kajian-kajian keislaman rutin di RISTEK biasanya hanya dihadiri sekitar 10 orang. Pengurus RISTEK juga hanya 6 orang. Anggota RISTEK ini juga berasal dari berbagai OMEK seperti KAMMI, HMI, PMII dan IMM, walaupun nampak kegiatan-kegaitannya merupakan konsep kaderisasi KAMMI.


m. ISPHA di Program Studi Kesehatan Masyarakat


ISPHA (Islamic Students of Public Healt Association) sebagai UKKI di PSKM, berada di bawah kepengurusan BEM PSKM, yaitu di bawah bidang kerohaniahan BEM PSKM. Kepengurusan ISPHA terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang kaderisasi dan Kajian Keilmuan, bidang informasi dan komunikasi, bidang kemuslimahan serta bidang dana dan usaha.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh ISPHA, biasanya juga bekerjasama dengan bidang kerohaniahan BEM PSKM. Diantara kegiatannya adalah:
- tomingse yaitu tausiyah menjelang ujian, untuk mempersiapkan mental menghadapi ujian. Dalam acara ini para anggota atau peserta diajak untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, atas apa pun hasil ujian yang akan diperoleh.
- Ngabar pakomdis, yaitu ngaji bareng pakai compact disk atau kajian dan nonton bareng. Kegiatan ini dilakukan dengan memutar film-film kesehatan yang dikaitkan dengan kajian keislaman, misalnya aborsi dalam perspektif Islam.
- Pembagian takjilan di bulan ramadhan, dan pembagian daging kurban pada hari raya Idul adha
- Peringatan hari-hari besar Islam dan sebagainya.
Kegiatan-kegiatan tersebut sering dilaksanakan bekerjasama dengan LDK UNEJ, terutama para pematerinya. Karena para pengurus LDK UNEJ adalah juga mahasiswa PSKM.

C. ORGANISASI KEMAHASISWAAN EKSTRA KAMPUS (OMEK)
1. PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

PMII merupakan OMEK yang beranggotakan mayoritas mahasiswa di UNEJ, yang tersebar di seluruh Fakultasnya. Menurut para pengurus PMII dinyatakan bahwa:
Anggota PMII Jember berdasarkan basic/ dasar keilmuan terdiri dari mahasiswa ilmu eksakta, sosial dan agama; Anggota PMII Jember berdasarkan basic sosio-kultur berasal dari desa sub-urban (pinggiran kota) dan sebagian sudah merambah ke wilayah perkotaan; Secara kuantitas, berdasarkan jenis kelamin, kader PMII Jember mengalami banyak perkembangan, terutama berimbangnya jumlah kader putera dan puteri; Secara ideologis, kader PMII tidak hanya berasal dari kader cultural (NU Minded), namun telah mengalami perubahan yaitu dari kaum modernis maupun kaum abangan (di luar pesantren). [13]

OMEK ini juga menguasai beberapa OMIK di tingkat Fakultas di lingkungan UNEJ. Para pengurus BEM dan HMJ di beberapa fakultas didominasi oleh PMII. Sehingga, banyak kader PMII bukan hanya dari kalangan NU. Tetapi, terdapat beberapa kader Muhammadiyah juga menjadi pengurus PMII Cabang Jember –sebagai strategi aktualisasi diri dalam gerakan.
PMII Cabang Jember memiliki dua komisariat yaitu komisariat STAIN Jember dan Komisariat UNEJ. Komisariat UNEJ ini terdiri dari beberapa Rayon di masing-masing fakultas di lingkungan UNEJ. Corak wacana dan kegiatan PMII di setiap rayon ini berbeda. Di Rayon-rayon Fakultas eksakta, cenderung mengembangkan kegiatan ala pesantren seperti kajian kitab kuning, sedangkan di fakultas-fakultas sosial dan humaniora mengembangkan wacana sosial keislaman yang moderat dan cenderung liberal. Yasin dan Tahlil di semua sekretariat rayon merupakan ritual mereka setiap malam jum’at.
Kepengurusan PMII dibagi dalam beberapa bidang yaitu:[14]
1. Bidang Internal, yang membawahi beberapa departemen diantaranya adalah:
Kaderisasi, yang melaksanakan program sebagai berikut: Pembuatan kurikulum kaderisasi (pembuatan draft, workshop dan pembukuan kaderisasi); Pengembangan SDM kaderisasi (TOT kaderisasi); Media pemberdayaan kader (lembaga riset yang memadai); Kaderisasi formal (PKD zona-zona); Distribusi kader (pendelegasian).
Pengembangan wacana, yang melaksanakan program sebagai berikut: Media pengembangan wacana kader (lembaga pers dan penerbitan, pusat kajian Islam); Transformasi wacana (diklat pemikiran, diklat ilmiah dan diskusi periodik)
Hubungan internal, yang melaksanakan program sebagai berikut: Transformasi informasi (Turba periodic); Sistem koordinasi bersama (sharing rayon dan komisariat); Pendampingan rayon/ komisariat (pengawalan); Pembentukan zona-zona kaderisasi; Diskusi rutin; Pembuatan ontologi gerakan; Short course manajemen gerakan; Short course manajemen aksi; Penyikapan isu local dan nasional; Pembuatan bulletin gerakan
2. Bidang eksternal yang membawahi beberapa departemen yaitu:
A. Advokasi, yang melaksanakan program sebagai berikut: Short course advokasi anggaran; Pembentukan Tim Advokasi; Baksos pertanian; Monitoring APBD; Pemantauan Pilkada; Diskusi rutin Pilkada; Diskusi analisa kebijakan daerah; dan Up grading Advokasi anggaran
B. pengembangan jaringan, yang melaksanakan program sebagai berikut: Konsolidasi kekuatan intra kampus; Pengawalan berdirinya BEM di PT Jember; Konsolidasi ekstra lain; dan Serap aspirasi BEM PT Jember

3. Bidang Gender dan Pemberdayaan Perempuan, yang membawahi beberapa departemen diantaranya adalah:

Pendidikan dan Pelatihan, yang melaksanakan program sebagai berikut: Sekolah gender; Diklat politik perempuan; Pembuatan buletin perempuan
B. Advokasi kader perempuan, yang melaksanakan program sebagai berikut: Identifikasi persoalan kader perempuan; Kajian/diskusi rutin; Membentuk wadah non-formal; Memberikan kesadaran wacana gender pada masyarakat

2. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)

OMEK ini merupakan OMEK terbesar di UNEJ setelah PMII. Kader-kadernya tersebar di semua fakultas di lingkungan UNEJ. Sehingga HMI Cabang Jember terdiri dari beberapa komisariat yaitu komisariat FISIP, FKIP, Sastra, Ekonomi, Hukum, Pertanian dan Teknologi Pertanian, komisariat FMIPA, Kedokteran dan kedokteran Gigi, komisariat Fakultas Tehnik, serta komisariat Fakultas Farmasi.
HMI merupakan organisasi kader, yang melaksanakan pembinaan anggota melalui perkaderan formal yaitu LK I, LK II, dan LK III; serta perkaderan non-formal yaitu Senior Course, dan perkaderan informal yaitu pelatihan-pelatihan lain dalam rangka meningkatkan potensi, minat dan bakat anggota, seperti pelatihan jurnalistik, metode penelitian, advokasi, serta diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakannya.
Organisasi ini bertujuan agar terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi dan bernafaskan Islam, yang bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt.
Kepengurusan OMEK ini dibagi dalam beberapa bidang diantaranya adalah:
- Bidang Pembinaan anggota, yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan proses perkaderan di wilayah kepengurusannya seperti melaksanakan LK I, LK II dan sebagainya.
- Bidang Perguruan Tinggi, Kepemudaan dan Kemahasiswaan, yang bertanggungjawab terhadap permasalahan kepemudaan dan kemahasiswaan. Sehingga, isu-isu seputar kampus dan daerah dibahas dan digulirkan melalui bidang ini, dan aksi-aksi juga sering dikoordinasi oleh bidnag ini.
- Bidang Pembinaan Aparat Organisasi (PAO), yang bertanggungjawab terhadap pembinaan komisariat-komisariat dan bidang-bidang serta badan semi otonom di bawah kepengurusannya. Tugasnya seperti melaksakan up greading kepengurusan, melantik pengurus dan sebagainya.
- Bidang kekaryaan, yang bertanggungjawab terhadap pengembangan minat dan bakat anggota. Sehingga, bidang ini mempunyai beberapa badan khusus seperti Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) dan sebagainya.
- Bidang kesekterariatan, yang bertanggungjawab terhadap surat-menyurat di organisasi ini.
- Bidang Pemberdayaan Perempuan, yang bertanggungjawab terhadap pembinaan para kader perempuan yang tergabung dalam sebuah wadah yaitu KOHATI (Korp HMI-wati).
- Bidang Litbang (Penelitian dan Pengembangan), yang bertanggungjawab terhadap problem solving kepengurusan dan permaslahan HMI di wilayah kepengurusannya.

3. GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia)

GMNI merupakan OMEK yang relatif besar di UNEJ. GMNI Cabang Jember memiliki delapan (8) komisariat, yang tujuh diantaranya di UNEJ. Hanya satu komisariat yang di luar kampus UNEJ, yaitu politehnik, yang dahulu juga bagian dari UNEJ. Tujuh komisariat GMNI tersebut tersebar di berbagai fakultas di lingkungan UNEJ, yaitu komisariat Fakultas Hukum, Ekonomi, Sastra, FISIP, FKIP, Tehnik dan komisariat care taker PSKM.
Kepengurusan di GMNI terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang politik, kebudayaan, sosial dan kaderisasi. Di GMNI ini kader perempuan (sarinah) tidak diorganisir secara tersendiri dalam sebuah badan khusus, melainkan membaur dalam satu lembaga yang sama dengan para kader laki-laki.
Menurut Ketua Bidang Kaderisasi GMNI Cabang Jember, kini jumlah anggotanya yang aktif hanya sekitar 200 orang. Menurutnya, saat ini mahasiswa banyak yang berpikir pragmatis, sehingga mereka hanya menfokuskan pada kuliah, dan enggan untuk aktif di organisasi. Bahkan saat ini budaya hedonis telah masuk di kalangan mahasiswa, sehaingga organisasi menjadi tidak menarik bagi mereka. Oleh karena itu, jumlah anggota semakin menurun.
Menurutnya, GMNI Cabang Jember saat ini lebih consent ke masalah-masalah kedaerahan dari pada masalah kampus. Ketika ditanya tentang masalah BEM Universitas dan kepentingan politik di kampus UNEJ, dikatakan bahwa mereka tidak menghendaki terbentuknya BEM Universitas dan BEM di beberapa Fakultas yang belum terbentuk, karena secara hitung-hitungan mereka merasa akan kalah dan tidak mendapatkan posisi yang strategis di kepengurusan. Mereka lebih consent dengan permasalahan daerah, seperti mengkritisi kebijakan Pemerintah Daerah, advokasi kasus penutupan Lokalisasi di Puger – yang saat ini terjadi—dan sebagainya.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

KAMMI merupakan organisasi ekstra kampus yang berbasis mahasiswa. Menurut para pengurusnya, KAMMI lahir pada tahun 1997 saat terjadinya krisis multidimensi. Pada awalnya KAMMI hanyalah sebuah aksi yang digerakkan oleh lembaga-lembaga dakwah kampus untuk menyuarakan keprihatinan mereka atas nasib bangsa yang semakin terpuruk akibat KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di bawah pemerintahan otoriter Orde Baru. Sejarah mencatat bahwa KAMMI telah menorehkan titik-titik besar dalam gambar bangsa Indonesia yang sedang berubah sejak 1998 lalu.
Lanjutnya, bahwa setidaknya ada 3 titik penting yang melekat pada gambar tersebut, yaitu: Pertama, tekanan politik besar yang diproduksi secara nasional terhadap rezim Soeharto (8 April-20 Mei 1998). Kedua, eksistensinya sebagai gerakan mahasiswa Islam yang outstanding dan leading di tengah kelesuan panjang Ormas Islam Extra Kampus. Ketiga, performa handalnya sebagai kelompok aksi demokrasi yang konsisten, visioner dan moderat. Identitas Islam yang dibawanya lebih menjadi warna kepribadian organisasi dan kader-kadernya dibandingkan identitas simbolik yang membawa terciptanya Fragmentasi da Apriori.
KAMMI merupakan wadah perjuangan permanent yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia. Hal ini merupakan visi OMEK ini.
Adapun misinya adalah:[15]
Membina keislaman, keimanan dan ketakwaan mahasiswa muslim Indonesia.
Menggali, mengembangkan dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial dan politik mahasiswa.
Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat yang robbani, madani, adil dan sejahtera.
Mempelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas dan kerja sama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
Mengembangkan kerja sama antar elemen masyarakat dengan membawa kebaikan, menyebar manfaat dan mencegah kemungkaran.

Prinsip Gerakan organisasi ini terumuskan sebagai berikut: [16]
Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
Kebatilan adalah musuh abadi KAMMi
Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
Kebaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
Persaudaraa adalah watak muamalah KAMMI

Di Jember, kepengurusan KAMMI disebut dengan Kamda (KAMMI Daerah) Jember, yang dibentuk pada tanggal 30 Maret 1998. Kamda (KAMMI daerah) Jember merupakan salah satu jaringan daerah wilayah KAMMI teritorial VI (hasil muktamar III KAMMI di Lampung, 2-8 September 2002) yang mana sebelumnya dalam wilayah KAMMI territorial VII.
KAMMI daerah Jember dalam struktur organisasinya saat ini memiliki 5 departemen dan 3 biro. Kelima departemen itu meliputi Departemen Kaderisasi, Departemen Kajian Strategis (Kastral), Departemen Sosial Masyarakat (Sosmas), Departemen Pembinaan Satuan (Binsat) dan Departemen Dana dan Usaha (Danus). Adapun biro, meliputi Biro PO (Pengembangan Organisasi), dan Biro Humas (Hubungan Masyarakat).
KAMMI daerah Jember mempunyai beberapa komisariat yang tersebar di beberapa gabungan fakultas dan perguruan tinggi. Diantara Komisariat tersebut adalah:
1. Komisariat Eksakta

Komisariat exacta ini merupakan gabungan dari beberapa fakultas eksakta di Universitas Jember, yaitu FMIPA (matematika-IPA), FTP (teknik pertanian), FP (pertanian), PSKM (kesehatan masyarakat), Farmasi, Teknik, FKG (kedokteran gigi), FK (kedokteran). Kegiatan yang dilaksanakan di komisariat ini antara lain adalah Daurah Marhalah (DM) yang merupakan salah satu ajang perekrutan anggota KAMMI; Kajian-kajian Keislaman, yang digunakan untuk menambah pengetahuan tentang keislaman yang diadakan 1 bulan sekali; Bakti Sosial, digunakan sebagai sarana bersosialisasi dengan masyarakat; Rihlah, digunakan untuk menghilangkan kejenuhan yang disebabkan aktivitas sehari-hari. Selain itu juga sebagai sarana tadabbur alam; Aksi Simpatik; untuk mencegah kemungkaran di negeri ini, KAMMI mencoba mencegah dengan lisan dan aksi-aksi turun jalan; Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa); adalah acara nginap bersama untuk meningkatkan ruhiyah serta membentuk kader-kader yang berkualitas; Kajian-kajian Siyasi, adalah kajian seputar permasalahan-permasalahan politik yang ada di Indonesia; serta Bedah Buku

2. Komisariat Mitra

Komisariat Mitra merupakan gabungan dari dua fakultas yaitu Ekonomi dan Sastra, yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana komisariat lain, seperti Daurah Marhalah, kajian, baksos, rihlah dan mabit.

3. Komisariat FKIP

Komisariat ini merupakan komisariat yang terdiri dari mahasiswa FKIP. Komisariat ini juga melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana komisariat lain yaitu Daurah Marhalah, kajian, baksos, rihlah dan mabit, Moslem English Club. Brdah buku, anasyithoh Romadhon yaitu kegiatan-kegiatan untuk mengisi bulan Ramadhan, dan KAMMI Sehat yaitu kegiatan olah raga bersama seperti sepak bola, badminton, voly, basket senam dan lain-lain.


4. Komisariat H-FIS

Merupakan komisariat yang terdiri dari dua fakultas yaitu Hukum dan FISIP, yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana fakultas lain yaitu kajian rutin, baksos, rihlah, mabit dan Daurah Marhalah.
Di samping empat komisariat tersebut, terdapat dua komisariat diluar UNEJ yaitu Komisariat Poltek yaitu komisariat di Politeknik Jember dan Komisariat STAIN yang merupakan gabungan dari semua jurusan yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember.
IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

