Senin, 19 Oktober 2009

hasil penelitian

Executive Summary

Pluralitas Agama dan Toleransi Bagi Umat Budha

di Kecamatan Panggang Gunung Kidul

Panggang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul. Di daerah ini banyak terdapat penduduk yang beragama Budha, terutama di Desa Girikarto. Mereka berjumlah sekitar 515 orang. Umat Budha ini relative homogen. Mereka tinggal di dua dukuh yaitu Dukuh Wiloso dan Dukuh Pundung Desa Girikarto. Di daerah ini terdapat empat vihara tempat suci untuk sentral aktivitas keagamaan mereka.

Penduduk Desa Girikarto, berdasarkan data monografi akhir tahun 2008, berjumlah 3850 orang, yang terdiri dari 870 kepala keluarga. Berdasarkan agamanya, penduduk Girikarto dapat dibagi menjadi: pemeluk agama Islam 3225 orang; pemeluk agama Kristen 15 orang; pemeluk agama Katholik 21 orang dan pemeluk agama Budha 515 orang. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pemeluk agama Islam adalah mayoritas di wilayah ini, menyusul kemudian pemeluk agama Budha.

Di sisi lain, wacana keagamaan mengarah kepada paham pluralisme agama untuk menuju toleransi antara umat beragama. Bahkan, para pemikir modernis, menyatakan bahwa agama-agama memiliki satu titik temu, yang dalam bahasa Nurcholis Madjid disebut sebagai kalimatun sawa. Trend wacana tersebut mendukung pemikiran tentang pluralisme keagamaan, yang sebenarnya merumuskan konsep dan filosofi toleransi beragama, agar para pemeluk agama tidak memiliki truth claim (merasa agamanya yang benar dan agama lain salah), sehingga toleransi tidak terwujud; bahkan agama yang dipahami secara truth claim, dapat menjadi sumber konflik di masyarakat.

Tulisan ini mengkaji tentang bagaimana pemahaman umat Budha Kecamatan Panggang Gunung Kidul terhadap pluralitas agama dan toleransi; dan bagaimana sikap mereka terhadap umat agama lain.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan, yang menggunakan data primer berupa hasil survey, hasil wawancara dan kuesioner. Kuesioner/ angket untuk para pemeluk agama Budha untuk mengetahui pemahaman mereka tentang pluralisme agama dan toleransi. Wawancara dan survey juga dilakukan untuk mengetahui kondisi keberagamaan dalam masyarakat Budha Panggang Gunung Kidul ini, juga untuk mengetahui interaksi mereka dengan umat beragama lain.

Dari penelitian ini dihasilkan bahwa umat Budha di Girikarto Kecamatan panggang Gunung Kidul sangat mengerti tentang pluralitas agama dan toleransi. Menurut mereka, masing-masing pemeluk agama harus saling menghormati, tolong menolong, tanpa rasa saling curiga dan diskriminasi. Dalam praktiknya, mereka juga hidup berdampingan dengan toleran dan harmonis. Namun di sisi lain, sikap toleransi mereka juga dilandasi oleh sikap apropri terhadap agamanya masing-masing, atau keyakinan terhadap agama yang kurang begitu kuat. Mereka tidak membeda-bedakan para pemeluk agama, namun mereka juga tidak peduli ia beragama apa, karena mereka juga tidak terlalu konsisten dengan ajaran agamanya. Mereka lebih disatukan dengan tradisi dan adat kejawen. Sehingga, bentuk pemahaman dan sikap pluralisme mereka berupa sinkretisme.

Sikap toleransi masyarakat Girikarto, yang tampak dalam interaksi antara para anggota kumunitas Budha tersebut dengan umat agama lain, dapat dilihat dalam beberapa bentuk. Diantaranya adalah toleransi dalam keluarga yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda; toleransi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari; keikutsertaan seluruh masyarakat Girikarto Panggang Gunung Kidul dalam berbagai aktivitas Desa, Dukuh dan RT, tanpa membeda-bedakan agama masing-masing. Mereka membaur bersama dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan tanpa membedakan agama masing-masing.

Dari paparan tersebut dapat direkomendasikan untuk lebih memberi pemahaman tentang pluralism agama dan toleransi, yang didasarkan atas paham dan sikap inklusivitas. Pertama, perlu diperkuat keyakinan dan pemahaman keagamaan masing-masing pemeluk agama di daerah ini. Umat Islam, misalnya, perlu mendapatkan perhatian penuh untuk lebih diberikan pengajaran agar melaksanakan ajaran agamanya dengan sepenuhnya; begitu juga umat Buddha; Sehingga, pemahaman dan sikap toleransi di masyarakat ini didasarkan atas pemahaman dan sikap yang benar-benar inklusif bukan sinkretis.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Panggang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul. Di daerah ini banyak terdapat penduduk yang beragama Buddha. Mereka berjumlah sekitar 515 orang. Di daerah ini terdapat empat vihara tempat suci untuk sentral aktivitas keagamaan mereka.

Berdasarkan demografi tahun 2004, penduduk Gunung Kidul secara umum berjumlah kurang lebih 751.316 orang. Yang beragama Islam 716.783 orang atau mencapai 95,4 %; yang beragama Kristen berjumlah 15.152 orang atau 2 %; yang beragama Katolik 16.660 orang atau 2,2 %; Hindu berjumlah 1.962 orang atau 0,2 %; dan yang beragama Buddha berjumlah 443 orang atau 0,05%; sedangkan yang tidak beragama 324 orang atau 0,057 %. Dari 443 orang yang beragama Buddha di Kabupaten Gunung Kidul tersebut, tersebut 360 tinggal menjadi satu komunitas di Kecamatan Panggang.

Secara detail, berdasarkan demografi 2004, penduduk di Kecamatan Panggang berjumlah 28.323 orang. Yang beragama Islam 27.485 orang; yang beragama Kristen 320 orang; yang beragama Katolik 158 orang; Hindu tidak ada dalam catatan; dan yang beragama Buddha 360 orang.

Penduduk Desa Girikarto, berdasarkan data monografi akhir tahun 2008, berjumlah 3850 orang, yang terdiri dari 870 kepala keluarga. Berdasarkan agamanya, penduduk Girikarto dapat dibagi menjadi: pemeluk agama Islam 3225 orang; pemeluk agama Kristen 15 orang; pemeluk agama Katholik 21 orang dan pemeluk agama Buddha 515 orang. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pemeluk agama Islam adalah mayoritas di wilayah ini, menyusul kemudian pemeluk agama Buddha.

Umat Buddha di Kecamatan Panggang ini merupakan masyarakat agraris. Mereka hidup dan bercocok tanam. Namun, karena tanah yang relative tandus, mereka hanya menanan ubi-ubian dan jagung, bukan padi. Mereka hidup sangat sederhana.

Vihara, tempat suci mereka, tampak ramai di hari minggu –ketika peneliti pernah singgah di sana—banyak anak yang belajar agama, layaknya TPA di masjid. Di sini nampak terjadi transformasi keilmuan dan keagamaan dari generasi tua ke generasi muda dan anak-anaknya.

Di sisi lain, wacana keagamaan mengarah kepada paham pluralisme agama untuk menuju toleransi antara umat beragama. Bahkan, para pemikir modernis, menyatakan bahwa agama-agama memiliki satu titik temu, yang dalam bahasa Nurcholis Madjid disebut sebagai kalimatun sawa. Budhi Munawar Rahman, juga pernah menyatakan bahwa bukan tidak mungkin jika Sidarta Gautama yang membawa ajaran Buddha itu juga seorang Nabi. Karena dalam al-Qur’an sendiri terdapat ayat yang menyatakan bahwa Nabi sangat banyak, ada yang telah diceritakan dalam al-Qur’an ada yang belum. Pemikiran filsafat perennial[1] juga sampai pada pemikiran tentang agama esoteris[2] dan eksoteris[3]. Religion dengan R (besar) dan r (kecil); Islam dengan I (besar) sebagai proper name dan nama sebuah agama, dan i (kecil) yaitu essensi dari islam yang berarti ajaran keselamatan dan perdamaian.

Trend wacana tersebut mendukung pemikiran tentang pluralisme keagamaan, yang sebenarnya merumuskan konsep dan filosofi toleransi beragama, agar para pemeluk agama tidak memiliki truth claim (merasa agamanya yang benar dan agama lain salah), sehingga toleransi tidak terwujud; bahkan agama yang dipahami secara truth claim, dapat menjadi sumber konflik di masyarakat.

Interaksi antar umat beragama telah diatur dalam kehidupan bermasyakarat, berbangsa dan bernegaraa di Indonesia. Namun, di masyarakat masih sering terjadi ketegangan dan konflik antara agama. Islam yang memiliki konsep dakwah; Kristen dan Katolik yang juga merupakan agama missi; serta Buddha yang menebarkan kebajikan, sering mengalami benturan dalam kehidupan masyarakat. Seperti di Kabupaten Gunung Kidul ini, juga sering didengar rumor Kristenisasi dan missionaries Kristen. Perasaan saling curiga terhadap agama yang satu dengan agama yang lain, akan menghambat toleransi agama. Sehingga, satu kajian untuk melihat bagaimana masyarakat memahamai toleransi dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, perlu untuk dilakukan.

Umat Buddha di Kecamatan Panggang yang hidup ditengah-tengan umat lain menjadi menarik untuk dikaji. Bagaimana mereka melakukan transformasi keagamaan, bagaimana mereka melaksanakan praktik keagamaannya, dan bagimana bertoleransi dengan umat beragama lain, menjadi suatu yang penting untuk dikaji.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana pemahaman umat Buddha tentang pluralitas agama dan toleransi?
  2. Bagaimana sikap toleransi umat Buddha tersebut dengan umat agama lain?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui pemahaman umat Buddha Kecamatan Panggang Gunung Kidul terhadap pluralitas agama dan toleransi

2. Mengetahui sikap tolernsi umat Buddha Kecamatan Panggang Gunung Kidul dengan umat agama lain

Penelitian ini dapat berguna –secara akademik dan teoretis-- untuk menambah wacana pluralisme keagamaan dan sebagai kajian dalam bingkai besar sosiologi agama.

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat ditindak lanjuti oleh para pejabat Departemen Agama pada umumnya, untuk lebih memperhatikan komunitas kecil yang minoritas seperti ini; paling tidak pihak depag dapat mengetahui bahwa di Indonesia masih terdapat masyarakat-masyarakat terpencil dan minoritas yang unik seperti ini.

Secara khusus, hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan masukan bagi para Pegawai Penyuluh Agama di Departemen Agama kabupaten Gunung Kidul, terutama di Kecamatan Panggang, agar lebih memperhatikan komunitas minoritas seperti komunitas Buddha Panggang ini. Sejauhmana masyakarat terpencil dan minoritas seperti ini memahami makna toleransi dan pluralitas agama, merupakan satu kajian penting, untuk mengetahui apakah wacana pluralisme agama merupakan wacana elitis atau populis. Selanjuntnya, dapat menjadi masukan agar focus penyuluhan agama diarahkan kepada makna dan praktik toleransi agama dalam masyarakat.

D. Ruang Lingkup

Penelitian ini merupakan penelitian agama, yang mengkaji tentang kehidupan umat beragama dalam praktiknya di masyarakat. Dapat dikatakan penelitian ini merupakan kajian sosiologi agama.