IMM di UNEJ hanya ada satu komisariat, yaitu Komisariat Tawang Alun Kota UNEJ. Komisariat ini masuk dalam wilayah IMM Cabang Jember yang mayoritas anggotanya di Universitas Muhammadiyah Jember. Menurut pengurus IMM komisariat UNEJ ini, anggotanya hanya sekitar 54 orang.
Kepengurusan IMM Komisariat UNEJ ini terdiri dari beberapa bidang yaitu bidang kemasyarakatan, yang melaksanakan bina lingkungan, bakti sosial; bidang dakwah, yang melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan dan kajian keislaman; bidang organisasi, yang bertanggungjawab atas pembinaan pengurus dan perbaikan keorganisasian; bidang keilmuan yang melaksanakan kajian dan pelatihan ilmu pengetahuan dan teknologi dan forum-forum keilmuan; bidang kaderisasi yang bertanggungjawab atas rekruitmen anggota dan pembinaan anggota; serta bidang Immawati yang menjadi wadah bagi para kader perempuan (immawati) untuk beraktivitas dan berkreativitas.
Calon anggota baru IMM harus mengikuti pelatihan yang disebut DAD (Darul Arqam Dasar). Materi DAD ini diantaranya adalah kemuhammadiyahan, ke-IMM-an, kepemimpinan, keislaman dan materi local. Pelatihan ini menghadirkan para pengurus Muhammadiyah sebagai pematerinya. Setelah anggota lulus DAD, terdapat pelatihan tingkat lanjut yang disebut DAM, yang materinya adalah ideologi gerakan IMM, problematika dan tantangan IMM sebagai organisasi kader, perbandingan mazhab, epistemology Islam, anatomi gerakan Islam di Indonesia, teologi al-Maun, dakwah Muhammadiyah dan tantangan global, filsafat gerakan sosial, kebijakan ekonomi politik Negara, praksis gerakan Muhammadiyah, serta practice research & engagement.
Di samping DAD dan DAM, terdapat Latihan Instruktur Dasar, yang materinya adalah hakikat Islam, kaderisasi dan strategi Dakwah rasulullah, filsafat pendidikan, Psikologi kepribadian, manajemen perkaderan dan metode perkaderan. Latihan ini diperuntukkan bagi para calon instruktur DAD, yaitu para anggota yang telah mengikuti DAD dan DAM. Selain itu, IMM juga mengadakan berbagai workshop diantaranya adalah workshop bedah sistem perkaderan IMM, monitoring dan evaluasi, assessment & mentoring kader, dan workshop follow up perkaderan.

6. Gema Pembebasan (Gerekan Mahasiswa Pembebasan)

Gema Pembebasan merupakan salah satu OMEK di UNEJ, yang mengusung ideologi Islam. Menurut seorang personil pengurus OMEK ini, memaparkan bahwa ketika Fukuyama menuliskan tentang The End of Capitalism (berakhirnya kapitalisme) dan Samuel P. Huntington yang menulis tentang The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order[17], mereka ingin menunculkan semangat kembali untuk mengangkat ideologi Islam sebagai spirit gerakannya. Menurutnya sudah saatnya, umat Islam kembali memperjuangkan ideologi Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Visinya yaitu menjadikan ideologi Islam sebagai mainstream gerakan mahasiswa Indonesia.
Adapun Misi OMEK ini antara lain adalah :[18]
Mengembangkan manajemen pengelolaan opini ideologi Islam sehingga mempunyai daya gugah yang membangun kesadaran politik dan daya pembebas terhadap factor yang membelenggu Islam.
Membangun jaringan pergerakan mahasiswa Islam ideologis di seluruh Indonesia.
Mengembangkan sistem pendukung bagi transformasi ideologi Islam di kalangan mahasiswa dan pergerakan mahasiswa.
Membentuk kader pergerakan mahasiswa Islam yang ideologis dan memiliki kemampuan dalam mengembangkan opini.
Tujuan organisasi ini adalah terbentuknya opini Islam ideologis di kalangan mahasiswa dan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan antara lain adalah:[19]
Penulisan dan penyebaran booklet serta bulletin keislaman.
Mengadakan bedah buku.
Mengadakan kajian keislaman tematik dan actual
Mengadakan training keislaman tematik dan actual
Mengadakan outbond dan pelatihan
Mengadakan dialog pemikiran
Mengadakan seminar-seminar keislaman
Memberikan tanggapan mengenai masalah-masalah yang actual dengan sudut pandang Islam.
Mengadakan acara bersama dengan lembaga kampus lainnya.
Mengadakan aksi simpatik solidaritas pada momen-momen tertentu.
Mengadakan aksi kepedulian pada momen-momen penting yang bersifat mendesak.
On air dalam acara FISI (Forum Interaktif Studi Islam) di Akbar FM 94.6 Mhz.

LMND (Liga Mahasiswa Nasionalis Demokrat)

Organisasi ini juga mendapat beberapa anggota di UNEJ. LMND merupakan organisasi payung, yang mewadahi organisai buruh, organisai perempuan dan lain sebaginya. Organisasi ini mengembangkan wacana sosial kritis, dan filsafat Materialisme historis merupakan bacaan wajib mereka. Dapat dikatakan bahwa wacana tersebut juga ynag dijadikan ideologi gerakan mereka. Sehingga para anggota organisasi ini gandrung dengan wacana marxis dan wacana kritis lainnya.
Anggota organisasi ini masih relatif sedikit di UNEJ. Sehingga, ketika mengadakan kegiatan dan aksi-aksi mereka bergabung dengan organisasi lain, terutama organisasi yang berada dalam lingkup jaringannya. Mereka lebih mengutamakan kepada kritik kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional. Pada saat penelitian ini dilaksanakan, terjadi kasus penutupan Lokalisasi di Puger. Mereka sedang mengadvokasi masalah itu. Menurut mereka, ketika penutupan tanpa disertai tindakan untuk memberikan pembinaan atau penyediaan lapangan pekerjaan, maka penutupan tidak akan menjadi solusi. Mereka juga mengkritisi daerah batu kapur yang banyak terdapat di daerah Jember, yang dikeruk oleh para investor dari luar dan masyarakat setempat tidak mendapatkan apa-apa dari sumber daya alamnya.
PEMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katholik Indonesia)

Organisasi ini juga terdapat di Jember, dan beranggotakan beberapa mahsiswa UNEJ. Di kampus UNEJ, OMEK ini hanya memiliki anggota yang relatif sedikit. Sehingga mereka lebih menfokuskan gerakannya ke luar kampus. Seperti kritik kebijakan pemerintah daerah, advokasi dan sebagainya.
Ketika ditanya tentang hubungan antara OMEK ini dengan OMEK keislaman di UNEJ, pengurus PEMKRI menyatakan bahwa mereka tidak pernah bersinggungan dan tidak pernah ada masalah. Pengurus PEMKRI Cabang Jember yang juga menjadi mahasiswa UNEJ ini, menyatakan bahwa terjadi relasi yang harmonis antara PEMKRI dan OMEK keislaman di UNEJ. Bahkan organisasi ini pernah mengadakan kerjasama dengan OMEK keislaman seperti HMI dan PMII, walaupun agak jarang. Jikalau di beberapa kota lain, terdapat Forum Cipayung yang menjadi ajang koordinasi intensif antara berbagai OMEK seperti PMII, HMI, IMM, GMNI, PEMKRI dan GMKI, maka di Jember forum semacan ini memang belum terlaksana.
D. WADAH AKTIVITAS MAHASISWA DI SEKITAR KAMPUS

Selain OMIK dan OMEK keislaman di UNEJ, terdapat beberapa wadah aktivitas mahasiswa UNEJ yang berada di sekitar lingkungan kampus, diantaranya adalah:

Forum Komunikasi Masjid Peduli Umat

Forum Komunikasi Masjid Peduli Umat ini adalah gabungan organisasi remaja masjid Nurul Haq yaitu masjid Fakultas Pertanian UNEJ dan remaja masjid Nurul Muttaqin di Batu Raden, yaitu daerah sekitar kos mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi. Kedua remaja masjid ini sering mengadakan kegiatan bersama dalam wadah Forum Komunikasi Masjid Peduli Umat, yang menggunakan tempat di masjid Nurul Muttaqin, yang relatif lebih luas tempatnya dari pada masjid Nurul Haq.

a. Remaja Masjid Nurul Haq

Remaja masjid Nurul Haq merupakan organisasi eksternal yang beranggotakan para remaja dan pemuda yang memakmurkan masjid, bergerak di bidang dakwah Islam. Dikelola di bawah kontrol takmir masjid Nurul Haq beserta masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diadakan sasarannya untuk seluruh mahasiswa dan masyarakat muslim secara umum.
Kepengurusan Remaja Masjid Nurul Haq meliputi Bidang pengkajian ilmu Islam; Bidang opini keislaman dan perpustakaan; Bidang pengembangan kreasi muslimah; dan Bidang dana usaha. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan adalah:
Kegiatan Rutin:
Baca Tulis Al Qur’an : setiap Ahad jam 08.00
Kajian kemuslimahan : setiap Jum’at jam 16.00
Kajian rutin : setiap ahad jam 09.00
Kreativitas Muslimah : setiap Jum’at jam 16.00
Bahasa Arab : setiap Selasa jam 16.00
Kegiatan Temporal: Training Jurnalistik; Sarasehan Muslimah; Isra’ Mi’raj; Maulid Nabi Muhammad SAW; Ceramah Idul Adha; dan Dialog Publik; serta kegiatan tambahan berupa Training jurnalistik satu bulan 1 kali; Pelatihan computer (MS Words, exel, page maker, power point, publisher dll); Tutorial bidang studi (matematika, fisika, kimia, biologi dan bahasa Inggris).
Terdapat beberapa keunikan tentang Remaja Masjid Nurul Haq ini. Remas ini seakan mendominasi masjid Nurul Hak yang saat ini juga merupakan masjid Fakultas Pertanian. Menurut pengurus F-SIAP mereka dipersulit untuk menggunakan masjid ini, sehingga ketika F-SIAP mengadakan kajian Rabu sore, maka Remas ini juga mengadakan kajian di tempat yang sama. Remas ini juga nampak tertutup, ketika peneliti ingin mengikuti kajian minggu pagi, kajian ini bertempat di dalam ruang kecil di belakang masjid dan tertutup. Ketika siang hari peneliti ingin memasuki ruang kecil tersebut yang ternyata ruang pengurus Remas, personil pengurus yang ada di situ tidak mengizinkan. Ketika peneliti bertanya kepada para aktivis UKKI Fakultas-fakultas, terdapat mereka hanya mengatakan bahwa Remas ini hampir sama dengan LDK UNEJ yang tertutup. Menurut mereka Remas ini adalah kelompok yang sama dengan LDK UNEJ. Namun, ketika peneliti menghadiri kajian-kajiannya, para peserta kajian tersebut adalah orang yang berbeda dari anggota kajian di masjid al-Hikmah LDK UNEJ.
b. Remaja Masjid Nurul Muttaqin