Kajian penelitian ini difokuskan pada satu masyarakat tertentu yang peneliti anggap sebagai suatu yang unik dan menarik untuk diteliti, yaitu umat Buddha yang ada di Panggang Kabupaten Gunung Kidul sebagai komunitas yang terpencil dan minoritas.

Kajian akan lebih difokuskan kepada pemahaman dan praktik toleransi agama di masyarakat terpencil dan minoritas tersebut; yaitu tentang bagaimana pemahaman, sikap dan praktik komunitas Buddha Panggang Gubung Kidul tentang pluralisme dan toleransi agama.

E. Signifikansi

Selama ini kajian tentang pluralisme dan toleransi agama telah banyak dilakukan; mulai dari kajian konsep pluralisme dan toleransi agama dalam al-Qur’an hingga studi pemikiran tokoh tentang pluralisme dan toleransi agama, dan pluralisme dan toleransi agama dalam konteks keindonesiaan. Di antara kajian yang pernah dilakukan adalah Pluralisme Agama dan Solidaritas Antar Iman dalam al-Qur’an (Perspektif Hermeneutika Farid Esack), tesis yang ditulis oleh Erik Rahmawati, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Penelitian ini merupakan studi pemikiran Farid Esack tentang pluralisme agama. Kajian tokoh yang lain, yaitu yang dilakukan oleh Ustadi Hamzah, tesis UIN Sunan Kalijaga, yang berjudul Islam dan Pluralisme Agama: Toleransi beragama dalam pandangan Badiruzzaman Said Nursi; Juga studi pemikiran Mukti Ali tentang Pluralisme agama; hingga penelitian tentang pluralisme agama dan toleransi menurut organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, juga telah dilakukan.

Adapun kajian tentang hubungan antara umat beragama dalam konteks Indonesia juga telah banyak dilakukan. Diantaranya adalah penelitian Agus Permana tentang Hubungan Antar Umat Beragama: Talaah atas Kebijakan Politik Pemerintah Orde Baru 1966-1988). Penelitian ini mengkaji tentang kebijakan politik pemerintah untuk mengatur kehidupan umat beragama di Indonesia yang plural, dengan mengambil periode pemerintahan orde baru. Penelitian-penelitian dalam tema ini juga telah ada sebelumnya, baik yang mengambil periode masa penjajahan hingga kemerdekaan. Seperti dalam buku The Crescent and Rising Sun: Indonesian Islam under The Jepanese Occupation 1942 – 1945, oleh H. J. Benda;[4] Juga penelitian dengan tema ini dengan mengambil periode Hindia Belanda (masa Indonesia di bawah penjajahan Belanda), yaitu disertasi M Aqib Suminto yang berjudul Kebijakan Politik Hindia Belanda: Het Kantoor Voor Inlandsche Zaken, yang membahas tentang kebijakan politik Hindia Belanda terhadap kehidupan umat beragama terutama umat Islam Indonesia.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian tentang pluralisme dan toleransi agama yang telah terpapar di atas. Penelitian ini mengambil lingkup yang sangat kecil, dan memilih objek kaum minoritas yang terpencil, yaitu umat Buddha Kecamatan Panggang Gunung Kidul. Namun, penelitian ini sangat signifikan untuk dilakukan untuk melihat sejauh mana paham pluralisme agama dan praktik toleransi beragama telah dilaksanakan dalam masyarakat. Jangan-jangan selama ini wacana pluralisme agama hanya bersifat elitis yang hanya dikonsumsi kaum intelektual dan akademis belaka; Dan, selama ini kajian agama hanya menfokuskan pada kaum mayoritas yaitu umat Islam. Penelitian ini mencoba untuk melihat wajah kaum minoritas dan pemahamannya tentang pluralisme agama, serta praktik toleransi yang dilaksanakan dalm kehidupan sehari-hari.

F. Kerangka Teori

Adanya pluralitas agama selama ini juga menimbulkan problema hubungan antar umat beragama. Beberapa teori untuk merespons problema tersebut diantaranya adalah: pertama, sinkretisme yaitu pandangan bahwa semua agama adalah sama, sehingga ada usaha untuk membaurkannya dan menyatukannya; kedua, sintesisme yaitu pandangan yang ingin menciptakan agama baru, dengan unsur-unsur diambil dari berbagai agama yang ada; ketiga, rekonsepsionisme yaitu usaha untuk menyelami dan meninjau kembali agama sendiri terhadap agama lain untuk menyusun suatu agama universal; keempat, konversionis yaitu pandangan bahwa agama sendirilah yang benar dan agama lain adalah salah. Pandangan ini disertai dengan usaha untuk mengajak pemeluk agama lain konversi ke agamanya[5]; kelima, eksklusivisme yaitu pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya ada pada agama yang dipeluknya; keenam, inklusivisme yaitu pandangan bahwa agama yang dianutnya lebih sempurnya dari agama lain, tetapi di dalam agama lain juga ada kebenaran, antara asatu agama dengan yang lain saling mencakup; ketujuh, paralelisme yaitu pandangan bahwa masing-masing agama berbeda tetapi punya tujuan yang sama dan pada akhirnya akan bertemu pada satu titik persamaan; kedelapan, pluralisme yaitu pandangan bahwa keragaman adalah realitas yang tidak bisa dihindari, maka perlu adanya saling pemahaman untuk dapat hidup berdampingan[6]; kesembilan, dialog/ interaction yaitu pandangan bahwa agama itu satu atau satu yang superior diantara agama-agama setiap golongan harus belajar dengan golongan lain dan berkomunikasi[7]; kesepuluh, substitusi yaitu pandangan yang ingin agar agama-agama yang ada diarahkan untuk berganti agama dan memilih suatu agama yang dianggap paling benar.[8]

Wacana pluralisme agama selama menyertakan beberapa isu utamanya antara lain adalah tentang kebenaran, keselamatan, toleransi dan kesatuan transendensi agama-agama serta klaim kebenaran. Kemudian, muncullah teori yang mencoba menjelaskan tentang pluralisme, yaitu secara garis besar meliputi: pertama, pluralisme tidak semata-mata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan tetapi keterlibatan aktif terhadap realita kemajemukan tersebut; kedua, pluralisme tidak sama dengan kosmopolitanisme, karena kosmopolitanisme menunjuk kepada suatu realita dimana aneka ragam agama (ideology), ras dan bangsa hidup berdampingan di satu lokasi tetapi interaksinya minus; ketiga, pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme, karena paham ini meganggap kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau masyarakatnya, sehingga konsekuaensi logisnya, paham ini memposisikan agama dan doktrin agama apapun pada posisi yang harus dinyatakan benar atau gampangnya semua agama adalah sama, sedemikian rupa sehingga tidak menerima kebenaran universal yang berlaku untuk semua agama dan sepanjang masa; keempat, pluralisme bukanlah sinkretisme yang melahirkan agama baru hasil ramuan dari unsure atau bagian komponen ajaran agama-agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut.[9]

Teori-teori tentang pluralisme tersebut di atas, akan digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini.

G. Metode Penelitian

Rincian metodologi untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian yang disebutkan di atas, adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan, yang menggunakan data primer berupa hasil survey, hasil wawancara dan kuesioner.

b. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Panggang Kabupaten Gunung Kidul, khususnya pada komunitas Buddha yang ada di sana.

c. Adapun responden-responden yang akan diteliti adalah para pemeluk agama Buddha di Panggang Gunung Kidul.

d. Pengumpulan data primer:

Data primer dikumpulkan melalui sarana kuesioner/ angket, wawancara dan survey langsung.

1) Kuesioner/ angket untuk para pemeluk agama Buddha untuk mengetahui pemahaman mereka tentang pluralisme agama dan toleransi.

2) Wawancara dan observasi langsung, juga dilakukan untuk mengetahui kondisi keberagamaan dalam masyarakat Buddha Panggang Gunung Kidul ini, juga untuk mengetahui interaksi mereka dengan umat beragama lain.

e. Pengambilan Sample

Sample diambil secara random. Dari 515 orang umat Buddha di Kecamatan Panggang Gunung Kidul, hanya terdapat di Dukuh Wiloso dan Pundung. Sehingga, responden juga diambil di daerah tersebut. Angket disebar kepada 51 orang, yang tersebar di RT 01 Wiloso yaitu daerah Nglaos, RT 04 dan 05 Wiloso, dan di Dukuh Dawung. Sebagian angket diberikan kepada anak-anak Sekolah Minggu Budhis (SMB) yang telah duduk di bangku SMP.

Adapun wawancara dilakukan kepada para tokoh agama Buddha di daerah ini seperti Bapak Mardiono, Bapak Sumo Sentana, Bapak Muryadi. Mereka ini adalah tokoh Buddha Kecamatan Panggang, yang dahulu mengikuti pelatihan agama Buddha di Wonosari tahun 1980an, dan kemudiaan menyebarkan agama Buddha di daerah ini. Nara sumber lain yaitu Bapak Samsi Swasana, yaitu Sekretaris Majelis Buddhayana Indonesia Kabupaten Gunung Kidul, yang tinggal di Nglaos. Kepala Desa Girikrto, Kepala Dukuh Wiloso dan Pundung, serta para tokoh Islam juga sebagai outsider, juga dijadikan nara sumber dalam penelitian ini. Kepala desa sebagai pimpinan masyarakat Girikarto dan Kepala Dukuh Wiloso dan Pundung, walaupun mereka beragama Islam, dapat dianggap sebagai tokoh masyarakat Girikarto yang mengetahui kondisi masyarakatnya baik secara sosiologis maupun kondisi keberagamaannya.

f. Mengumpulkan data sekunder

Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber seperti:

1) Data yang berkaitan dengan wacana pluralisme agama dan toleransi berupa buku-buku dan artikel.

2) Sumber dari koran, majalah dan publikasi lainnya, serta dokumen-dokumen.

g. Langkah-langkah analisis data:

1) Menganalisis data hasil survey dan wawancara tentang kondisi keberagaan komunitas Buddha di Panggang Gunung Kidul, untuk menjawan rumusan masalah pertama.

2) Menganalisis menganalisis hasil kuestioner tentang pemahaman masyarakat tersebut tentang pluralisme agama dan toleransi, kemudian mengkombinasikannya dengan hsil survey tentang praktik toleransi yang ada di masyarakat tersebut.

3) Menganalisis pola interaksi anatar komunitas Buddha Panggang Gunung Kidul dengan umat beragama lain, apakan toleransi telah terbina dalam masyarakat tersebut, guna menjawab pertanyaan besat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana toleransi agama di komunitas Buddha Panggang Gunung Kidul.

H. Sistematika Penulisan

Paparan laporan penelitian ini diawali dengan bab I yaitu pendahuluan, yang memaparkan tentang rancangan penelitian, berupa permasalahan, tujuan, dan metode penelitian yang lain hingga sistematika pembahasan. Pembahasan dalam bab ini menjadi acuan dan kerangka penelitian.

Adapun isi penelitian ini dipaparkan dalam bab selanjutnya yaitu bab 2 sebagai gambaran umum lokasi penelitin yaitu membahas tentang Desa Girikarto baik dari segi geografis, sosiologis dan keberagamaan. Bab berikutnya adalah pembahasan tentang kondisi keberagamaan umat Buddha Panggang Gunung Kidul. Bab ini dapat dibagi menjadi dua; pertama membahas tentang latar belakang dan sejarah masuknya agama Buddha ke daerah Panggang Gunung Kidul ini. Bagian kedua, membahas tentang kehidupan keberagamaan mereka sehari-hari.

Bab 4 selanjutnya membahas tentang pemahaman mereka tentang pluralisme agama dan toleransi beragama, serta sikap mereka terhadap pluralisme agama tersebut. Pembahasan sikap toleransi dikaitkan dengan interaksi umat Buddha Panggang Gunung Kidul dengan umat beragama lain. Pembahasan dan analisis bab keempat ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, dan dapat dikatakan bahwa the ultimate goal dari penelitian ini, yaitu untuk menjawab pokok masalah: bagaimana toleransi beragama yang dipraktikkan di Komunitas Buddha Panggamng Gunung Kidul.

Pembahasan terakhir adalah bab 5 yaitu penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah, yang ditulis secara lebih ringkas. Sehingga, dapat dikatakan dalam kesimpulan ini akan dipaparkan hasil penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan saran dan rekomendasi terkait dengan hasil penelitian tersebut.


BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Gambaran Geografis Desa Girikarto Panggang Gunung Kidul

Desa Girikarto merupakan salah satu Desa di kecamatan Panggang Kabupaten Gunung Kidul. Desa ini seluas 1393,7000 Ha. Di sebelah utara, Desa ini berbatasan dengan Desa Girimulyo, sebelah selatan dengan dengan samudera Hindia, sebelah barat berbatasan dengan Desa Giriwungu, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Krambilsawit.

Ketinggian Tanah dari permukaan laut 200 – 250 M. Suhu udara rata-rata 28 – 34 C. Perbandingan antara dataran rendah; dataran tinggi; dan pantai adalah 5 %; 25 % dan 70 %. Jarak Desa ini ke Ibukota Kabupaten adalah 49 Km. Tanah kering sejumlah 61,7100 Ha. Tanah ladang seluas 1246,3550 Ha dan tanah ladang pangonan 21,8410 Ha.

Di daerah ini tidak didapatkan sumber air tanah. Belum ada sumur yang berhasil dibuat di sini. Sehingga, masyarakat hanya menimbun air hujan di penampungan-penampungan air di rumah; dan pada musin kemarau, ketika iar tampungan habis, mereka harus membeli air dari tangki-tangki distributor air, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Desa ini terbagi menjadi 8 Dukuh yaitu:

1. Dukuh Padem terdiri dari 7 RT, berjumlah 142 Kepala Keluarga

2. Dukuh Bolang terdiri dari 5 RT, berjumlah 133 Kepala Keluarga

3. Dukuh Dawung terdiri dari 4 RT, berjumlah 98 Kepala Keluarga

4. Dukuh Wiloso terdiri dari 6 RT, berjumlah 167 Kepala Keluarga

5. Dukuh Karang, terdiri dari 4 RT, berjumlah 132 Kepala Keluarga

6. Dukuh Bedug terdiri dari 3 RT, berjumlah 57 Kepala Keluarga

7. Dukuh Doplang terdiri dari 4 RT, berjumlah 67 Kepala Keluarga

8. Dukuh Pundung terdiri dari 4 RT, berjumlah 86 Kepala Keluarga

B. Gambaran Sosiologis Desa Girikarto Panggang Gunung Kidul

Penduduk Desa Girikarto, berdasarkan data monografi akhir tahun 2008, berjumlah 3850 orang, yang terdiri dari 870 kepala keluarga. Berdasarkan jenis kelaminnya, penduduk laki-laki berjumlah 1835 orang dan perempuan berjumlah 2015 orang. Penduduk usia 10-14 tahun berjumlah 399 orang; usia 15-19 tahun berjumlah 316 orang; usia 20-26 tahun berjumlah 397 orang; usia 27-40 tahun berjumlah 518 orang; usia 41-56 tahun berjumlah 910 orang; dan di atas 57 tahun berjumlah 1245 orang.

Ditinjau dari tingkat pendidikannya, penduduk Girikarto yang lulusan Taman Kanak-kanak berjumlah 21 orang; lulusan Sekolah Dasar berjumlah 80 orang; lulusan SMP/SLTP berjumlah 511 orang; lulusan SLTA/ SMA berjumlah 49 orang; lulusan Akademi (D1- D3) berjumlah 17 orang; dan sarjana berjumlah 2 orang. Lulusan Pondok Pesantren berjumlah 5 orang, Madrasah 22 orang; dan lulusan kursus keterampilan berjumlah 23 orang.

Penduduk Girikarto berdasarkan mata pencahariannya, dapat diketahui bahwa petani pemilik tanah berjumlah 3089 orang; petani penggarap tanah 273 orang; petani penyekap 29 orang dan buruh tani berjumlah 55 orang. Adapun nelayan berjumlah 55 orang; pengusaha sedang/ besar 4 orang; pengrajin industri kecil berjumlah 21 orang; buruh industri 7 orang; buruh bangunan 158 orang; buruh pertambangan 26 orang; buruh perkebunan 21 orang; pedagang 24 orang; pengangkutan 26 orang; PNS 3 orang dan TNI/POLRI berjumlah 3 orang.

Mayoritas penduduk Girikarto hidup dengan bercocok tanam. Namun, tekstur tanah yang relative kurang subur, kering dan berbatuan, sehingga banyak penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian petani hanya bisa menanam padi satu tahun sekali dimusim penghujan. Sementara di musim kemarau, mereka memanam kacang tanah dan singkong.

Gambar: tekstur tanah di Desa Girikarto, yang penuh dengan batu cadas

Dari tanaman singkong ini, masyarakat membuat gaplek (singkok yang dikeringkan) dan dijual begiu saja atau dibuat tepung. Sehingga hanya sedikit penghasilan yang mereka peroleh. Daunnya bias dibuat makanan ternak. Mereka menghabiskan waktunya di ladang. Pagi-pagi mereka berangkat ke ladang dan sore hari menjelang magrib mereka pulang.

Gambar: para warga pulang dari ladang

Mereka pergi ke ladang yang relative jauh dengan berjalan kaki. Seharian mereka di ladang. Pada musin kemarau, pada masa panen singkong ini mereka mengupas singkong di ladang dan mengeringkannya di sana. Sisa-sisa kayu keras dapat di jadikan untuk bahan membuat arang. Sehingga, banyak penduduk yang menjadi pembuat arang untuk pekerjaan sampingan dan tambahan penghasilan.

Gambar: pembuatan arang di Girikarto

Di samping itu, penduduk Girikarto mayoritas mempunyai binatang ternak, seperti kamping, domba dan sapi. Dari data nomografi diperoleh bahwa ternak sapi berjumlah 512 ekor; kerbau berjumlah 2 ekor; kambing berjumlah 789 ekor dan domba berjumlah 12 ekor. Binatang ternak ini jarang sekali yang dikandangkan di dekat rumah penduduk. Melainkan, mereka membuat kandang di ladang-ladang. Hal ini dikarenakan kotoran ternak dapat dijadikan pupuk. Sehingga, jika ternak berada di dekat rumah yang sangat jauh dari ladang, maka sereka akan kesulitas membawa kotoran ternak tersebut. Sehingga, jika ternak di kandangkan di ladang, maka petani langsung membawa kotorannya untuk pupuk tanaman.

C. Kehidupan Keberagamaan Masyarakat Desa Girikarto Panggang Gunung Kidul

Berdasarkan agamanya, penduduk Girikarto dapat dibagi menjadi: pemeluk agama Islam 3225 orang; pemeluk agama Kristen 15 orang ; pemeluk agama Katholik 21 orang dan pemeluk agama Buddha 515 orang. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pemeluk agama Islam adalah mayoritas di wilayah ini, menyusul kemudian pemeluk agama Buddha.

Di Desa Girikarto terdapat 5 masjid dan 8 mushala. Khususnya di Dukuh Wiloso, terdapat sebuah masjid, yang terletak di RT 05. Dukuh Wiloso merupakan focus penelitian ini, dimana dukuh ini merupakan tempat sentral komunitas Buddha.

Di masjid Wiloso, umat Islam melaksanakan kegiatan keagamaan, seperti shalat berjamaah lima waktu setiap hari, shalat jum’at serta shalat-shalat hari raya. Masjid ini juga digunakan untuk pengajaran agama bagi anak-anak (yaitu TPA) di setiap sore, dan pengajian ibu-ibu aisyiah sebulan sekali yang dikemas dengan acara arisan.

Gambar: Pengajian ibu-ibu Aisyiah di masjid Wiloso

Anggota pengajian aisyiah mencapai 157 orang dari berbagai dukuh di Desa Girikarto. Adapun TPA biasanya diikuti sekitar 30 orang anak laki-laki dan perempuan.

Gambar: anak-anak TPA di masjid Wiloso

Anak-anak TPA yang berjumlah 30-an ini ramai di kala musim KKN. Para mahasiswa KKN UII membantu pengajaran mereka. Namun, di saat KKN tidak ada, hanya ada satu orang guru ngaji yang mengajar di TPA tersebut; dan anak didik TPA juga tidak seramai masa KKN; mereka biasanya hanya sekitar 10 orang.

Begitu juga shalat jama’ah setiap hari hanya ada 5 hingga sepuluh orang yang mengikutinya. Pada masa KKN, jama’ah nampak penuh. Ada dua baris jama’ah laki-laki; beberapa orang dewasa dan kebanyakan adalah anak-anak TPA yang hanya berjama’ah pada shalat maghrib. Sementara, pada waktu shalat isya’, hanya ada tujuh orang dengan mahasiswa KKN –berarti hanya dua orang penduduk asli—dan hanya ada 3 orang dari jama’ah perempuan. Adapun shalat jum’at di masjid Wiloso ini hanya diikuti oleh sekitar 15 hingga 20 orang.

Walaupun umat Islam mayoritas di wilayah ini, namun masih banyak masyarakat yang menganut kejawen dan tradisi seperti sesajen. Menurut Kepala Desa Girikarto, masyarakatnya masih akrab dan berpegang dengan tradisi. Tradisi yang senantiasa dilaksanakan contohnya adalah yang berkaitan dengan kehidupan di dunia ini, seperti tradisi kematian, kelahiran dan tradisi perkawinan.

Tradisi yang terkait dengan kematian, misalnya adalah tradisi ngesur tanah, pada hari meninggalnya seseorang, hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus dari hari kematian, selalu dibuat sesajen dan genduri. Adapun tradisi yang terkait dengan kelahiran yang masih dilaksanakan seperti tradisi tujuhbulanan dengan pempersiapkan upacara dan sesajen; delapanbulanan dilaksanakan acara dawetan, yaitu menyiapkan sesajen dan terutama dawet (jenis minuman yang terdiri dari air gula, santan dan cendol), agar nanti sang bayi dapat lahir dengan mudah dan lancar; kemudian kenduri saat puputan bayi (lepasnya tali pusat bayi) dan sebagainya. Sementara yang berkaitan dengan perkawinan adalah tradisi besik yaitu pergi ke makam orang tua dan leluhurnya untuk minta berkah dan doa restu.