Masjid Nurul Muttaqin terletak di daerah Batu Raden, dimana sekitarnya adalah daerah kos para mahasiswa Fakultas Kedokteran UNEJ, karena daerah Batu Raden terletak di seberang jalan Masrib, sebelah kampus Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Masjid Nurul Muttaqin sebenarnya adalah masjid yang dibangun oleh person seorang anggota masyarakat di daerah Batu Raden. Dengan kata lain, masjid ini adalah milik pribadi. Namun, masjid ini difungsikan untuk para anggota masyarakat di daerah Batu Raden, untuk shalat jama’ah setiap hari dan shalat jum’at.
Masjid ini juga diurus oleh takmir masjid. Remaja masjid juga aktif dalam mengurus kegiatan-kegiatan dalam rangka meningkatkan syiar masjid dan syiar Islam pada umumnya. Remaja Masjid Nurul Muttaqin ini berkoordinasi dengan takmir masjidnya, dan mendapatkan dana dari takmir, untuk menopang kegiatan-kegiatannya.
Kepengurusan Remaja Masjid ini terdiri dari bidang Saqofah, yang mengadakan kajian-kajian keislaman untuk umum (muslim dan muslimah) anggota remaja masjid dan masyarakat secara umum; bidang infocom (informasi dan komunikasi) yang menerbitkan bulletin dan majalah dinding; dan bidang kemuslimahan yang melaksanakan kajian kemuslimahan dan kajian keislaman yang hanya diikuti oleh muslimah, serta mengadakan latihan-latihan keterampilan.

Pondok Pesantren Al-Jauhar

Pondok Pesantren al-Jauhar ini merupakan pondok pesantren mahasiswa. Pondok ini terletak di Jl. Nias III/ 5 Jember, relatif dekat dengan kampus UNEJ. Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) al Jauhar didirikan pada tahun 1991 oleh KH. Shodiq Mahmud, SH. –sarjana pertama di Jember yang berasal dari kelompok santri.[20] Pondok ini memiliki visi, misi pendidikan, pelayanan masyarakat dan wadah perjuangan umat. Saat ini PPM al Jauhar diasuh oleh Drs. KH. Sahilun A Nasir, M.Pd.I. dengan dibantu oleh beberapa ustadz yang umumnya dosen STAIN Jember, Universitas Islam Jember dan tokoh masyarakat lainnya, diantaranya: KH. Drs. Syarbini Syam, Drs. H. Hasin Syafrawi, M. Pd, Drs. Mundir Rasyadi, M. Pd, Drs. H. M. Yusuf Ridwan, M.N. harisudin, M. FI, Drs. Marwan Mirwan dan ust. Abd. Bari Husein.
PPM al jauhar adalah pondok pesantren putra. Saat ini sebagian besar santrinya adalah mahasiswa (98%) yang sedang belajar di perguruan tinggi di Jember, selebihnya adalah tingkat SMU atau sederajat di kota Jember.
Model pendidikan di PPM al Jauhar disesuaikan dengan kondisi mahasiswa, sehingga para santri bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya agar bisa belajar dan mengaji secara proporsional. Kegiatan pengajian tetap menggunakan kitab-kitab salafi, namun pengakajiannya diaplikasikan dengan konteks kekinian dan paradigma kritis.

Kegiatan Santri di PPM ini antara lain adalah:[21]
1. Kegiatan Rutin: pengajian ba’da shalat maghrib dan shubuh; Tahlilan; Istighosah; Yasinan; Shalat tasbih bersama setiap malam Jum’at; Diba’an tiap malam Ahad dan diskusi tentang isu-isu kontemporer.
2. Kegiatan Insidental: peringatan harlah pondok, peringatan hari besar agama Islam dan hari besar Nasional, seminar dan lain-lain.
3. Kegiatan Mandiri: yaitu kegiatan yang disepakati bersama seperti sepak bola, voly, renang, hadrah, pertandingan persahabatan, penyelenggaraan liga al Jauhar.


Pondok Pesantren at-Taubah

Pondok pesantren at-Taubah ini terletak di jalan Riau Gang Paving Sumbersari, sebelah timur dari kampus UNEJ. Pondok pesantren ini diasuh oleh Drs. KH. Misrawi, Ketua V PC NU Jember, yang juga menjadi dosen bahasa Inggeris di Universitas Mandala, yang diangkat PNS di KOPERTIS, dan juga menjabat sebagai Kepala SDIT Baitul Amin di daerah Masjid Jami’ Kota Jember.
Santri di Pondok Pesantren ini baru berjumlah sekitar 45 orang, dan 70 % adalah mahasiswa UNEJ. Selain mahasiswa, pesantren ini juga menyelenggarakan pendidikan TPA untuk anak-anak di sekitar pondok ini yang belum bisa membaca al-Qur’an. Setelah lulus TPA, anak-anak tersebut melanjutkan ke jenjang sekolah Diniyah. Para santri mahasiswa inilah yang mengajar di TPA dan Sekolah Diniyah.
Adapun kegiatan di pondok pesantren ini adalah shalat berjama’ah, dilanjutkan dengan pembacaan al-Qur’an setelah shalat maghrib dan pembacaan Majmu’ asy-Syarif setelah shalat subuh; yasin dan tahlil setiap hari jum’at; kajian kitab Sullam at-Taufiq, Bidayatul Hidayah; Ta’limul Muta’alim, dan Tafsir Jalalain, kajian kitab ini dilaksanakan setelah shalat subuh; dan kajian keislaman dengan mengambil tema-tema keislaman actual; serta pendidikan bahasa Arab dan bahas Inggeris setiap habis isya’, yang dibagi menjadi dua kelas yaitu elementary untuk santri yang belum memiliki bekal kemampuan bahasa yang cukup dan advance untuk para santri yang telah memiliki kemampuan bahasa yang exelence.