Sesajen ini merupakan tradisi yang dilestarikan di daerah ini. Dalam sesajen, terdapat beberapa kenis makanan dan barang yang harus ada. Setiap acara yang berbeda, tujuan yang berbeda, dihadirkan sesajen yang berbeda. Namun, terdapat beberapa hal yang harus selalu ada dalam sesajen yaitu jenang abang putih, among dan nasi gurih, menurut Kepala Desa. Jenang abang simbol sesajen untuk yang jaga pekarangan, jenang putih untuk yang jaga bapak ibu, among (nasi yang dibentuk bulat-bulat) dibuat sessuai dengan jumlah anggota keluarga, untuk penjaga seluruh anggota keluarga; serta nasi gurih adalah symbol nasi suci untuk Nabi.

Tradisi sesajen ini turun temurun dilaksanakan di daerah ini. Transformasi nilai dan pengetahuan tentang sesajen ini dilakukan oleh seorang Kaum atau Rois yaitu tokoh masyarakat yang memimpin doa saat acara sesajen. Dia juga yang menunjukkan jenis sesajen apa yang harus dipersiapkan. Dengan adanya Kaum/ Rois ini maka tradisi sesajen tertransformasikan secara turun-temurun.

Di sisi lain, masyarakat daerah ini juga masih akrab dengan sesajen di tempat-tempat yang masih dianggap keramat. Misalnya, di Dukuh Wiloso terdapat tempat yang disebut sebagai Mbah Seban. Tempat ini dipercayai sebagai tempat bekas istirahatnya Sunan Kalijaga saat setelah berjalan jauh di daerah ini. Tempat ini berupa pepohonan yang lebat terlilit dengan tanaman kecil yang merambat ke seluruh bagian, sehingga menutup pohon-pohon kerasnya.

Gambar: Mbah Seban; dan pintu masuknya

Orang bisa masuk ke bawah anjang-anjang pohon ini dari arah barat. Di dalamnya sangat teduh dan cukup luas. Biasanya orang-orang mengadakan sesajen di dalam pepohonan ini.

Dari tempat istirahat tadi, Sunan Kalijaga ingin membangun masjid. Menurut Pak Mudio, seorang tokoh muslim masyarakat Wiloso, Sunan Kalijaga dahulu pernah meminta air ke penduduk wiloso, namun ia diberi air kobokan. Setelah melanjutkan perjalanannya sampai daerah padukuhan doplang, sebelah barat wiloso, Sunan Kaligaja dikasi air yang baik oleh penduduk. Maka, kemudian ia mendirikan masjid di daerah Doplang ini. Ia juga pernah berpesan, jika suatu saat nanti penduduk daerah tersebut kesulitan air, mereka boleh berdoa memohon air di masjid ini. Ironinya, masjid Sunan kalijaga ini dijadikan tempat keramat. Masyarakat sering memohon air di masa kering, dengan sesajen dan membakar kemenyan di lingkungan masjid ini.

Gambar: Masjid Sunan Kalijaga

Bangunan masjid ini bukan bangunan asli dari masa Sunan Kalijaga. Tahun 1980-an masyarakat setempat telah merehab masjid hingga bentuknya saat ini. Sekarang, menurut penduduk setempat, tradisi sesajen minta air juga masih dilaksanakan oleh generasi tua masyarakat di sini. Namun, gerenasi muda yang telah berpegang teguh pada ajaran Islam, telah menfungsikan masjid sebagaimana mestinya, untuk shalat dan kegiatan keagamaan yang lain.

Tradisi lain yang kental di masyarakat adalah ruwahan. Ruwah, merupakan salah satu bulan jawa yang diadopsi dari bulan-bulan dalam tahun Qamariah. Ruwah adalah bulan jawa dari bulan Qamariah Sya’ban, sebulan menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ruwahan mengambil waktu pada masa nisfu Sya’ban. Di bulan ini, berdasarkan ajaran Islam, segala catatan amal manusia diangkat untuk diganti dengan buku catatan amal yang baru. Sehingga, para muslim berdoa, memohon ampun dan mensucikan diri, agar waktu buku cacatan amal diangkat, dalam keadaan bersih dan khusnul khatimah. Di masyarakat Girikarto, tradisi ruwahan dilakukan dengan memperingati hari meninggalnya sanak famili di bulan ruwah ini, serta acara sedekah ruwahan di rumah RT atau Dukuh, bersih-bersih lingkungan, mengecat pagar dan sebagainya. Namun, acara ini tidak terlepas dari sesajen membakar kemenyan.

Gambar: baker kemenyan dalam acara sedekah ruwah

Ini merupakan ajaran Islam yang dipadukan dengan budaya kejawen. Namun, tradisi sesajen dan bakar kemenyan yang dekat dengan tradisi animisme ini yang kemudian lebih dominan. Masih banyak lagi tradisi kejawen yang dilaksanakan secara turun-temurun di masyarakat ini.


BAB III

KEHIDUPAN KEBERAGAMAAN KOMUNITAS BUDDHA DI GIRIKARTO PANGGANG GUNUNG KIDUL

  1. Asal Mula Umat Buddha Girikarto Pangang Gunung Kidul

Umat Buddha di Girikarto Panggang Gunung Kidul ini, bukanlah penganut agama yang turun temurun dari sejak masa Mataram Hindu atau masa penyebaran agama pertama di Jawa. Namun, umat Buddha di Panggang ini merupakan hasil penyebaran agama yang terjadi pada beberapa decade terakhir ini.

Pada mulanya, masyarakat Wiloso –yang memiliki umat paling banyak di wilayah ini—merupakan penganut kepercayaan kejawen, sebagian pemeluk agama Islam –Islam KTP. Mereka masih akrab dengan tradisi kejawen, seperti sesajen dan kepercayaan kepada animisme dan dinamisme.

Pada masa jayanya Partai Komunis Indonesia (PKI), di wilayah ini banyak yang ikut organisasi Gerakan Rakyat Merdeka (Gerinda). Salah satu tokoh gerakan ini di Yogyakarta adalah bapak Wisnu Wardana. Ia beragama Buddha. Maka, ia menyebarkan agama Buddha kepada para pengikut gerakan ini di Wiloso dan Girikarto.

Para pengikut Gerinda di Wiloso kebanyakan adalah penganut kejawen. Maka tahun 1980, beberapa orang diundang untuk mengikuti pelatihan agama Buddha di Wonosari Gunung Kidul. Sehingga, beberapa orang inilah yang kemudian menyebarkan ajaran Buddha di wilayah Girikarto ini.

  1. Lokasi Komunitas Buddha di Desa Girikarto Panggang Gunung Kidul

Panggang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul. Di Kecamatan Panggang ini dapat dikatakan pusatnya umat Buddha. Umat Buddha di Kabupaten Gunung Kidul yang berdasarkan demografi Kabupaten Gunung Kidul tahun 2003 berjumlah 443 orang, 82 % berada di Kecamatan Panggang ini, yaitu 360 orang.

Di Kecamatan Panggang, terdapat beberapa titik lokasi umat Buddha ini, dan pusatnya adalah di Desa Girikarto. Di Desa ini terdapat 3 Vihara yaitu di Dusun Wiloso (RW 04), yaitu di 1 vihara di RT 04 dan vihara kecil semacam pure di RT 01; dan 1 vihara di Dusun Pundung. Selain itu di perbatasan Desa Girikarto dan Giri Wungu juga terdapat 1 vihara.

Gambar: Vihara Giri Ratana di Petung

Vihara ini adalah Vihara Giri Ratana, yang terletak di lereng bukit di daerah Petung. Bangunan ini tampak baru, dibangun tahun 2006an, dan hingga saat ini belum sempurna. Jalan menuju ke vihara ini belum di bangun. Menurut sesepuh Buddha di wilayah ini, masih menunggu dana berikutnya. Vihara-vihara biasanya dibangun di atas atau lereng bukit atau di tempat yang lebih tinggi. Menurut Pak Muryadi, penjaga Vihara Wiloso, memang vihara merupakan tempat suci, yang hendaknya memang tidak dibangun sejajar dengan rumah biasa. Vihara harus lebih tinggi, karena vihara adalah tempat untuk bersujud kepada-Nya. Orang menyebut vihara ini dengan vihara Petung (nama dusun). Jamaah vihara ini sekitar 19 kepala keluarga.

Di Dusun Wiloso yang memiliki 2 vihara tersebut, memiliki jumlah umat yang paling banyak, yaitu 99 kepala keluarga, yang berarti kurang lebih 198 orang. Jika dirinci, jamaah vihara Giri Surya RT 04 berjumlah 73 kepala keluarga dan jamaah Nglaos dan Dawung yang RT 01 berjumlah 36 kepala keluarga.

Vihara Giri Surya yang terletah di kawasan RT 04 merupakan vihara terbesar dari yang lain. Vihara ini merupakan tempat sentral kegiatan seluruh umat Buddha di Girikarto. Bangunannya megah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti gamelan karawitan, panggung hiburan, dan bangunan untuk Taman Kanak-kanak.

Gambar: Vihara Giri Surya di Wiloso

Di RT 01 Dukuh Wiloso yang disebut dengan dusun Nglaos, juga terdapat 1 vihara. Masyarakat RT 01 inilah masyarakat pemeluk Buddha yang homogen. Dari 23 kepala keluarga di RT ini, hanya 1 kepala keluarga yang muslim. Jadi, jamaah Vihara Nglaos ini berjumlah 22 kepala keluarga. Vihara ini diberi nama Vihara Dharma Ratna.

Gambar: Vihara Dharma Ratna di Nglaos

Sementara di Dusun Pundung, umat Buddha terdiri dari 60 kepala keluarga. Dusun Pundung ini terletak di sebelah utara dukuh Wiloso. Berbeda dengan komunitas Buddha di Ngaos, keluarga Buddha di Dukuh Pundung ini terdiri dari beberapa agama yang berbeda. Pada umumnya, para orang tua beragama Buddha dan anak-anak ada yang Buddha dan ada yang beragama Islam. Di Dukuh Pundung ini terdapat 1 vihara, yaitu vihara Bhakti Wira Dharma.

Gambar: Vihara Bhakti Wira Dharma

  1. Struktur Umat Buddha di Desa Girikarto Panggang Gunung Kidul

Umat Buddha di Kecamatan Panggang merupakan mengikut aliran Buddhayana. Di Kecamatan ini terdapat koordinator Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), yang secara structural di bawah MBI Kabupaten Gunung Kidul. Bapak Mardiono, merupakan pengurus dan coordinator MBI di wilayah ini. Ia juga sebagai petugas Pencatat Perkawinan dan agama Buddha.

Di Dusun Wiloso ini telah terdapat yayasan umat Buddha, yaitu Yayasan Gunadharma. Yayasan ini telah membangun dan mendirikan sebuah Taman Kanak-kanak (TK). Lembaga ini merupakan wahana transformasi ajaran dan keilmuan umat Buddha kepada anak-anak generasi penerusnya.