4. Pondok Salafi

Pondok Salafi ini sebenarnya terletah jauh dari kampus UNEJ. Namun, terdapat pamlet kegiatan yang ditempel di salah satu fakultas di lingkungan kampus UNEJ. Sehingga, peneliti mengakses kegiatan tersebut. Kajian rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Ahad sore, di masjid kampus Universitas Muhammadiyah Jember. Ketika peneliti ke sana, ternyata kajian sedang libur karena masa liburan mahasiswa. Sehingga, kemudian peneliti menghubungi contact person yang tertera dalam pamphlet kegiatan Salafi. Ketika ditanyakan tentang peserta kegiatan kajian, dia menjawanb bahwa mahasiswa UNEJ juga ada yang mengikuti kajian mereka.
Ketika ditanyakan kepada para dosen Universitas Muhammadiyah (Unmuh) ini, mereka mengatakan bahwa mereka tidak tahu tentang kajian ini. Di belakang kampus Unmuh memang ada pondok, yaitu pondok pesantren al-Fanani, bukan Salafi. Setelah ditelusuri lebih lanjut, diperoleh keterangan dari Drs. Habib Ihsan, seorang alumni UNEJ yang menjadi dosen di Unmuh, bahwa memang ada seorang ustrad di Pondok Pesantren al-Fanani yang telah keluar. Menurutnya, dia memang memiliki paham yang berbeda dengan ustad lain di al-Fanani. Kalau pondok salafi berada di daerah Pakem. Tetapi, mereka bisa saja mengadakan kajian di masjid Unmuh, dengan kemasan kajian kitab biasa, seperti kajian tafsir dan fiqh, dan diisi oleh para tokoh yang telah dikenal di situ. Menurutnya, pondok Salafi merupakan Jama’ah Salafi yang selama ini dikenal sebagai firqoh-forqoh Islam.
Kata salafi berasal bahasa Arab salaf, artinya yang lalu atau klasik. Tetapi salaf di sini dimaksudkan sebagai para sahabat nabi Muhammad yang memahami dan mempraktikkan Islam sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi. Salafi adalah penisbatan terhadap orang-orang yang mempraktikkan Islam sebagaimana dianjurkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Dalam perkembangannya, yang dimaksud salaf tidak hanya para sahabat, tetapi juga tabi’in dan tabiut tabi’in, atau mecakup tiga generasi. Selain disebut salaf, tiga gerenasi ini juga disebut ahlussunah wal jama’ah yaitu yang berpegang kepada sunnah Nabi. [22]
Istilah ahlussunah wal jama’ah diperkenalkan oleh nabi dalam hadisnya tentang akan munculnya berbagai golongan dalam Islam yang jumlahnya 73 golongan. Semua golongan ini akan masuk neraka kecuali satu yaitu ahlussunah wal jama’ah, yaitu ma ana ‘alaihi wa ashabi (yang mengukuti ajaran Nabi dan sabahat).[23] Kelompok salafi memaknai ahlussunah wal jama’ah dengan terbatas, merujuk hadis di atas.[24]
Salafi baru terdengar tahun 1990-an. Menurut para pendukunganya, mengklaim salafi bukan sebagai organisasi, melainkan kegiatan dakwah oleh orang-orang yang concern dengan pembangunan Islam kembali. Istilah pembangunan ini penting, karena salafi melihat Islam sekarang sudah tidak ideal lagi, tetapi sudah melenceng. Maka, salafi ini seperti gerakan Wahabi di Saudi Arabia dahulu. Mereka melakukan pemurnian Islam dari bid’ah dan kurafat.[25]
Jika dibedakan gerakan-gerekan funamentalisme Islam yang murni religious oriented sebagai scriptural fundamentalism dari gerekan fundamentalis yang berorientasi politik, maka Salafi bukanlah gerakan fundamentalis yang berorientasi politik, melainkan dakwah Islam. Kalangan salafi bisa dikelompokkan kepada fundamentalisme radikal setidaknya dalam pemikiran. karena ingin menerapkan dasar-dasar Islam dal kehidupan masyarakat. Mereka juga inginmengganti Islam yang dipraktikkkan oleh masysrakat dengan Islam yang mereka anut dan anggap paling benar. [26]


Hizbut Tahrir Indonesia

Hizbut Tahrir (hizb at-Tahrir) secara etimologis berarti Partai Pembebasan. HTI didirikan oleh Syeikh Taqiyuddin al-Nabhani tahun 1953 di al-Quds, Palestina. Organisasi ini diakui oleh para pendirinya dan para aktivisnya sebagai partai politik bukan sebagai organisasi sosial keagamaan.[27]
Program yang selama ini dilakukan oleh HTI adalah: 1) pengkaderan yang sifatnya perorangan, untuk membangun partai Islam dengan jalan pembinaan intensif dalam halaqah-halaqah; 2) pembinaan yang sifatnya kolektif, dalam bentuk terbuka seperti seminar dan pengajian-pengajian umum. Ketiga, menta’bani kemaslahatan umat melalui penyebaran bulletin bulanan atau mingguan sebagai upaya untuk mensikapi perkembangan sosial di tengah masyarakat; 4) pengungkapan upaya-upaya maker yang dilakukan oleh musuh Islam yang dalam kacamata HTI adalah penjajah yang kafir dan antek-anteknya. [28]
Adapun Misi HTI ini adalah 1) melanjutkan kehidupan Islam; 2) membentuk khilafah Islamiyah; dan 3) pendidikan luas kepada masyarakat supaya bisa berpikir dan bertindak secara ISlami.[29] Pembentukan khilafah bukanlah tujuan utama programnya, melainkan hanya thariqah atau sarana untuk menegakkan syari’at Islam. Tujuan akhirnya adalah menjadikan dan menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.[30]
Di Jember, terdapat Pengurus Wilayah HTI Jemeber. Mereka menyewa kapling di gedung Bina Insani, gedung miliki Yayasan KAHMI Jember. Pada saat penelitian ini dilaksanakan, beberapa hari setelah diselenggarakannya Konferensi Internasional Khilafah oleh HTI di Jakarta Agustus 2007, di Wilayah Jember juga diselenggarakan seminar khilafah, dengan pembicara dari para pengurus HTI Wilayah Jember. Acara ini juga menghadirkan seorang aktivis HTI dari Australia. Seminar yang diselenggarakan khusus untuk para muslimah ini, dihadiri oleh sekitar 500an orang muslimah, mulai dari para pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa serta ibu-ibu. Mereka memenuhi aula gedung Bina Insani, dan meneriakkan khilafah Islamiyah…allahu akbar…!
Di antara para hadirin tersebut, ternyata banyak diantaranya ibu-ibu muda alumni UNEJ dan mahasiswa UNEJ. Bahkan, para panitia yang sibuk mempersiapkan kegiatan tersebut adalah mahasiswa UNEJ, yang salah satunya juga aktif di UKKI-MASA FKIP, yang bercerita bahwa ia masuk HTI sejak SMA. Duduk di samping peneliti, seorang mahasiswa baru Fakultas Kedoketran Gigi UNEJ. Dia bercerita bahwa dia mengenal HTI sejak SMA. Kakak kelasnya yang sudah menjadi mahasiswa UNEJ, yang dahulu memperkenalkan HTI kepadanya.
Dari cerita tersebut, dapat dinyatakan bahwa HTI mempunyai banyak anggota di UNEJ, walaupun HTI bukan OMEK di UNEJ. Perkaderan mereka dimulai sejak dini, yaitu sejak SMP atau SMA, dengan memasuki kegiatan Kerohanian Islam (Rohis).
Majelis Tabligh
Majelis Tabligh ini tidak banyak diikuti oleh para mahasiswa. Namun, jama’ah ini juga mendapatkan pengikutnya di UNEJ. Satu hal yang menarik, bahwa ada seorang dosen Fakultas Sastra UNEJ yang berasal dari kader GMNI, yang melaksanakan studi lanjut ke Australia. Sepulangnya dari Australia, dia menjadi pengikut majelis Tabligh, karena telah mengenal dan masuk Mejelis Tabligh sejak di Australia.
Melihat perubahannya yang mencolok, para rekannya dari GMNI di Fakultas Sastra mengolok-oloknya, dengan mengatakan pake jenggot kayak kambing dan sebagainya….[31]
Seorang mahasiswa pertanian juga bercerita bahwa ia adalah anggota Majelis Tabligh. Dia telah dibai’at sejak di SMA, namun saat ini dia aktif sebagai pengurus PMII Rayon Pertanian. Di Jember dia tidak lagi berkumpul dengan jama’ahnya di Mejelis Tabligh, walaupun beberapa kali didatangi dan diajak para anggota jama’ah Majelis Tabligh yang di Jember.
Dia bercerita bahwa setelah dibai’at menjadi anggota Majelis Tabligh ini, ia harus malaksanakan shalat jama’ah seumur hidup dan harus melakukan jaulah (keluar rumah untuk berdakwah) minimal selama satu hari dalam satu minggu, atau dua hari dalam dua minggu, atau dapat digabung empat hari dalam satu bulan, atau dua minggu dalam satu tahun. Menurutnya, itulah ajaran pokok Majelis Tabligh.