Dalam garis pemerintahan, terdapat Pembina Keagamaan Buddha di Departemen Agama baik di tingkat Pusat maupun di tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun di Tingkat Kabupaten Gunung Kidul, belum ada Bagian yang membina Umat Buddha. Sehingga, urusan umat Buddha di Kabupaten Gunung Kidul langsung ditangani oleh Departemen Agama Tingkat Propinsi DIY. Pembina Agama Buddha juga datang sebulan sekali ke komunitas Buddha di Wiloso ini. Bahkan, anggaran dana untuk umat Buddha ini telah tersedia di Departemen Agama.

Umat Buddha ini juga memiliki relasi dengan Persatuan Bikhu Indonesia. Organisasi ini memberikan bimbingan keagamaan dan dukungan financial. Bhikkhu Sasana Bodhi, yang dahulu bertugas di Klenteng Gondo Manan Yogyakarta, juga sebagai pembimbing umat Buddha di Girikarto ini. Sekarang Bhikkhu ini telah bertugas di Siraman Wonosari Gunung Kidul, sehingga lebih dekat dengan umat Buddha di Wiloso ini.

D. Aktivitas Keberagamaan Umat Buddha Girikarto Pangang Gunung Kidul

Di daerah ini terdapat beberapa vihara. Di vihara inilah tempat pusat kegiatan umat Buddha. Mereka melakukan ritual sembahyangan di vihara-vihara ini, yaitu di setiap tanggal 1, tanggal 8, tanggal 15 (hari purnamasidi/ malam bulan purnama) dan tanggal 23 tiap bulan dalam tahun perhitungan Jawa. Setiap tanggal ini, Vihara Giri Surya ramai dipenuhi umat Buddha Wiloso. Kegiatan sembahyangan ini dipimpin secara bergilir oleh seorang anggota dari mereka –baik laki-laki maupun perempuan.

Adapun di Vihara Bhakti Wira Dharma di Dukuh Pundung, sembahyangan selalu dilakukan setiap jum’at malam. Di vihara ini, Bapak Soma Sentana sebagai tokoh yang memimpin dan mengatur umat Buddha.

Gambar: aktivitas sembahyangan umat Budha di vihara

Adapun Vihara Dharma Ratna di Nglaos RT 01 Dukuh Wiloso, setiap malam terdapat kegiatan. Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu yang sembahyangan dan belajar agama. Vihara ini akan lebih ramai di setiap malam Kamis, karena seluruh umat Buddha Nglaos berkumpul untuk melaksanakan sembahyang.

Di setiap hari minggu dilaksanakan pengajaran agama untuk anak-anak Budhis di wilayah ini. Kegiatan ini bertempat di Vihara Giri Surya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 anak dari usia sekolah TK, SD dan SMP. Kegiatan ini dinamakan Sekolah Minggu Budhis (SMB). Dua orang menjadi pengajar tetap di SMB ini. Namun, masih terdapat satu atau dua orang pemuda –yang kini kuliah di Sekolah Tinggi Agama Buddha di Boyolali-- yang sering membantu pengajaran.

Gambar: anak-anak Sekolah Minggu Budhis (SMB) di Vihara Giri Surya

Dalam SMB ini anak-anak Budhis berkumpul. Kegiatan ini merupakan transformasi ajaran Buddha kepada generasi mereka. Kegiatan SMB ini diawali dengan sembahyang bersama. Anak-anak memimpin sembahyang secara bergantian –baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan pengajaran agama Buddha, dan belajar kelompk untuk mengerjakan PR dari sekolah masing-masing.

Di setiap malam minggu, Vihara Giri Surya ini digunakan untuk kegiatan remaja dan muda-mudi Budhis. Mereka tergabung dalam organisasi Persaudaraan Muda-mudi Wihara (PMW). Perkumpulan ini diikuti oleh sekirat 20 orang. Mereka melakukan sembahyang bersama kemudian melakukan kajian agama.

Vihara Giri Surya juga dilengkapi dengan fasilitas karawitan berupa satu set gamelan lengkap. Peralatan ini digunakan oleh empat kelompok karawita. Satu kelompok terdiri dari para bapak dan ibu Budhis; satu kelompk terdiri dari mudah-mudi Budhis; satu kelompok terdiri dari muda-mudi baik yang beragama Buddha maupun non Buddha; dan satu kelompok adalam anak-anak baik umat Buddha maupun non-Buddha.

Gambar: fasilitas karawitan di Vihara Giri Surya

Di masyarakat, jika terjadi seorang meninggal dunia, umat Buddha berkumpul bersama di rumah duka untuk melaksanakan do’a bersama. Mereka juga menganut tradisi 1 hari, 3 hari, 7 hari dan seterusnya. Selayaknya masyarakat yang menganut adat jawa kenduren, umat Buddha juga melaksanakan kenduren ala Buddha.

Gambar: suasana doa bersama umat Budha dalam rangka ruwahan di rumah warga


BAB IV

SIKAP TOLERANSI KOMUNITAS BUDHA

DI GIRIKARTO PANGGANG GUNUNG KIDUL

  1. Pemahaman Umat Budha tentang Pluralitas Agama dan Toleransi

Pluralitas agama merupakan suatu keniscayaan. Karena memang terdapat beberapa agama di dunia ini, begitu juga di Indonesia terdapat beberapa agama yang diakui secara sah oleh pemerintah. Namun pemahaman dan sikap masyarakat berbeda-beda. Sehingga, perlu diketahui bagaimana pemahaman masyarakat tentang pluralitas agama dan toleransi.

Warga Desa Girikarto yang banyak terdapat umat Budha, terutama di Dusun Wiloso dan Pundung, merupakan objek survey yang diutamakan. Beberapa responden dilibatkan untuk mengetahui pemahaman mereka tentang pluralitas agama dan toleraansi.

Para responden memberikan jawaban yang hampir homogen terhadap pertanyaan yang diajukan. Mereka semua menjawab setuju atau sangat setuju tentang adanya berbagai agama yang diakui sah di Indonesia yang masing-masing memiliki pengikut. Bahkan mereka semua juga menjawab setuju atau sangat setuju tentang sikap seharusnya masing-masing pemeluk agama untuk saling menghormati, tidak membeda-bedakan, tidak saling curiga.

Dari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan tersebut dapat diketahui bahwa warga masyarakat Budhis Wiloso telah memahami pluralitas agama. Mereka juga memiliki sikap toleransi yang tinggi. Mereka bergaul bersama dan bergotong royong bersama dalam masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang agama masing-masing.

Mereka semua menjawab setuju atau sangat setuju tentang ‘semua agama sama-sama mengajarkan kebaikan dan mencegak kejahatan’. Bahkan mayoritas dari mereka juga menjawab setuju bahwa ‘semua agama berasal dari Allah/ Tuhan sang Penguasa Tunggal di alam semesta ini’. Hanya ada satu responden yang menjawab tidak setuju. Dari hal ini dapat diketahui bahwa umat Budha Wiloso memiliki toleransi terhadap pluralitas agama yang relative tinggi.

  1. Interaksi Umat Budha dan Umat Beragama Lain

1. Interaksi dalam Keluarga

Di Desa Girikarto banyak terdapat keluarga yang anggotanya merupakan pemeluk agama yang berbeda-beda. Misalnya, terdapat pemeluk agama Budha dan Islam dalam satu keluarga. Di Dukuh Pundung misalnya, banyak keluarga yang orang tuanya beragama Budha sedangkan anak-anaknya, ada yang beragama Budha dan ada yang beragama Islam.

Gambar: anak-anak di Dukuh Pundung yang berbeda-beda agama, bermain bersama

Anak-anak ini ketika ditanya tentang keluarganya, mereka dengan polosnya mengatakan bahwa keluarganya campur-campur (ramesan), ada yang beragama Budha dan ada yang beragama Islam. Salah seorang anak tersebut adalah cucu Pak Soma Sentana, penjaga Vihara Pundung. Ketika ditanya apakah semua keluarganya beragama Budha, dia mengatakan bahwa satu orang anggota keluarganya beragama Islam, yaitu kakaknya. Sementara anak lain mengatakan bahwa di keluarganya ada dua orang yang Islam. Sedangkan anak lainnya mengatakan bahwa dia muslim dan keluarganya muslim.

Fenomena yang menarik lainnya, adalah keluarga Kepala Dukuh Pundung. Bapak Dukuh beragama Islam dan istrinya adalah putri Bapak Soma Sentana, tokoh Budha. Mereka melaksakan perkawinan menurut agama Budha. Menurut Bu Dukuh, Pak Andre (Pak Dukuh) pada saat akan melaksanakan perkawinan, ia mengubah status agama dalam KTP-nya yang tadinya Islam, dengan agama Budha. Dengan demikian, mereka dapat melaksanakan perkawinan dengan agama Budha.[10]

Gambar: Foto keluarga kepala dukuh Pundung yang melaksanakan perkawinan beda agama

Cara ini sering disebut dengan penudukan diri, karena pada hakekatnya, salah satu yang beralih agama tadi, tidaklah masuk agama lain secara sebenarnya, melainkan hanya semu, agar dapat melaksanakan perkawinan. Saat ini masing-masing melaksanakan agamanya. Bapak Dukuh tetap beragama Islam, KTP diubah kembali dengan status agama Islam, dan tetap melaksanakan ajaran Islam seperti shalat dan puasa Ramadhan. Adapun, Ibu Dukuh (Bu Wahyuni Lestari) tetap beragama Budha, dan melaksanakan ajaran agamanya seperti sembahyang ke Vihara.

Hingga saat ini, keluarga tersebut tetap harmonis. Berdasarkan pengakuan Bu Yuni, –panggilan untuk Bu Dukuh Pundung— suaminya sering mengingatkannya untuk ke Vihara. Begitu juga ia juga mengingatkan suaminya untuk ke masjid. Bahkan, ia sering membangunkan suaminya di pagi hari untuk shalat subuh, dan menyiapkan maka sahur di malam bulan Ramadhan. Mereka juga saling menghadiri undangan dalam acara keagamaan pasangannya. Misalnya, ketika diundang acara sawalan atau kegiatan keluarga sakinah –yang merupakan kegiatan umat Islam-- Bu Dukuh juga hadir. Begitu juga ketika ada undangan kegiatan Budha, Pak Dukuh juga hadir bersama Ibu. “Asal tidak ikut sembahyangnya saja, dan saya juga tidak memakai kerudung”, menurut Bu Dukuh ini.

Perkawinan mereka telah dikaruniai seorang anak perempuan. Menurut Bu Yuni, anaknya yang saat ini masih 6 tahun dan duduk di kelas I SD, saat ini beragama Budha. Namun, Bapak telah meminta bahwa nanti kalau tumbuh dewasa, putrinya akan di-Islamkan. Bu Yuni juga menyetujui kata suami, karena menurutnya, suami adalah kepala keluarga. Dia tidak akan mempertahankan putrinya untuk menganut agama Budha.

Keluarga Bu Yuni, putri dari keluarga tokoh Budha di Pundung, mestinya memiliki komitmen yang sangat kuat terhadap agama Budha. Namun, ketika ditanya apa semua keluarganya beragama Budha, ia mengatakan bahwa adiknya beragama Islam. Ia pergi dari Gunung Kidul mencari kerja di daerah lain. Mungkin karena lingkungan dan teman-temannya beragama Islam, maka ia juga ikut masuk Islam, dan sampai sekarang beragaman Islam, tutur Bu Yuni. Walaupun berbeda agama, hubungan kekeluargaan mereka tetap seperti biasa, tidak berubah ataupun menjadi jauh. Menurutnya, persaudaraan tetap selamanya persaudaraan, dan kekeluargaan. Namun, agama adalah urusan masing-masing. “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu”, begitu tuturnya.