E. Analisis Berbagai Varian Islam

Dari berbagai organisasi Islam kampus sebagaimana terpapar di atas, dapat dinyatakan bahwa terdapat organisasi atau kelompok yang mengusung ideologi Islam, dan beberapa kelompok organisasi Islam tidak mengusung ideologi Islam. Di antara kelompok Islam ideologis adalah HTI, Gema Pembebasan dan LDK UNEJ. Sementara itu kelompok lainnya tidak mengusung ideologi Islam, seperti OMEK PMII, HMI, IMM, KAMMI, dan OMIK keislaman di fakultas-fakultas di lingkungan UNEJ, juga pondok-pondok pesantren di sekitar kampus UNEJ yang cenderung berafiliasi kepada ormas NU.
Kelompok Islam ideologis ini mengembangkan paham khilafah sebagai solusi segala persoalan sosial politik umat Islam. Mereka ingin membangun khilafah sebagai pemerintahan Islam untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan umat Islam. Islam ideology ini menjadi focus perjuangan dan target pergerakan mereka. Sehingga, mereka melakukan sosialisasi wacana Islam ideologis dan melakukan gerakan-gerakan menuju terbentuknya khilafah Islamiyah ini. Kelompok Islam ideologis ini dapat juga dipetakan kepada kelompok Islam fundamentalis dan skipturalis. Mereka ingin membangkitkan kembali kejayaan Islam pada masa Nabi dan khulafaurrasyidin. Mereka juga mengembangkan pemikiran yang skripturalis, yaitu memahami Islam dan sumber hukum Islam (al-Qur’an dan hadis) secara skriptual dan tekstual.
Sementara itu, kelompok lain tidak mengusung Islam ideologis. Mereka cenderung mengembangkan pemikiran Islam moderat dan liberal. Kelompok ini diantaranya adalah PMII, HMI dan IMM. Tiga kelompok ini mengembangakan pemikiran moderat yang cenderung liberal. Di lingkungan UNEJ dan Jember, pemikiran liberal tidak begitu dikembangkan. Pemikiran keislaman yang berkembang pada OMEK yang besar yaitu PMII dan HMI di Jember belum mengarah kepada pemikiran liberal, namun lebih kepada pemikiran moderat namun ada sedikit liberal. Begitu juga NU sebagai ormas yang mempunyai anggota mayoritas di Jember, tidak sepenuhnya menerima pemikiran Gus Dur yang menurut mereka liberal. Menurut KH. Muchith Muzadi, tokoh NU Jember yang juga kakak Ketua Umum NU Hasyim Muzadi, NU di Jember tidak bercorak Gusdurian yang liberal. Walaupun mereka menghormati Gus Dur sebagai tokoh NU dan cucu pendiri NU, tetapi mereka tidak harus mengamini dan mengikuti pemikiran-pemikirannya. Bahkan menurutnya, pencalolan Hasyim Muzadi Vs Masdar F. Mas’udi, mewakili friksi kelompok tradisionalis-moderat dan tradisionalis-liberal. Hasyim Muzadi sebagai perwakilan kelompok tradisional-moderat dan Masdar F. Mas’udi sebagai calon dari kelompok Gus Dur yang mewakili kelompok tradisionalis-liberal.[32] PMII Jember sebagai OMEK terbesar di UNEJ, di bawah pembinaan KH Muchith Muzadi, yang selalu menekankan kepada para kadernya untuk tidak mengikuti pemikiran-pemikiran liberal.
Begitu juga di HMI Jember, corak pemikiran yang di kembangkan adalah pemikiran Nurcholis Madjid yang cenderung moderat, dan tidak liberal. IMM sebagai organisasi mahasiswa Muhammadiyah, juga mengembangkan pemikiran Muhammadiyah yang cenderung kepada Islam moderat dan tidak liberal. Pada dasarnya pemikiran yang berkembang di PMII, HMI dan IMM hampir senada, yaitu pemikiran Islam moderat yang cenderung kepada liberal, tetapi bukan pemikiran Islam liberal.
Selain OMEK tersebut, kelompok lain yang tidak mengusung ideologi Islam adalah KAMMI. Namun corak pemikiran OMEK ini agak berbeda. Mereka mengembangkan pemikiran moderat yang cenderung kepada fundamentalis. Mereka lebih memahami Islam secara moderat dan kontekstual, namun mereka juga konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam pola gerakan organisasinya. Mereka membina kader dalam aspek peribadatan, akhlak karimah dan ingin menuwudkan muslim negarawan. Pemikiran OMEK ini dalam beberapa hal masing cenderung kepada skripturalis dan tektualis. Seperti pola relasi kader putri dan putri yang harus menggunakan hijab.
Pemetaan lain terhadap varian Islam yang ada di UNEJ ini juga dapat dikemukakan. Saat penelitian ini dilakukan (Agustus 2007) adalah saat gencarnya HTI dan kelompok Islam ideologis mengkampanyekan khilafah. Tanggal 16 Agustus 2007 dilaksanakan Konferensi Khilafah Internasional di Jakarta.[33] Saat inilah muncul sebutan Islam transnasional. Sebutan ini ditujukan bagi kelompok-kelompok Islam ideologis yang mengusung wacana khilafah dalam gerakannya, yaitu HTI dan Gema Pembebasan. Kelompok ini menginginkan terbentuknya khilafah Islamiyah, tanpa batas-batas Negara. Khilafah Islamiyah yang mendunia, walaupun ketika ditanyakan tentang eksistensi Indonesia dalam khilafah, mereka menyatakan bahwa Indonesia akan tetap ada di bawah khilafah Islamiyah. Dan memang, HT menyebut dirinya sebagai partai Internasional, yaitu hizbun yang berarti partai dan tahrir yang berarti pembebasan. Sehingga HTI adalah partai Pembebasan yang ada di wilayah Indonesia. Oleh karena itulah kelompok ini disebut dengan kelompok ideologi transnasional.
Sementara itu, di sisi lain PMII, HMI dan IMM gencar membahas tentang ideologi transnasionalisme ini, dan ingin melakukan counter wacana. Berdasarkan landasan pemikiran dan gerakannya PMII, HMI dan IMM ini memang tidak memihak kepada ideology transnasionalisme ini. Sehingga pemetaan baru di era saat ini adalah kelompok Islam nasionalis dan kelompok Islam transnasionalis.
Adapun posisi KAMMI sebagai kelompok moderat yang cenderung kepada fundamentalis, tidak termasuk dalam hiruk pikuk wacana ini. Mereka tidak membahas tentang transnasionalisme dan tidak menganggap ideologi ini sebagai ancaman. Mereka lebih konsen dalam membentuk kader muslim negarawan. Namun, dari hal ini mereka dapat penulis kategorikan kepada kelompok Islam nasionalis.
Relasi Mahasiswa Muslim dengan Non-Muslim

Ketika bertemu dengan seorang mahasiswa non muslim, dia menyatakan bahwa relasi antara mahaiswa muslim an non-muslim berjalan dengan harmonis dan toleran. Begitu juga Pengurus PEMKRI Cabang Jember yang juga menjadi mahasiswa UNEJ, menyatakan bahwa terjadi relasi yang harmonis antara mahasiswa muslim dan non muslim di UNEJ. Bahkan organisasi ini kadang mengadakan kerjasama dengan OMEK keislaman seperti HMI dan PMII.
Di UNEJ terdapat UKM kerohanian Kristen di tingkat universitas. Namun, mereka ternyata tidak mempunyai sekretariat di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), gedung yang disediakan universitas untuk sekretariat seluruh UKM di UNEJ. Ketika ditanyakan kepada salah seorang aktivis UKM yang di situ, tentang keberadaan sekretariat UKMKK ini, dijawab bahwa mungkin mereka mempunyai sekretariat di luar kampus. Tentang kenapa tidak mempunyai sekretariat di PKM, katanya mungkin mereka tidak mengajukan permohonan sekretariat, karena semua UKM mengajukan permohonan sekretariat untuk menempati sekretariatnya di PKM. Ketiadaan sekretariat ini dapat disimpulkan bahwa mungkin UKMKK ini tidak eksis lagi di UNEJ, karena jumlah anggotanya yang tidak ada. Memang, mahasiswa non muslim berjulah sedikit, menyebar di berbagai fakultas, dan diantaranya juga aktif di UKM lain, seperti Komandan MENWA UNEJ, Donald yang beragama Katholik.
Fenomena berbeda dapat ditemui di Fakultas farmasi, yaitu adanya UKKK (Unit Kegiatan Kerohanian Kristen) yang aktif mengadakan kegiatan bersama seperti renungan, kunjungan bersama, medical fellowship dan peringatan hari-hari besarnya. Mereka mempunyai anggota sekitar 20-an orang. Bahkan, ketua BEM fakultas Farmasi juga beragama Khatolik. Namun mereka menjalin hubungan yang harmonis dengan mahasiswa muslim. Dan, walaupun ketua BEM non-muslim, UKKI Asy-Syifa’ juga mendapatkan dana dan perhatian yang sama dengan UKM-UKM lainnya.
Sedikit ketegangan antara mahasiswa muslim dan non-muslim ini terjadi di kalangan kader KAMMI yang mencium adanya gerakan Kristenisasi dan Injilisasi, dengan adanya pamphlet-pamphlet yang ditempel di beberapa Fakultas di lingkungan UNEJ. Menurut seorang pengurus Bastiling (UKKI Fak Ekonomi yang juga sebagai kader KAMMI), terdapat mahasiswa non-muslim yang mempengaruhi temannya yang muslim untuk masuk ke agama Kristen. Bahkan, terdapat anggota UKKI yang diperalat oleh kelompok non-muslim untuk berkonflik dengan parakader islamis tersebut. Seorang mahasiswa Fakultas Kedoketran, yang juga menjadi pengurus IMSAC (UKKI Fakultas Kedoketran), juga menceritakan bahwa pernah muncul isu kristenisasi di Fakultas ini. Ada dosen yang beragama Kristen yang sering membawa-bawa Injil ke kelas, dan sebagainya. Namun, hal ini hanyalah merupakan riak-riak kecil, yang tidak muncul di permukaan.
F. KEBIJAKAN UNIVERSITAS TERHADAP VARIAN ISLAM KAMPUS
1. Kebijakan Universitas Terhadap Perkuliahan Agama Islam