Warga Dukuh Pundung lainnya, banyak yang terdiri dari pemeluk agama Budha dan Islam dalam satu keluarga, dan mereka tetap hidup rukun dan harmonis. Di Dukuh Wiloso, juga terdapat keluarga seperti ini. Misalnya, keluarga Bapak Ketua RT 05, Arjosentana. Bapak Arjo dan Ibu beragama Budha, sedangkan anak-anaknya beragama Islam. Dia juga membiarkan dan tidak mencegah anak-anaknya untuk beragama Islam dan menjalankan ajaran agama Islam. Anak-anaknya tumbuh di lingkungan bersama teman-temannya yang beragama Islam. Rumahnya yang bersebelahan dengan masjid Wiloso, membuat pengaruh agama Islam menjadi kuat terhadap anak-anaknya.

Pak Arjo juga merawat dan menyelenggarakan jenazah orang tuanya berdasarkan agama Islam. Menurutnya, orang tuanya sebelum meninggal berpesan, bahwa jika meninggal nantinya ia minta di-rumat dengan cara Islam dan traisi muslim, seperti ngaji dan tahlilan di hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat puluh dan seterusnya.

Menurut Bapak Sukap (Kepala Desa Girikarto), ada kekhawatiran akan terjadinya konflik dalam keluarga, jika anak-anak memeluk agama yang berbeda dihadapkan pada kematian orang tuanya. Anak yang beragama Islam, bias jadi menginginkan merawat jenazah dan mendoakan orang tuanyaa dengan berdasarkan Islam, sedangkan anak yang beragama Budha mungkin akan menginginkan jenazah orangtuanya dirawat dengan berdasarkan agama Budha. Namun, kekhawatiran tersebut ternyata tidak terjadi. Orang tua yang akan meninggal dunia, biasanya berwasiat tentang keinginannya untuk penyelenggaraan jenazahnya berdasarkan agama apa. Jika, orang tua yang meninggal tidak meninggalkan wasiat tentang hal tersebut, maka dilakukan musyawarah antara anggota keluarga, terutama anak-anaknya tersebut. Sehingga, konflik tentang agama apa untuk penyelenggaraan jenazah, tidak terjadi.

2. Interaksi di Masyarakat

Di Dukuh Wiloso terdapat umat Budha dan Islam. Mereka hidup berdampingan dengan rukun. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka bergaul bersama tanpa membedakan agama masing-masing.

Umat Budha dan Islam menyebar di setiap RT di Dukuh Wiloso ini. Di RT 01 mayoritas warga beragama Budha. Di RT ini terdapat 23 Kepala Keluarga (KK), dan hanya 1 KK yang beragama Islam. KK ini yaitu pasangan Pak Mardi dan ibu Tukinem. Satu keluarga terpencil di RT 01 ini, ketika ditanya tentang sikap para umat Budha terhadap mereka, mereka menjawab bahwa semua baik dan tidak membeda-bedakannya karena agamanya Islam.

Di RT 05, mayoritas warga beragama Islam. di RT ini terdapat satu buah masjid. Hanya terdapat 6 KK di RT 05 ini yang beragama Budha. Mereka juga hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Bahkan, Ketua RT 05 ini juga beragama Budha. Ia sering menggunakan fasilitas pengeras suara di masjid sebelah rumahnya untuk memberi pengumunan kepada warganya. Para warga tetap damai dan tidak membedakan agama masing-masing.

Kerukunan antara warga tersebut juga nampak dalam beberapa kegiatan masyarakat diantaranya:

  1. gotong royong

Masyarakat Wiloso yang terdiri dari umat Budha dan Islam, selalu melakukan kegiatan gotong royong, tanpa membedakan agama masing-masing. Misalnya, ketika seorang pemeluk Budha sedang hajatan, para tetangganya baik yang beragama Islam maupun Budha hadir dan turut membantu shahibul hajat. Bahkan, ketika seorang pemeluk Budha sedang menyelenggarakan hajatan untuk mengirim do’a orang tuanya yang telah meninggal, dengan adat dan ajaran Budha, orang Islam di sekelilingnya juga turut hadir membantu memasak dan menyiapkan keperluan-keperluannya.

Menurut cerita dari para penduduk, mereka juga melaksanakan kerja gotong royong ketika membangun tempat ibadah mereka. Orang Islam turut membantu umat Budha untuk bergotong-royong membangun vihara. Begitu juga, umat Budha turut membantu umat Islam dalam bergotong-royong membangun masjid. Bahkan, Pak Muryadi, pengasuh Vihara Giri Surya di Wiloso, juga turut membantu mencarikan dana untuk pembangunan masjid di Dawung, dengan mengantar perwakilan umat Islam dan proposal ke Departemen Agama Pusat di Jakarta.

Pada saat kegiatan bersama di Desa seperti acara ruwahan, acara peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus, masyarakat juga bergotong royong bersama, tanpa membedakan agama masing-masing. Pada acara ruwahan maupun persiapan 17 Agustus, para warga masyarakat melakukan kegiatan bersih-bersih. Mereka mengecat pagar, menyapu halaman dan pekarangan. Mereka membaur bersama dan bekerjasama tanpa membedakan agama Islam maupun Budha.

  1. Syawalan Desa

Syawalan merupakan salah satu tradisi di masyarakat Desa Girikarto. Sebenarnya, syawalan merupakan suatu tradisi dalam masyarakat Islam. Di hari raya Idul Fitri, tradisi syawalan senantiasa diselenggarakan di berbagai masyarakat muslim di Indonesia. Hari raya Idul Fitri merupakan hari istimewa bagi umat Islam. Di hari tersebut, setelah satu bulan penuh umat Islam melaksakan puasa ramadhan, maka dikatakan akan kembali kepada fitrah (kesucian). Hari raya tersebut jatuh pada tanggal 1 Syawal (salah satu nama bulan dalam tahun Hijriyah). Sehingga, tradisi syawalan merupakan ritual umat Islam untuk saling memaafkan di bulan syawal, setelah hari raya Idul Fitri.

Di Desa Girikarto ini, tradisi syawalan selalu diselenggarakan setiap tahun di bulan Syawal. Kegiatan ini diselenggarakan di kantor kelurahan. Semua warga masyarakat Desa Girikarto diundang dalam acara ini. Semua warga biasanya hadir dan berkumpul bersama di balai Desa Girikarto. Mereka berkumpul bersama untuk mengikuti acara syawalan. Baik umat Islam maupun umat Budha, saling bertemu dan berkumpul bersama untuk mengikuti tradisi syawalan ini. Mereka saling bermaaf-maafan dan saling bersalaman satu sama lain.

  1. Lomba-lomba Dukuh

Setiap menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, warga Desa Girikarto mengadakan kegiatan perlombaan baik bagi para pemuda maupun anak-anak. Para pemuda mengikuti perlombaan olahraga, terutama bola voly. Di tiap Dukuh menjaring tim dari setiap RT untuk maju ke perlombaan di tingkat desa. Begitu juga di Dukuh Wiloso, yang terdari dari umat Budha dan Islam. Mereka mengikuti pertandingan bola voly yang di adakan di tingkat dukuh.

Gambar: pertandingan bola voly di Dukuh Wiloso; para peserta pemeluk agama yang berbeda-beda

Para pemuda yang memiliki kemampuan bermain voly, mewakili RT masing-masing. Tanpa pemilahan agama apa yang dipeluknya, mereka berpadu dalam tim voly. Baik pemuda Budhis maupun muslim, melebut dalam tim tersebut. Mereka hanya membawa satu bendera, yaitu bendera RT. Mereka hanya membawa satu misi, yaitu bagaimana memenangkan tim RT-nya, dan bagaimana bisa maju ke babak final, untuk menang dan mewakili Dukuhnya untuk maje ke perlombaan tingkat desa. Masing-masing dukuh di Girikarto mengadakan perlombaan voly ini.

  1. Main Karawitan di Vihara

Vihara Giri Surya yang berada di RT 04 Dukuh Wiloso, merupakan vihara yang terbesar di WIloso. Vihara ini memiliki fasilitas alat-alat karawitan yang lengkap. Sehingga masyarakat Wiloso dapat mempergunakaannya. Baik umat Islam maaupun umat Budha dapat mempergunakan fasilitas karawitan ini.

Menurut Pak Muryadi, terdapat empat kelompok pemain karawitan ini. Dua kelompok dari umat Budha, yaitu kelompok remaja dan kelompok orang tua (bapak-bapak dan ibu-ibu). Sementara itu, yang dua kelompok merupakan campurn dari umat Budha dan umat Islam; yaitu satu kelompok untuk naka-anak Budhis dan muslim, dan satu kelompok untuk remaja/ pemuda Budhis dan muslim.

Gambar: main karawitan di Vihara Giri Surya

Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat diketahui bahwa para anak dan remaja serta pemuda Budhis maupun muslim bersama dalam grup musik karawitan. Tanpa membedakan agama yang dipeluknya, mereka bergaul bersama dan membentuk kelompok karawitan.

  1. Tradisi-tradisi bersama

Terdapat beberapa tradisi yang dilaksanakan bersama oleh masyarakat Desa Girikarto. Misalnya acara ruwahan, dengan adanyaa sedekah ruwah. Acara ini diaksanakan di tiap RT di masyarakat Desa Girikarto. Di Dukuh Wiloso dan Dukuh Pundung, yang terdapat banyak umat Budha, juga menyelenggarakan acara sedekah ruwah ini.

Acara ini merupakan tradisi untuk memperingati hari nisfu Sya’ban. Hari tersebut, menurut ajaran Islam, amalan manusia diangkat untuk menerima cacatan amal yang baru. Ruwah merupakan nama bulan Jawa. Istilah Sya’ban dalam tahun Hijriyah, disebut bulan ruwah oleh orang Jawa. Kata ‘ruwah’ ini berasal dari kata arwah dalam bahasa arab jama (bentuk plural) dari ruh. Di bulan ini banyak warga masyarakat yang mengadakan ritual untuk mendoakan arwah para leluhurnya, baik dengan acara selamatan di rumah, di makam maupun sedekah ruwah bersama.

Sedekah ruwah dilaksanakan oleh masyarakat pada pertengahan bulan ruwah. Di dukuh Pundung, sedekah ruwah diaksanakan di sore hari tanggal 14 bulan Ruwah di tiap RT di rumah Ketuan RT masing-masing. Sedangkan di Dukuh Wiloso, terutama dio RT 05 dilaksanakan di rumah Kepala Dukuh. Acara di sini dilaksanakan di pagi hari tanggal 15 ruwah.

Dalam kegiatan ruwahan ini para warga masyarakat melakukan bersih-bersih dan kerja bakti. Mereka bekerja bersama tanpa membedakan yang beragama Islam maupun Budha.

Gambar: suasana kerja bakti bersih-bersih lingkungan menjelang acara sedekah ruwah

Begitu juga dalam acara sedekah ruwah, para warga berkumpul bersama. Mereka membawa tumpeng (beberapa makanan yang terdiri dari nasi, sayur lauk dan kerupuk) dari rumah masing-masing; dibawa ke rumah Ketua RT ataupu Kepala Dukuh untuk mengadakan ritual bersama. Mereka berkumpul dan berdoa bersama. Baik umat Budha maupun umat Islam, masing-masing memperingati dan mengikiuti acara ini dengan hikmat. Mereka bersatu dan berdoa bersama tanpa membedakan agama masing-masing.

Acara ritual ruwahan lainnya adalah kirim do’a bagi leluhur yang telah meninggal. Bagi yang beragama Islam, melaksanakan ritual berdasarkan ajaran Islam; yaitu biasanya dengan membaca kitab suci al-Qur’an dan membaca tahlil. Bagi yang beragama Budha, dengan mengundang umat Budha untuk berdo’a bersama menurut ajaran Budha. Namun, jika orang Islam –terutama di RT 05—mengadakan selamatan ruwahan ini, maka orang Budha yang minoritas juga diundang. Bapak Ketua RT 05 yang beragama Budha, ketika ditanya apakah ia juga menghadiri acara selamatan/ genduren di rumah orang Islam; maka ia menecritakan bahwa tanpa membeda-bedakan agamanya, ia selalu diundang dan menghadiri acara genduren di rumah warganya.

  1. Tradisi Lokal sebagai Pemersatu Umat

Masyarakat Desa Girikarto terutama di Dukuh Wiloso, terdiri dari umat Budha dan umat Islam. Mereka hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis, tanpa ada rasa saling curiga antara satu sama lainnya. Umat Budha dan Islam tetap bekerjasama, bergotong-royong, dan saling membantu satu sama lainnya. Mereka tidak membeda-bedakan agama yang dianutnya dan agama yang dianut orang lain. Perbedaan agama, bukan penghalang bagi mereka untuk tetap bersatu.

Keharmonisan mereka tersebut tampak dalam kehidupan kemasyarakatan serta beberapa ritual adat dan tradisi setempat. Persamaan dalam tradisi lokal inilah yang mempersatukan mereka dalam beberapa kegaiatan. Tradisi lokal tersebut diantaranya adalah tradisi Syawalan, tradisi sedekah ruwah, tradisi ngesur tanah (jika ada orang meninggal dunia) dan sebagainya.

Tradisi syawalan bagi umat Budha, bukanlah hanya merupakan tradisi Islam untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. Melainkan, bagi umat Budha, tradisi ini merupakan tradisi leluhur yang harus dipelihara. Dalam tradisi ini, masing-masing warga di rumahnya menyiapkan sejumlah makanan (tumpeng). Makanan ini dipertukarkan dengan makanan tetangganya. Biasanya satu RT di bagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok untuk sekitar 10 sampai 11 KK. Mereka saling mempertukarkan makanannya dari rumah ke rumah.

Dalam acara sedekah Ruwah, umat Budha dan Islam berkumpul bersama dalam satu tempat. Mereka masing-masing membawa makanannya sendiri (tumpeng-dalam bahasa Jawa). Mereka berdo’a bersama dalam bahasa Jawa dengan dipimpin oleh salah satu yang ditokohkan dalam masyarakat. Dan, salah satu dari mereka keluar untuk membakar kemenyan, sebelum acara dimulai. Tradisi sedekah ruwah ini merupakan peringatan terhadap hari nisfu sya’ban yaitu pertengahan bulan Sya’ban, yang notabene dari tradisi Islam. Namun, kegiatan mereka untuk memperingati hari tersebut, dilakukan dengan adat kejawen.

Tradisi ruwahan lainnya, yaitu dengan mengirim do’a bagi para leluhur mereka yang telah tiada. Anggota masyarakat yang mempunyai anggota keluarga yang telah meninggal dunia, mengadakan ruwahan di rumah masing-masing. Mereka yang beragama Islam, mengadakan do’a bersama dengan berdasarkan ajaran Islam, seperti tahlilan. Tuan rumah yang beragama Budha, yang memperingati kematian leluhur yang juga Budhis, mengadakan do’a bersama ala Budha. Tetapi, siang harinya, atau keseokan harinya, selalu diikuti dengan besik ke makam leluhur tersebut, dengan sesajen-sesajen.

Tradisi-tradisi inilah yang lebih mempersatukan mereka yang berbeda agama. Mereka tidak melihat tradisi tersebut berasal dari ajaran agama apa, tetapi mereka lebih memegangi tradisi tersebut sebagai warisan leluhur yang harus dipelihara. Seperti tradisi syawalan dan nisfu sya’ban/ ruwahan yang notabene dari tradisi Islam yang telah dibungkus dengan nilai-nilai lokal, seluruh anggota masyarakat memperingatinya sebagai tradisi leluhur.

Tradisi-tradisi ini dijadikan nilai-nilai sacral yang harus dipegangi secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Nilai tradisi ini dipegangi seperti nilai keagamaan. Sehingga, transformasinya juga melalui eksternalisasi dan sosialisasi layaknya nilai keagamaan.

Secara sosiologis, dalam masyarakat yang relative terbelakang[11] setiap anggota masyarakatnya bersama-sama menganut nilai sacral yang sama. Dalam hal ini, mereka menganut nilai-nilai tradisi leluhur, sebagai nilai sacral selain agama. Mereka menghkaitkan aktivitas social dan ekonomi dengan upacara magis. Misalnya, tradisi labuhan di laut kidul untuk syukuran hasil laut; tradisi ruwahan dengan bersih-bersih rumah, pekarangan dan lingkungan secara bersama-sama; dan sebagainya.

  1. Toleransi Masyarakat Girikarto: antara sinkretisme dan inklusivisme

Di daerah Girikarto ini banyak yang beragama Islam. Namun, mereka masih banyak yang belum menjalankan syari’at Islam sepenuhnya. Banyak mereka yang belum menjalankan shalat lima waktu. Shalat jum’at di masjid Wiloso hanya diikuti oleh sekitar 15 orang. Shalat jamaah setiap harinya hanya sekitar 5 orang.

Begitu juga umat Budha, walaupun mereka menjadi penganut agama Budha, namun tidak semua konsisten dengan ajaran agamanya. Pindah-pindah agama bagi masyarakat ini juga merupakan suatu hal yang biasa. Misalnya karena perkawinan, maka seorang pindah agama untuk melaksanakan perkawinannya. Atau seorang bapak yang memiliki anak perempuan yang beragama Islam, ketika anaknya hendak melangsungkan perkawinan, maka sang Bapak masuk Islam agar bisa menjadi wali.

Pelaksanaan perkawinan saat ini menghendaki agar dilaksanakan dengan salah satu agama yang dipeluk calon mempelai. Misalnya, jika seorang muslim dengan seorang budhis ingin melangsungkan perkawinan, maka keduanya harus memilih, dengan cara Budha atau Islam. Jika dengan cara Budha, maka Kartu Identitas Penduduk (KTP) keduanya harus sama-sama menunjukkan bahwa keduanya beragama Budha. Maka pihak yang beragama Islam, masuk ke agama Budha, karena akan melangsungkan perkawinan dengan cara Budha. Sebaliknya, jika keduanya ingin melaksanakan pernikahannya dengan cara Islam, maka pihak yang beragama Budha terlebih dahulu membaca ikrar syahadat untuk masuk Islam.

Di Dukuh Wiloso, para orang tua yang beragama Budha, jika anak gadisnya Islam, dan hendak melangsungkan pernikahan dengan cara Islam, pada umumnya mereka dengan menggunakan wali hakim (menurut mereka beli wali). Namun, di Dukuh Pundung keadaannya berbeda. Jika seorang bapak beragama Budha dan anak gadisnya Islam, ingin melangsungkan perkawinan dengan orang Islam dan dengan cara agama Islam, maka si orang tua/ bapak tersebut pindah ke agama Islam agar bias menjadi wali nikah bagi anak gadisnya.

Perbedaan ini ketika ditelusuri, ternyata dipengaruhi oleh tokoh Islam yang berbeda di kedua dukuh tersebut. Di Dukuh Wiloso, tokoh Islamnya memberikan persyaratan yang ketat jika seseorang akan masuk Islam. Bapak Mudio, tokoh Islam di Dukuh Wiloso ini, menceritakan bahwa seseorang yang akan masuk Islam harus benar-benar keinginan hati dan keyakinannya, bukan karena hanya ingin menikah atau menjadi wali nikah. Ia tidak memperbolehkan jika seseorang karena ingin menikah atau menjadi wali nikah dengan cara Islam, kemudian masuk Islam karena hanya sekedar untuk tujuan dan keperluan tersebut. Sehingga di Dukuh Wiloso, para orang tua Budha yang anak gadisnya Islam, lebih memilih untuk membeli wali.

Sementara itu, sangat menarik untuk mengetahui cerita dari pasangan pak Mardi dan ibu Tukiyem di Nglaos (RT 01 Dukuh Wiloso), satu-satunya KK yang beragama Islam di Nglaos. Pak Mardi pada mulanya beragama Budha. Bu Tukiyem beragama Islam. Karena keluarga Bu Tukiyem bersikukuh untuk melangsungkan perkawinan dengan agama Islam, maka Pak Mardi terlebih dahulu masuk Islam sebelum melangsungkan pernikahannya. Hingga saat ini, mereka tetap beragama Islam. Ketika ditanya apa mereka masih menjalankan ibadah selayaknya ajaran Islam, mereka menjawab ya.

Dari berbagai fenomena masyarakat tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi keberagamaan masyarakat Dukuh Wiloso tersebut, belum mencapai keyakinan yang kuat tentang agama yang mereka peluk, dan masih banyak yang belum belum melaksanakan ajaran agamanya secara sepenuhnya. Mereka tidak begitu peduli apa agamanya, dan apa agama tetangganya. Mereka juga tidak begitu peduli, apakah mereka beribadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan apakah orang lain telah beribadah menurut agamanya. Bahkan, pindah-pindah agama menjadi hal yang biasa bagi mereka.

Bagi mereka agama belum menjadi kebutuhan hidup. Dalam terori fungsional, agama berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalamn kelangsungan hidup dan pemeliharaannya.[12] Bagi masyarakat Girikarto yang rata-rata hidup sederhana, kebutuhan ekonomi menjadi kebutuhan utamanya. Sehingga, nilai-nilai tradisi yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi mereka lebih diutamakan dari pada agama. Bahkan, demi kesejahteraan dan kemudahan hidup, mereka bisa berpindah-pindah agama.

Dengan demikian, toleransi antar umat beragama yang mereka bangun, bukan berdasarkan paham pluralisme yang sebenarnya, melainkan karena kepercayaan mereka yang kurang kuat terhadap agamanya. Dapat dikatakan bahwa masyarakat muslim Wiloso masih banyak yang muslim abangan. Sehingga, mereka lebih moderat dan toleran terhadap agama dan keyakinan apapun.

Ketika seorang tokoh muslim ditanya tentang toleransi umat beragama di Dukuh Wiloso ini, dia mengatakan keprihatinannya tentang kenyataan ini. Ia mengatakan: jika sumur di depan Vihara itu jadi, mungkin semua warga akan ke vihara. Ia menyatakan bahwa saya tidak pernah mau ke vihara, karena kalau para warga melihat saya ke vihara, maka semua orang akan ke vihara. Dari hal ini dapat diketahui bahwa jika seorang yang memiliki keyakinan agamanya lebih kuat, kemungkinan akan menjadi seorang puritan dan eksklusif. Pandangan kecurigaan terhadap pemeluk agama lain, tidak dapat dihindari.

Sementara itu, toleransi yang ideal dibangun di atas paham keagamaan dan pluralisme yang mendalam sehingga timbul sikap inklusifitas. Hal ini belum terbangun di masyarakat Girikarto Panggang ini. Toleransi yang ada hanya didasarkan pada sikap apriori terhadap agama. Dengan kata lain, pemahaman yang kurang mendalam, menjadikan mereka berpikir bahwa semua agama adalah sama, dan semua agama baik, tanpa membeda-bedakan agama-agama yang ada.

Mereka dapat dikatakan sebagai kaum abangan. Sehingga, mereka cenderung lebih toleran dari pada pemeluk agama yang lebih kuat yang cenderung menjadi puritan dan eksklusif. Sementara toleransi yang ideal, hendaknya dibangun diatas pemahaman agama dan keyakinan yang kuat terhadap agamanya; serta berdasarkan pemahaman agamanya yang mendalam tersebut dapat dipahami bahwa agama yang dianutnya menghendaki toleransi dan penghargaan terhadap agama lain; dan ada titik temu agama-agama –kalimatun sawa dalam bahasa Nurcholis Madjid—seperti Tuhan yang sama dan ajaran-ajaran kebaikan.

Dapat dikatakan bahwa toleransi yang tidak didasarkan kepada pemahaman agama yang mendalam, dapat menjadi resisten, ketika mereka semakin mendalami agamanya dan menjadi semakin puritan dan eksklusif. Kecenderungan eksklusif ada pada orang-orang yang baru belajar agama yang kurang mendalam. Sehingga, pada tahap ini toleransi akan sulit terwujud. Maka, kemudian diperlukan peningkatan pemahaman toleransi di masyarakat Girikarto ini.

Bentuk toleransi dan pemahaman terhadap pluralitas agama di masyarakat Wiloso ini dapat dikatakan cenderung mengambil bentuk sinkretisme. Agama Islam, Budha maupun agama lainnya, dapat bertemu di satu kepercayaan yaitu ‘kejawen’. Tradisi kejawen seperti sesajen, serta tradisi-tradisi keagamaan yang terbungkus tradisi dan budaya Jawa, tetap eksis dan dipelihara tanpa dilihat dari tradisi agama apa ia berasal.

Tradisi keagamaan yang telah bercampur dengan tradisi kejawen dan tradisi leluhur, tetap dilaksanakan dan dijaga hingga saat ini di masyarakat Girikarto ini. Misalnya, tradisi perayaan nisfu Sya’ban (ruwahan); tradisi syawalan (peringatan idul fitri) dan sebagainya. Bahkan, tradisi labuhan (sesajen ke laut Kidul) masih tetap terselenggara di masyarakat ini. Baik umat Budha, Islam maupun umat agama lainnya, masih tetap memelihara tradisi-tradisi tersebut.

Secvara turun temurun, dari nenek moyangnya, masyarakat Girikarto ini memang telah memegangi nilai-nilai tradisi kejawen tersebut sebagai tradisi leluhur, dan dianggap sebagai semacam nilai sacral seperti system nilai dalam agama. Pengaruh dari ajaran Hindu sebagai agama tertua di Indonesia, terutama di Jawa, masih sangat melekat pada masyarakat Jawa ini yang kemudian disebut dengan tradisi kejawen. Sesajen dan persembahan dilakukan dalam ritual dan upacara tradisi di masyarakat.

Nilai-nilai ini yang terlebih dahulu diterima di masyarakat ini, sebelum mereka menerima agama (baik Islam maupun Budha). Walaupun mereka bukan penganut agama dan ajaran Hindu, mereka tetap melestarikan ajaran-ajaran –yang dapat dianggap dari ajaran Hindu tersebut. Sehingga, dari perspektif wacana keagamaaan, dalam masyarakat ini terdapat percampuran antara tradisi lama –kejawen tersebut—dengan ajaran-ajaran agama.

Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam, juga menggunakan budaya dan mengindahkan tradisi local. Hingga saat ini, akulturasi antara ajaran agama dengan tradisi local masih sering dikaji, seperti wacana Pribumisasi Islam dari Gus Dur. Namun, yang ada dalam fenomena masyarakat Girikarto berbeda dengan pribumisai Islam ini. Mereka telah memegangi tradisi local yang telah terlebih dahulu diterima, dan belum begitu memahami ajaran agama yang mereka terima kemudian. Sehingga, agama belum menjadi suatu yang vital dalam masyarakat.

Dengan demikian, penanaman nilai-nilai dan ajaran agama hendaknya terus dilakukan oleh masing-masing tokoh agama. Sehingga, ajaran agama dipahami secara mendalam dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, guna mewujudkan pemahaman dan sikap toleransi agama yang didasari atas pemahaman dan sika pluralisme yang baik.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari paparan pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:

3. Umat Budha di Girikarto Kecamatan panggang Gunung Kidul sangat mengerti tentang pluralitas agama dan toleransi. Menurut mereka, masing-masing pemeluk agama harus saling menghormati, tolong menolong, tanpa rasa saling curiga dan diskriminasi. Dalam praktiknya, mereka juga hidup berdampingan dengan toleran dan harmonis. Namun di sisi lain, sikap toleransi mereka juga dilandasi oleh sikap apropri terhadap agamanya masing-masing, atau keyakinan terhadap agama yang kurang begitu kuat. Mereka tidak membeda-bedakan para pemeluk agama, namun mereka juga tidak peduli ia beragama apa, karena mereka juga tidak terlalu konsisten dengan ajaran agamanya. Mereka lebih disatukan dengan tradisi dan adat kejawen. Sehingga, bentuk pemahaman dan sikap pluralisme mereka berupa sinkretisme.

4. Sikap toleransi masyarakat Girikarto, yang tampak dalam interaksi antara para anggota kumunitas Budha tersebut dengan umat agama lain, dapat dilihat dalam beberapa bentuk. Diantaranya adalah toleransi dalam keluarga yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda; toleransi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari; keikutsertaan seluruh masyarakat Girikarto Panggang Gunung Kidul dalam berbagai aktivitas Desa, Dukuh dan RT, tanpa membeda-bedakan agama masing-masing. Mereka membaur bersama dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan tanpa membedakan agama masing-masing.

B. Saran

Dari paparan tersebut dapat direkomendasikan untuk lebih memberi pemahaman tentang pluralism agama dan toleransi, yang didasarkan atas paham dan sikap inklusivitas. Pertama, perlu diperkuat keyakinan dan pemahaman keagamaan masing-masing pemeluk agama di daerah ini. Umat Islam, misalnya, perlu mendapatkan perhatian penuh untuk lebih diberikan pengajaran agar melaksanakan ajaran agamanya dengan sepenuhnya; begitu juga umat Buddha; Sehingga, pemahaman dan sikap toleransi di masyarakat ini didasarkan atas pemahaman dan sikap yang benar-benar inklusif bukan sinkretis.

Bantuan berupa materi juga sangat diperlukan di daerah ini, karena banyak yang berada di bawah garis kemiskinan; mereka juga kekurangan air. Sehingga, semua agama berlomba untuk memberikan bantuan kepada para pemeluknya. Inilah yang kemudian dianggap missi keagamaan. Penguatan keagamaan juga membutuhkan bantuan materi seperti ini. Tetapi, hendaknya masing-masing missi agama ‘tidak berseberangan’ dengan agama yang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Alwi Shihab, Islam Inklusif, (Bandung: Mizan, 1999)

Burhanuddin Daya dkk (eds.), Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, (Jakarta: INIS, 1992)

Elizabeth K. Nottingham, Agama dan Masyarakat: Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo, 1993).

Frithjof Schuon, Islam and The Perennial Philosophy, (World of Islam Festival Publishing Company, 1976).

Herry H. Benda, Bulan Sabit Matahari Terbit: Islam Indonesia di Bawah Pendudukan Jepang 1942- 1945, (Jakarta: Pustakan Jaya, 1980)

Mohammad Sobri, Keberagamaan yang Saling Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 1999)

Raimundo Pannikar, Dialog Intra Religius, (Yogyakarta: Kanisius, 1994)

Terence W. Tolley, Postmodernism Theologies and Religious Diversity, (New York: Orbis Book, 1996)



[1] Filsafat Perennial yaitu suatu perspektif yang memandang adanya kesatuan transenden pada setiap agama dan tradisi otentik. Mohammad Sobri, Keberagamaan yang Saling Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 1999), hlm. 10. baca juga Frithjof Schuon, Islam and The Perennial Philosophy, (World of Islam Festival Publishing Company, 1976).

[2] Esoteris yaitu substansi atau hakikat agama itu sendiri. Secara esoteris, agama-agama pada hakikatnya memiliki dan berasal dari inti ajaran yang sama. Mohammad Sobri, Keberagamaan yang Saling Menyapa..., hlm. 39-40

[3] Eksoteris yaitu perwujudan agama atau bentuk formalnya. Ibid., hlm. 39-40

[4] Herry H. Benda, Bulan Sabit Matahari Terbit: Islam Indonesia di Bawah Pendudukan Jepang 1942- 1945, (Jakarta: Pustakan Jaya, 1980)

[5] Mukti Ali, ‘Ilmu Perbandingan Agama, Dialog, Dakwah dan Missi’, dalam Burhanuddin Daya dkk (eds.), Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, (Jakarta: INIS, 1992), hlm. 229.

[6] Raimundo Pannikar, Dialog Intra Religius, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 18 – 24)

[7] Hafiz Dasuki, ‘Mukti Ali: Dosen yang Intelek-Ulama’, dalam Burhanuddin Daya dkk (eds.), Ilmu Perbandingan Agama …, hlm. 67.

[8] Terence W. Tolley, Postmodernism Theologies and Religious Diversity, (New York: Orbis Book, 1996), hlm. 138

[9] Alwi Shihab, Islam Inklusif, (bandung: Mizan, 1999), hlm. 41 - 43

[10] Berdasarkan hasil Penelitian Penulis tahun 2004, tentang Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama di kabupaten Gunung Kidul, para calon mempelai yang berasal dari agama yang berbeda, salah satu masuk agama pasangannya, atau menundukkan diri (masuk agama semu).

[11] Elizabeth K. Nottingham membagi tipe masyarakat dan agama menjadi tipe masyarakat terbelakang, tipe masyarakat pra-industri yang berkembang, dan tipe masyarakat industri secular. Elizabeth K. Nottingham, Agama dan Masyarakat: Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo, 1993), cet-4, hlm. 51- 57.

[12] Ibid., hlm. 34.

1 komentar:

  1. Hi, Boleh Saya tau letak persis desa Girikarto? Minggu lalu dari Wonosari saya mencoba mencari wihara tapi keterusan ke kecamatan Panggang dan diberitahu bahwa saya sudah kelewatan. Mungkin ada tanda2 spesifik dari desa Girikarto. Terima kasih.

    BalasHapus