Perkuliahan Agama merupakan perkuliahan yang diwajibkan di setiap prodi di Perguruan Tinggi. Hal ini sebagaimana tertera dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 56/U/1994. Oleh karena itu keberadaan perkuliahan agama Islam juga tidak mungkin diganggu-gugat oleh pihak mana pun. Di UNEJ, mata kuliah Agama Islam merupakan Mata Kuliah Umum (MKU) kepribadian, diantara MKU kepribadian yang lain yaitu ISBD (Ilmu Sosial Budaya Dasar), serta Pancasila dan Kewarganegaraan. Kelompok matakuliah umum kepribadian ini, di UNEJ dikoordinasi dalam satu Unit Pelaksana Tehnis (UPT) yaitu di bawah UPTBSMKU.
Perkuliahan agama Islam di UNEJ dilaksanakan perkelas dalam setiap prodi ataupun jurusan di semua fakultas. Hal ini tidak seperti pelaksanaan perkuliahan agama lain, yang digabung dalam satu fakultas. Misalnya, perkuliahan agama Kristen dan katolik digabung untuk semua mahasiswa satu fakultas. Begitu juga perkuliahan agama Hindu dan Budha, digabung dalam satu perkuliahan untuk semua mahasiswa satu fakultas. Hal ini dikarenakan jumlah mahasiswa non-muslim relatif sedikit, sehingga tidak dapat dilaksanakan perkuliahan agama tersebut secara mandiri. Melihat kondisi demikian, maka dapat dikatakan bahwa perkuliahan agama Islam mendapat perhatian lebih dari pada perkuliahan agama lainnya.
Namun, dalam perkembanganya lebih jauh, perkuliahan dirasakan kurang mendapat perhatian. Hal ini sebagaimana dirasakan oleh para dosen agama, juga Ketua UPTBSMKU. Mereka belum diberikan fasilitas untuk melaksanakan mentoring, yang sebenarnya merupakan kebutuhan pokok dalam pendidikan agama Islam. UPTBSMKU mencanangkan sebuah laboratorium baca al-Qur’an yang akan digunakan untuk mentoring para mahasiswa, namun hingga kini belum terealisir. Hal ini dikarenakan tidak adanya dana yang dialokasikan untuk itu. Bahkan mereka menunggu bantuan dana dari Departemen Agama untuk membangun laboratorium tersebut.
Ketua UPT ini juga mengeluhkan kurang perhatiannya pihak universitas tentang penambahan buku-buku agama dan keislaman. Setiap tahunnya, Perpustakaan melaksanakan program pengadaan buku-buku baru yang dibutuhkan oleh setiap fakultas dan unit-unit lainnya. Setiap fakultas dan UPT mengajukan judul-judul buku yang diinginkan kepada Bagian Pengelola Perpustakaan. Namun, selama ini penambahan buku-buku baru tentang keagamaan dan keislaman sangat lambat.
Adapun hambatan perkuliahan agama Islam di fakultas-fakultas tidak begitu dijumpai. Tidak seperti MKU Kepribadian yang lain yang terkadang mendapat sindiran sinis dari dosen-dosen lain di beberapa fakultas, karena mereka merasa tidak membutuhkan mata kuliah tersebut di fakultasnya. Seperti ISBD di beberapa fakultas dianggap tidak relevan. MKU Agama Islam cenderung lebih bisa diterima dari pada MKU Kepribadian yang lain.
Di Fakultas Ekomoni dan kedokteran, justru wacana keislaman berkembang menjadi satu disiplin keilmuan yang relevan dengan keilmuan mereka, seperti munculnya wacana ekonomi Islam dan kedoteran Islam. Wacana Ekonomi Islam ini telah bergulir di kalangan mahasiswa dan dosen. Bastiling sebagai UKKI di Fakultas Ekonomi UNEJ, mempunyai kelompok studi Ekonomi Islam, dan telah membuat jaringan Kelompok Studi Ekonomi Islam se-Indonesia. Bastiling juga mengadakan kuliah informal tentang ekonomi Islam. Hal ini juga disambut baik oleh pihak fakultas. Menurut Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi UNEJ, tahun depan akan dibuka Program Studi Ekonomi Islam di fakultas Ekonomi UNEJ.
Lain halnya di Fakultas Kedokteran, yang juga mengebangkan wacana keislaman dalam bidang kedokteran. Semangat untuk mengkaji ilmu-ilmu kedokteran dalam perspektif Islam berkembang pesat di fakultas ini. Kajian-kajian kedokteran dalam perpektif Islam ini dilakukan oleh IMSAC sebagai UKKI di Fakultas Kedoketran, dengan menghadirkan para dosen mereka yang memiliki kemampuan dan pengetahuan agama Islam yang memadai. Namun, pada saat diterapkannya sistem pembelajaran Problems Based Learning (PBL) --dimana materi perkuliahan dibahas berdasarkan blok, seperti blok jantung, pencernaan dan sebagainya-- di Fakultas Kedokteran ini, timbul masalah apakah perkuliahan agama Islam masuk dalam blok atau din luar blok. Pihak Fakultas menginginkan perkuliahan agama ini masuk dalam blok. Sehingga, mereka dapat mengkaji agama Islam untuk permasalahan-permasalahan kedokteran seperti pembahasan masalah transplantasi jantung menurut ajaran Islam dan sebagainya. Dengan masuknya perkuliahan agama Islam dalam blok ini, maka dosen-dosen dari Fakultas Kedokteran sendiri yang akan mengampu mata kuliah agama Islam ini.
Masalah tersebut menjadi perdebatan sengit antara pihak Fakultas Kedokteran dan para dosen agama di UPTBSMKU. Sehingga, akhirnya mata kuliah agama tetap di luar blok. Tetap dengan materi dan pokok pembahasan seperti sebelumnya, dan tetap diampu oleh para dosen agama Islam di UPTBSMKU. Sementara itu, mata kuliah Umum Kepribadian yang lain dimasukkan dalam blok. Sehingga, mata kuliah ini dikoordinasi langsung oleh fakultas dan diampu oleh para dosen fakultas.
Fenomena yang hampir sama terjadi juga di Fakultas Kedokteran Gigi, ketikab menerapkan sistem pembelajaran Problems Based Learning (PBL). Namun kebijakan Fakultas ini berbeda dengan di Fakultas Kedokteran. Pihak Fakultas Kedokteran Gigi, menginginkan perkuliahan agama dilebur menjadi satu yaitu mnejadi kulian etika, dan diarahkan kepada etika kepribadian. Dengan sistem seperti ini perkuliahan agama Islam akan hilang, begitu juga mata kuliah kepribadian yang lain. Namun, pihak UPTBSMKU memperjuangkan adanya perkuliahan agama ini tetap ada, dan juga perkuliahan agama Islam. Sehingga, akhirnya perkuliahan agama tetap dilangsungkan seperti sebelumnya, dan tetap di luar blok.
Demikian sedikit tantangan dan hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan perkuliahan agama terutama agama Islam. Namun, hingga saat ini perkuliahan agama Islam tetap terselenggara dengan baik, dan kedudukannya kuat, sebagaimana Keputusan menteri Depdikbud tahun 1994 di atas.

2. Kebijakan Universitas terhadap Masjid Kampus

Masjid kampus merupakan sarana dan fasilitas kampus yang berada di bawah koordinasi Pembantu Rektor II (Purek II). Segala perlengkapan dan fasilitas di masjid kampus UNEJ diberikan melalui Purek II. Menurut Purek II, kebutuhan untuk masjid selalu dipenuhi. Kemaren para pengurus masjid (takmir operasional) juga menghadap untuk meminta dana untuk membeli karpet dan perbaikan soundsistem, dan kami kasi, tutur Purek II. Pihak universitas tidak mengurusi masalah majid kampus secara detail. Semua ada di tangan Takmir masjid dan LDK UNEJ. Universitas hanya menfasilitasi kebutuhan-kebutuhan masjid.
Adapun aktivitas mahasiswa yang menggunakan masjid, diatur oleh Pembantu Rektor III (Purek III). Ketika terdapat peraturan bahwa OMEK tidak bisa masuk kampus ataupun menggunakan fasilitas kampus untuk kegiatan-kegiatannya. Maka, OMEK juga tidak bisa menggunakan masjid kampus untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya.
Masalah LDK UNEJ yang menggunakan masjid kampus sebagai sekretariatnya, dan pusat kegiatan-kgiatannya, Purek III mengatakan bahwa LDK memang diberi sekretariat di kampus. Adapun mengenai siapa saja yang masuk LDK UNEJ kemudian, memang ternyata mereka itu mahasiswa-mahasiswa yang rajin ke masjid dan memakmurkan masjid. Dari haln ini dapat dinyatakan bahwa ada rumor tentang friksi-friksi di masjid kampus ini justru di luar koordinasi Purek III.


3. Kebijakan terhadap Kegiatan Islam Kampus

UNEJ sebagai perguruan Tinggi negeri yang terletak di Jember, dimana masyarakatnya mayoritas muslim, maka kegiatan keagamaan juga sangat semarak di kampus ini. Di tingkat Universitas terdapat UKM Kerohanian Islam yiatu LDK –sebagaimana terpapar di atas--, di masing-masing fakultas juga mempunyai UKKI bahkan di tingkat jurusan di beberapa fakultas seperti FKIP, FMIPA dan Fakultas Tehnik, juga terdapat departemen atau devisi kerohanian Islam. Setiap organisasi tersebut menyelenggarakan kegiatan keislaman atau kerohanian Islam, yang diikuti masing-masing anggotanya.
Kegiatan-kegiatan kerohanian Islam tersebut tidak mendapat kesulitas di UNEJ. LDK misalnya, sebagai salah satu UKMKI yang melaksanakan kegiatan-kegiatannya mendapatkan dana dari Universitas melalui Purek III sebagaiman UKM lainnya. Begitu juga di tingkat fakultas, UKKI Fakultas juga merupakan salah satu UKM Fakultas yang berada di bawah bimbingan dan koordinasi Pembantu Dekan III (Pudek III), hingga masalah dana pun juga dicukupi oleh fakultas, sebagaimana UKM lainnya. Bahkan, di beberapa fakultas, terdapat kajian keislaman bersama antara karyawan, dosen dan mahasiswa, seperti di Fakultas Kedokteran Gigi dan PSKM. Di Fakultas Ekonomi, kajian ekonomi Islam juga mendapat sambutan yang positif, hingga tahun ajaran baru mendatang (2007-2008) akan dibuka prodi Ekonomi Islam.
Namun, terdapat pengurus UKKI Fakultas yang mengeluhkan kurangnya perhatian pimpinan Fakultas terhadap UKKI dan kegiatan-kegiatannya. Seperti SIB di Fakultas Hukum, yang belum memiliki sekretariat sebagaimana UKM lainnya di fakultas ini.
Di sisi lain, kajian keislaman dalam moment besar yang di adakan oleh Universitas, memamg belum pernah terselenggara. Kajian-kajian keislaman hanya dilaksanakan oleh para mahasiswa, dan pihak pimpinan hanya memberikan sambutan dalam acara ceremonial pembukaan dan untuk membuka acara dalam setiap kegiatan dalam moment yang relatif besar. Karena memang, keislaman bukanlah mainstream pemikiran yang menjadi focus di Perguruan Tinggi ini. Setiap Fakultas juga memiliki wacana keilmuan yang dikembangkan masing-masing.

4. Kebijakan Terhadap Organisasi Islam

Sebagaimana terpapar di atas, bahwa organisasi keislaman intra kampus atau OMIK keislaman di bawah bimbingan dan koordinasi Purek III di tingkat Universitas sedangkan di tingkat Fakultas, di bawah koordinasi Pudek III. Mereka merupakan UKM diantara UKM-UKM lainnya, yang kebutuhannya dicukupi, baik untuk kesekretariatan maupun untuk kegiatan-kegiatannya.
Di samping OMIK keislaman, terdapat OMEK keislaman di UNEJ. OMEK keislaman inilah yang tidak bisa masuk kampus, dan tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas intra kampus. Bahkan kegiatan mahasiswa di kampus juga tidak diperbolehkan menggunakan bendera OMEK tertentu.
OMEK keislaman di UNEJ sangat beragam, mulai dari yang tradisional, moderat dan cenderung leiberal seperti PMII, HMI dn IMM; hingga yang fundamental seperti KAMMI dan yang mengembangkan Islam ideologis seperti Gema Pembebasan. Bahkan terdapat sejumlah mahasiswa yang mengikuti firqah-firqah Islam yang eksklusif seperti Jama’ah Salafi, Majelis Tablig, HTI, ataupun HK dan sebagainya.
Tentang aliran atau paham keislaman yang berbeda-beda ini, pihak universitas membiarkan perbedaan tersebut. Karena mereka tidak harus seragam. Memang begitu keadaannya. Hal ini sebagaimana di kemukakan oleh Purek II, begitu juga Purek III UNEJ. Namun sejauh ini, belum ada perselisihan karena perbedaan-perbedaan tersebut. Mereka berjalan masing-masing. Kalaupun ada perselisihan antara OMEK dalam pembentukan BEM, itu karena kepentingan kelompok, bukan karena paham keislamannya.
Sehingga, di UNEJ hingga saat ini wajah keislaman sangat bervariatif. Dalam berbagai wadah organisasi baik di intra maupun ekstra kampus, ataupun wadah wadah kegiatan mahasiswa lainny seperti Remaja masjid. Mereka tumbuh tanpa campur tangan pihak Universitas maupun fakultas, dan tanpa pretense pimpinan untuk menghentikannya. Apa pun keadaannya….























ISLAM KAMPUS:
DARI VARIAN, PERILAKU MAHASISWA
HINGGA KEBIJAKAN REVITALISASI PERAN
PERGURUAN TINGGI






Laporan Penelitian Kualitatif


Oleh:
Sri Wahyuni




UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2007
ISLAM KAMPUS:
DARI VARIAN, PERILAKU MAHASISWA
HINGGA KEBIJAKAN REVITALISASI PERAN
PERGURUAN TINGGI






Laporan Penelitian Kualitatif


Oleh:
Sri Wahyuni




UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2007






[1] www//H: Univ Jember/ Sejarah-Universitas Jemnber.htm., hlm. 2. Rudi Wibowo, Prospektus Universitas Jember, (Jember: Badan Penerbit Universitas Jember, 2003), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm 11
[3] Ibid., hlm 11
[4] Yang kemudian menjadi Dosen Fakultas Hukum UNEJ. Beliau juga pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa al-Jauhar, yang tertetak di sekitar kampus UNEJ.
[5] Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 20/Dikti/Kep/1997 tentang penyempurnaan Garis-garis Besar Pedoman Program Pengajaran (GBPP) mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Agama Pada Perguruan Tinggi di Indonesia.
[6] Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UPTBSMKU, Rancangan Pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam Universitas UNEJ 2006-2007, hlm. 4
[7] Surat Pernyataan bersama UKM Fakultas Huku UNEJ tanggal15 Januari 2005
[8] LDK UNEJ, Majalah Opini: Media Informasi dan Komunikasi Dakwah Islam, hlm. 26.
[9] Ibid., hlm. 26
[10] Ibid., hlm. 29-30
[11] IONS, Profil IONS 2007
[12] IMSAC, The Mini Book of IMSAC UNEJ
[13] LPJ PMII Cabang Jember tahun 2005
[14] Ibid.
[15] KAMMI Daerah Jember, Selayang Pandang KAMMI.
[16] Ibid.
[17] Buku ini membahas tentang adanya beberapa peradaban di dunia ini, yang memiliki potensi untuk terjadinya benturan antara beberapa peradaban tertentu. Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, (London: Simon & Schuster ltd., 1998).
[18] Gerakan Mahasiswa Pembebasan, Profil Gerakan Mahasiswa Pembebasan, 2007
[19] Ibid.
[20] Berdasarkan hasil wawancara dengan KH. Muchith Muzadi. KH. Shodiq ini dahulu juga menjadi dosen Fakultas Hukum UNEJ. Sekarang putrinya, ibu Lilik sebagai ibu Nyai Pondok Pesantren inib juga menjadi dosen Fakultas Hukum UNEJ.
[21] Pondok Pesanten Mahasiswa al-Jauhar, Profil
[22] Endang Turmudi dan Riza Sihbudi (eds.), Islam dan Radikalisme di Indonesia, (Jakarta, LIPI Press, 2005), hlm. 154-155

[23] Ibid. hlm. 155
[24] Ibid., hlm 166
[25] Ibid., hlm 162
[26] Ibid., hlm 169
[27] Ibid., hlm. 265
[28] Ibid., hlm. 276
[29] Ibid., hlm. 276-277
[30] Ibid., hlm. 277
[31] Cerita ini dari hasil wawancara dengan Drs. Khairus Shalikin, dosen Fakultas Sastra, pengurus Muhammadiyah, alumni HMI, yang juga menjadi dosen di Unmuh Jember.
[32] Penyebutan tradisional di sini adalah inisiatif penulis, karena NU sering dikategorikan kepada kelompok tradisional atau neo-tadisional.
[33] Di sisi lain, Abdullahi Ahmed an-Na’im sedang menyelenggarakan louncing buku Islam dan Negara Sekular –yang versi Indonesia ditrejemahkan dan diterbitkan oleh Mizan Bandung-- di mana-mana, termasuk beberapa kota di Indonesia. Dua mainstream pemikiran ini, sedang menjadi isu hangat yang dibahas oleh para aktivis OMEK di UNEJ, terutama HMI, PMII dan IMM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar