Senin, 19 Oktober 2009

feature

Kesan di Balik “Training for Teachers”

Oleh: Sri Wahyuni

((Penulis adalah Salah satu peserta Program Pengembangan Cados, sekaligus Sekretaris Redaksi Suka News)

“Pelatihan ini adalah bekal kami (calon dosen) untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan”

Tidak sedikit para mahasiswa yang secara diam-diam mengeluh, bahkan mengkritik secara langsung tentang metode mengajar dosennya. Sehingga, layaknya selebritis, pernah salah satu buletin BOM-F di UIN Sunan Kalijaga, melakukan polling dengan kategori dosen terbaik, terfavorit, membosankan, hingga Dosen dengan metode pengajaran terburuk. Ralitas tersebut, bagi saya merupakan contoh kecil, bahwa ternyata, sehebat apapun seorang dosen memiliki kemampuan intelektual, jika tidak dibarengi dengan kemampuan course design-nya, belum tentu dapat diterima mahasiswa secara mudah dan komprehensif. Dan dengan adanya “Training For Teachers” yang diadakan oleh CTSD, setidaknya mampu memberikan solusi tersendiri bagi para calon dosen (selanjutnya disingkat: Cados, red), terutama contoh kecil yang saya sebutkan diatas.

Program yang telah berlangsung sejak bulan November 2006 hingga bulan Juni 2007 ini, memang telah diprogramkan oleh pihak universitas untuk cados angkatan 2004 dan 2005. Meski begitu, agenda panjang yang terdiri dari program pengembangan kepribadian atau kompetensi personal, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi paedagogik ini, sempat mengalami pro dan kontra. Beberapa cados tidak menginginkan pelatihan ini. Karena peraturan yang diterapkan sangat ketat. Beberapa peraturan tersebut diantaranya, semua cados harus mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Sehingga, yang belum atau tidak bisa mengikuti, harus mengikutinya pada periode mendatang. Selain itu, toleransi ketidakhadiran hanya 10 % dan toleransi keterlambatan forum hanya 10 menit. Hal inilah, yang membuat beberapa cados mengeluh, bahkan protes terhadap adanya program ini.

Pernah saya meminta tanggapan para dosen senior, dan ternyata mereka merespons positif terhadap program ini. “Cados sekarang lebih enak, karena banyak program pelatihan pengembangan yang diberikan. Sementara, para cados sebelumnya tidak pernah ada program-program seperti itu, sehingga akses mereka terhadap kegiatan dan program-program di universitas sangat minim dan sulit.” Begitu tanggapan salah-satu dosen senior, yang setidaknya semakin menguatkan tekad saya. Sehingga terlepas dari masalah pro dan kontra tersebut, tentu saja agenda “Training for Teachers” ini banyak sekali memberikan manfaat, terutama di akhir-akhir agenda, yakni tentang pengembangan kompetensi paedagogik. Saya pribadi, merasa memperoleh banyak materi baru tentang sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi. Karena memang tidak semua peserta berasal dari Fakultas Kependidikan, sehingga penguasaan content terkadang tidak dibarengi dengan penguasaan course design-nya, dan beberapa teman peserta pelatihan juga merasakan hal yang sama.

Active learning’ yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, harus dipahami oleh semua dosen

Awalnya itulah hal penting yang saya peroleh dari Program Pengembangan Cados tersebut. Penguasaan materi yang baik, sangat dibutuhkan oleh seorang dosen untuk mengajar. Namun, materi terkadang tidak dapat disampaikan dan dipahamkan secara mudah dan komprehensif kepada para mahasiswa. Oleh karena itu, ketika materi dipetakan dalam bentuk skema-skema, akan menjadi lebih mudah dipahami. Dalam dunia tulis-menulis, dikenal adanya concept map. Inilah yang kami bahas dan praktikkan dalam pelatihan ini mengenai content design. Dengan concept map ini, kami lebih mudah memaparkan materi-materi pembelajaran, sehingga pembahasan dapat terarah dan sistematis.

Hal lain yang penting untuk dikuasai oleh dosen adalah merumuskan kompetensi yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Dalam pelatihan ini, kami juga membahas dan mempraktikkan perumusan kompetensi dasar, standar kompetensi dan indikator-indikator mata kuliah yang akan diajarkan. Jika selama ini, kami hanya menerima konsep jadi dari silabus, tanpa mengetahui filosofi perumusan kompetensi, maka dalam pelatihan ini kami dapat mengetahui, merumuskan dan mempraktikkannya sendiri.

Penguasaan content yang baik, belum tentu dapat mengantarkan kepada pemahaman mahasiswa secara efektif, tanpa adanya strategi penyampaian yang menarik. Sehingga, pelatihan ini juga mengenalkan dan mempraktikkan pelbagai strategi pembelajaran sistem active learning. Strategi-strategi ini dapat kami praktikkan dalam semua mata kuliah. Maka dengan pelatihan ini, kami telah memiliki banyak inventarisasi strategi active learning untuk dipraktikkan di kelas nantinya.

Dari pelatihan ini juga penting untuk digarisbawahi, bahwa sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi tidaklah sama dengan sistem pembelajaran pada tingkat sekolah mengengah ke bawah. Sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi, menekankan pada pembelajaran andragogik, yaitu pembelajaran untuk orang dewasa. Sehingga, dosen bukanlah merupakan sentral aktivitas pembelajaran dan dosen bukanlah sumber utama ilmu. Melainkan, pembelajaran bertumpu pada active learning, dimana mahasiswa bukanlah objek di kelas, tetapi dosen dan mahasiswa sama-sama sebagai subjek pembelajaran. Bahkan, dosen hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Active learning ini dapat dilakukan dengan berbagai strategi, yang telah dibahas dan dipraktikkan dalam pelatihan tersebut.

Kami juga diberi ksempatan untuk mempraktikkan micro teaching, guna menyampaikan concept map, kompetensi dan untuk mempraktikkan strategi active learning di kelas semu. Ini merupakan klimaks dari pelatihan, sekaligus untuk mengevaluasi pemahaman dan penguasaan kami tentang materi pelatihan. Dan terkait dengan efaluasi, ini merupakan salah satu komponen dari course design process. Dalam pelatihan ini juga dibahas dan dipraktikkan model-model evaluasi, mulai dari jenis-jenis tes, non tes dan model-model evaluasi alternatif seperti progress-report, presentasi, partisipasi, paper, proposal dan sebagainya.

Serangkaian materi tersebut merupakan bekal kami–para cados yang menjadi generasi penerus dari generasi yang ada sekarang ini— untuk melaksanakan proses pembelajaran di UIN. Semoga ini juga menjadi bekal kami untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan.

Kesan di Balik “Training for Teachers”

Oleh: Sri Wahyuni

((Penulis adalah Salah satu peserta Program Pengembangan Cados, sekaligus Sekretaris Redaksi Suka News)

“Pelatihan ini adalah bekal kami (calon dosen) untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan”

Tidak sedikit para mahasiswa yang secara diam-diam mengeluh, bahkan mengkritik secara langsung tentang metode mengajar dosennya. Sehingga, layaknya selebritis, pernah salah satu buletin BOM-F di UIN Sunan Kalijaga, melakukan polling dengan kategori dosen terbaik, terfavorit, membosankan, hingga Dosen dengan metode pengajaran terburuk. Ralitas tersebut, bagi saya merupakan contoh kecil, bahwa ternyata, sehebat apapun seorang dosen memiliki kemampuan intelektual, jika tidak dibarengi dengan kemampuan course design-nya, belum tentu dapat diterima mahasiswa secara mudah dan komprehensif. Dan dengan adanya “Training For Teachers” yang diadakan oleh CTSD, setidaknya mampu memberikan solusi tersendiri bagi para calon dosen (selanjutnya disingkat: Cados, red), terutama contoh kecil yang saya sebutkan diatas.

Program yang telah berlangsung sejak bulan November 2006 hingga bulan Juni 2007 ini, memang telah diprogramkan oleh pihak universitas untuk cados angkatan 2004 dan 2005. Meski begitu, agenda panjang yang terdiri dari program pengembangan kepribadian atau kompetensi personal, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi paedagogik ini, sempat mengalami pro dan kontra. Beberapa cados tidak menginginkan pelatihan ini. Karena peraturan yang diterapkan sangat ketat. Beberapa peraturan tersebut diantaranya, semua cados harus mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Sehingga, yang belum atau tidak bisa mengikuti, harus mengikutinya pada periode mendatang. Selain itu, toleransi ketidakhadiran hanya 10 % dan toleransi keterlambatan forum hanya 10 menit. Hal inilah, yang membuat beberapa cados mengeluh, bahkan protes terhadap adanya program ini.

Pernah saya meminta tanggapan para dosen senior, dan ternyata mereka merespons positif terhadap program ini. “Cados sekarang lebih enak, karena banyak program pelatihan pengembangan yang diberikan. Sementara, para cados sebelumnya tidak pernah ada program-program seperti itu, sehingga akses mereka terhadap kegiatan dan program-program di universitas sangat minim dan sulit.” Begitu tanggapan salah-satu dosen senior, yang setidaknya semakin menguatkan tekad saya. Sehingga terlepas dari masalah pro dan kontra tersebut, tentu saja agenda “Training for Teachers” ini banyak sekali memberikan manfaat, terutama di akhir-akhir agenda, yakni tentang pengembangan kompetensi paedagogik. Saya pribadi, merasa memperoleh banyak materi baru tentang sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi. Karena memang tidak semua peserta berasal dari Fakultas Kependidikan, sehingga penguasaan content terkadang tidak dibarengi dengan penguasaan course design-nya, dan beberapa teman peserta pelatihan juga merasakan hal yang sama.

Active learning’ yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, harus dipahami oleh semua dosen

Awalnya itulah hal penting yang saya peroleh dari Program Pengembangan Cados tersebut. Penguasaan materi yang baik, sangat dibutuhkan oleh seorang dosen untuk mengajar. Namun, materi terkadang tidak dapat disampaikan dan dipahamkan secara mudah dan komprehensif kepada para mahasiswa. Oleh karena itu, ketika materi dipetakan dalam bentuk skema-skema, akan menjadi lebih mudah dipahami. Dalam dunia tulis-menulis, dikenal adanya concept map. Inilah yang kami bahas dan praktikkan dalam pelatihan ini mengenai content design. Dengan concept map ini, kami lebih mudah memaparkan materi-materi pembelajaran, sehingga pembahasan dapat terarah dan sistematis.

Hal lain yang penting untuk dikuasai oleh dosen adalah merumuskan kompetensi yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Dalam pelatihan ini, kami juga membahas dan mempraktikkan perumusan kompetensi dasar, standar kompetensi dan indikator-indikator mata kuliah yang akan diajarkan. Jika selama ini, kami hanya menerima konsep jadi dari silabus, tanpa mengetahui filosofi perumusan kompetensi, maka dalam pelatihan ini kami dapat mengetahui, merumuskan dan mempraktikkannya sendiri.

Penguasaan content yang baik, belum tentu dapat mengantarkan kepada pemahaman mahasiswa secara efektif, tanpa adanya strategi penyampaian yang menarik. Sehingga, pelatihan ini juga mengenalkan dan mempraktikkan pelbagai strategi pembelajaran sistem active learning. Strategi-strategi ini dapat kami praktikkan dalam semua mata kuliah. Maka dengan pelatihan ini, kami telah memiliki banyak inventarisasi strategi active learning untuk dipraktikkan di kelas nantinya.

Dari pelatihan ini juga penting untuk digarisbawahi, bahwa sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi tidaklah sama dengan sistem pembelajaran pada tingkat sekolah mengengah ke bawah. Sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi, menekankan pada pembelajaran andragogik, yaitu pembelajaran untuk orang dewasa. Sehingga, dosen bukanlah merupakan sentral aktivitas pembelajaran dan dosen bukanlah sumber utama ilmu. Melainkan, pembelajaran bertumpu pada active learning, dimana mahasiswa bukanlah objek di kelas, tetapi dosen dan mahasiswa sama-sama sebagai subjek pembelajaran. Bahkan, dosen hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Active learning ini dapat dilakukan dengan berbagai strategi, yang telah dibahas dan dipraktikkan dalam pelatihan tersebut.

Kami juga diberi ksempatan untuk mempraktikkan micro teaching, guna menyampaikan concept map, kompetensi dan untuk mempraktikkan strategi active learning di kelas semu. Ini merupakan klimaks dari pelatihan, sekaligus untuk mengevaluasi pemahaman dan penguasaan kami tentang materi pelatihan. Dan terkait dengan efaluasi, ini merupakan salah satu komponen dari course design process. Dalam pelatihan ini juga dibahas dan dipraktikkan model-model evaluasi, mulai dari jenis-jenis tes, non tes dan model-model evaluasi alternatif seperti progress-report, presentasi, partisipasi, paper, proposal dan sebagainya.

Serangkaian materi tersebut merupakan bekal kami–para cados yang menjadi generasi penerus dari generasi yang ada sekarang ini— untuk melaksanakan proses pembelajaran di UIN. Semoga ini juga menjadi bekal kami untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan.

Kesan di Balik “Training for Teachers”

Oleh: Sri Wahyuni

((Penulis adalah Salah satu peserta Program Pengembangan Cados, sekaligus Sekretaris Redaksi Suka News)

“Pelatihan ini adalah bekal kami (calon dosen) untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan”

Tidak sedikit para mahasiswa yang secara diam-diam mengeluh, bahkan mengkritik secara langsung tentang metode mengajar dosennya. Sehingga, layaknya selebritis, pernah salah satu buletin BOM-F di UIN Sunan Kalijaga, melakukan polling dengan kategori dosen terbaik, terfavorit, membosankan, hingga Dosen dengan metode pengajaran terburuk. Ralitas tersebut, bagi saya merupakan contoh kecil, bahwa ternyata, sehebat apapun seorang dosen memiliki kemampuan intelektual, jika tidak dibarengi dengan kemampuan course design-nya, belum tentu dapat diterima mahasiswa secara mudah dan komprehensif. Dan dengan adanya “Training For Teachers” yang diadakan oleh CTSD, setidaknya mampu memberikan solusi tersendiri bagi para calon dosen (selanjutnya disingkat: Cados, red), terutama contoh kecil yang saya sebutkan diatas.

Program yang telah berlangsung sejak bulan November 2006 hingga bulan Juni 2007 ini, memang telah diprogramkan oleh pihak universitas untuk cados angkatan 2004 dan 2005. Meski begitu, agenda panjang yang terdiri dari program pengembangan kepribadian atau kompetensi personal, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi paedagogik ini, sempat mengalami pro dan kontra. Beberapa cados tidak menginginkan pelatihan ini. Karena peraturan yang diterapkan sangat ketat. Beberapa peraturan tersebut diantaranya, semua cados harus mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Sehingga, yang belum atau tidak bisa mengikuti, harus mengikutinya pada periode mendatang. Selain itu, toleransi ketidakhadiran hanya 10 % dan toleransi keterlambatan forum hanya 10 menit. Hal inilah, yang membuat beberapa cados mengeluh, bahkan protes terhadap adanya program ini.

Pernah saya meminta tanggapan para dosen senior, dan ternyata mereka merespons positif terhadap program ini. “Cados sekarang lebih enak, karena banyak program pelatihan pengembangan yang diberikan. Sementara, para cados sebelumnya tidak pernah ada program-program seperti itu, sehingga akses mereka terhadap kegiatan dan program-program di universitas sangat minim dan sulit.” Begitu tanggapan salah-satu dosen senior, yang setidaknya semakin menguatkan tekad saya. Sehingga terlepas dari masalah pro dan kontra tersebut, tentu saja agenda “Training for Teachers” ini banyak sekali memberikan manfaat, terutama di akhir-akhir agenda, yakni tentang pengembangan kompetensi paedagogik. Saya pribadi, merasa memperoleh banyak materi baru tentang sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi. Karena memang tidak semua peserta berasal dari Fakultas Kependidikan, sehingga penguasaan content terkadang tidak dibarengi dengan penguasaan course design-nya, dan beberapa teman peserta pelatihan juga merasakan hal yang sama.

Active learning’ yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, harus dipahami oleh semua dosen

Awalnya itulah hal penting yang saya peroleh dari Program Pengembangan Cados tersebut. Penguasaan materi yang baik, sangat dibutuhkan oleh seorang dosen untuk mengajar. Namun, materi terkadang tidak dapat disampaikan dan dipahamkan secara mudah dan komprehensif kepada para mahasiswa. Oleh karena itu, ketika materi dipetakan dalam bentuk skema-skema, akan menjadi lebih mudah dipahami. Dalam dunia tulis-menulis, dikenal adanya concept map. Inilah yang kami bahas dan praktikkan dalam pelatihan ini mengenai content design. Dengan concept map ini, kami lebih mudah memaparkan materi-materi pembelajaran, sehingga pembahasan dapat terarah dan sistematis.

Hal lain yang penting untuk dikuasai oleh dosen adalah merumuskan kompetensi yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Dalam pelatihan ini, kami juga membahas dan mempraktikkan perumusan kompetensi dasar, standar kompetensi dan indikator-indikator mata kuliah yang akan diajarkan. Jika selama ini, kami hanya menerima konsep jadi dari silabus, tanpa mengetahui filosofi perumusan kompetensi, maka dalam pelatihan ini kami dapat mengetahui, merumuskan dan mempraktikkannya sendiri.

Penguasaan content yang baik, belum tentu dapat mengantarkan kepada pemahaman mahasiswa secara efektif, tanpa adanya strategi penyampaian yang menarik. Sehingga, pelatihan ini juga mengenalkan dan mempraktikkan pelbagai strategi pembelajaran sistem active learning. Strategi-strategi ini dapat kami praktikkan dalam semua mata kuliah. Maka dengan pelatihan ini, kami telah memiliki banyak inventarisasi strategi active learning untuk dipraktikkan di kelas nantinya.

Dari pelatihan ini juga penting untuk digarisbawahi, bahwa sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi tidaklah sama dengan sistem pembelajaran pada tingkat sekolah mengengah ke bawah. Sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi, menekankan pada pembelajaran andragogik, yaitu pembelajaran untuk orang dewasa. Sehingga, dosen bukanlah merupakan sentral aktivitas pembelajaran dan dosen bukanlah sumber utama ilmu. Melainkan, pembelajaran bertumpu pada active learning, dimana mahasiswa bukanlah objek di kelas, tetapi dosen dan mahasiswa sama-sama sebagai subjek pembelajaran. Bahkan, dosen hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Active learning ini dapat dilakukan dengan berbagai strategi, yang telah dibahas dan dipraktikkan dalam pelatihan tersebut.

Kami juga diberi ksempatan untuk mempraktikkan micro teaching, guna menyampaikan concept map, kompetensi dan untuk mempraktikkan strategi active learning di kelas semu. Ini merupakan klimaks dari pelatihan, sekaligus untuk mengevaluasi pemahaman dan penguasaan kami tentang materi pelatihan. Dan terkait dengan efaluasi, ini merupakan salah satu komponen dari course design process. Dalam pelatihan ini juga dibahas dan dipraktikkan model-model evaluasi, mulai dari jenis-jenis tes, non tes dan model-model evaluasi alternatif seperti progress-report, presentasi, partisipasi, paper, proposal dan sebagainya.

Serangkaian materi tersebut merupakan bekal kami–para cados yang menjadi generasi penerus dari generasi yang ada sekarang ini— untuk melaksanakan proses pembelajaran di UIN. Semoga ini juga menjadi bekal kami untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan.

Kesan di Balik “Training for Teachers”

Oleh: Sri Wahyuni

((Penulis adalah Salah satu peserta Program Pengembangan Cados, sekaligus Sekretaris Redaksi Suka News)

“Pelatihan ini adalah bekal kami (calon dosen) untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan”

Tidak sedikit para mahasiswa yang secara diam-diam mengeluh, bahkan mengkritik secara langsung tentang metode mengajar dosennya. Sehingga, layaknya selebritis, pernah salah satu buletin BOM-F di UIN Sunan Kalijaga, melakukan polling dengan kategori dosen terbaik, terfavorit, membosankan, hingga Dosen dengan metode pengajaran terburuk. Ralitas tersebut, bagi saya merupakan contoh kecil, bahwa ternyata, sehebat apapun seorang dosen memiliki kemampuan intelektual, jika tidak dibarengi dengan kemampuan course design-nya, belum tentu dapat diterima mahasiswa secara mudah dan komprehensif. Dan dengan adanya “Training For Teachers” yang diadakan oleh CTSD, setidaknya mampu memberikan solusi tersendiri bagi para calon dosen (selanjutnya disingkat: Cados, red), terutama contoh kecil yang saya sebutkan diatas.

Program yang telah berlangsung sejak bulan November 2006 hingga bulan Juni 2007 ini, memang telah diprogramkan oleh pihak universitas untuk cados angkatan 2004 dan 2005. Meski begitu, agenda panjang yang terdiri dari program pengembangan kepribadian atau kompetensi personal, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi paedagogik ini, sempat mengalami pro dan kontra. Beberapa cados tidak menginginkan pelatihan ini. Karena peraturan yang diterapkan sangat ketat. Beberapa peraturan tersebut diantaranya, semua cados harus mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Sehingga, yang belum atau tidak bisa mengikuti, harus mengikutinya pada periode mendatang. Selain itu, toleransi ketidakhadiran hanya 10 % dan toleransi keterlambatan forum hanya 10 menit. Hal inilah, yang membuat beberapa cados mengeluh, bahkan protes terhadap adanya program ini.

Pernah saya meminta tanggapan para dosen senior, dan ternyata mereka merespons positif terhadap program ini. “Cados sekarang lebih enak, karena banyak program pelatihan pengembangan yang diberikan. Sementara, para cados sebelumnya tidak pernah ada program-program seperti itu, sehingga akses mereka terhadap kegiatan dan program-program di universitas sangat minim dan sulit.” Begitu tanggapan salah-satu dosen senior, yang setidaknya semakin menguatkan tekad saya. Sehingga terlepas dari masalah pro dan kontra tersebut, tentu saja agenda “Training for Teachers” ini banyak sekali memberikan manfaat, terutama di akhir-akhir agenda, yakni tentang pengembangan kompetensi paedagogik. Saya pribadi, merasa memperoleh banyak materi baru tentang sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi. Karena memang tidak semua peserta berasal dari Fakultas Kependidikan, sehingga penguasaan content terkadang tidak dibarengi dengan penguasaan course design-nya, dan beberapa teman peserta pelatihan juga merasakan hal yang sama.

Active learning’ yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, harus dipahami oleh semua dosen

Awalnya itulah hal penting yang saya peroleh dari Program Pengembangan Cados tersebut. Penguasaan materi yang baik, sangat dibutuhkan oleh seorang dosen untuk mengajar. Namun, materi terkadang tidak dapat disampaikan dan dipahamkan secara mudah dan komprehensif kepada para mahasiswa. Oleh karena itu, ketika materi dipetakan dalam bentuk skema-skema, akan menjadi lebih mudah dipahami. Dalam dunia tulis-menulis, dikenal adanya concept map. Inilah yang kami bahas dan praktikkan dalam pelatihan ini mengenai content design. Dengan concept map ini, kami lebih mudah memaparkan materi-materi pembelajaran, sehingga pembahasan dapat terarah dan sistematis.

Hal lain yang penting untuk dikuasai oleh dosen adalah merumuskan kompetensi yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Dalam pelatihan ini, kami juga membahas dan mempraktikkan perumusan kompetensi dasar, standar kompetensi dan indikator-indikator mata kuliah yang akan diajarkan. Jika selama ini, kami hanya menerima konsep jadi dari silabus, tanpa mengetahui filosofi perumusan kompetensi, maka dalam pelatihan ini kami dapat mengetahui, merumuskan dan mempraktikkannya sendiri.

Penguasaan content yang baik, belum tentu dapat mengantarkan kepada pemahaman mahasiswa secara efektif, tanpa adanya strategi penyampaian yang menarik. Sehingga, pelatihan ini juga mengenalkan dan mempraktikkan pelbagai strategi pembelajaran sistem active learning. Strategi-strategi ini dapat kami praktikkan dalam semua mata kuliah. Maka dengan pelatihan ini, kami telah memiliki banyak inventarisasi strategi active learning untuk dipraktikkan di kelas nantinya.

Dari pelatihan ini juga penting untuk digarisbawahi, bahwa sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi tidaklah sama dengan sistem pembelajaran pada tingkat sekolah mengengah ke bawah. Sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi, menekankan pada pembelajaran andragogik, yaitu pembelajaran untuk orang dewasa. Sehingga, dosen bukanlah merupakan sentral aktivitas pembelajaran dan dosen bukanlah sumber utama ilmu. Melainkan, pembelajaran bertumpu pada active learning, dimana mahasiswa bukanlah objek di kelas, tetapi dosen dan mahasiswa sama-sama sebagai subjek pembelajaran. Bahkan, dosen hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Active learning ini dapat dilakukan dengan berbagai strategi, yang telah dibahas dan dipraktikkan dalam pelatihan tersebut.

Kami juga diberi ksempatan untuk mempraktikkan micro teaching, guna menyampaikan concept map, kompetensi dan untuk mempraktikkan strategi active learning di kelas semu. Ini merupakan klimaks dari pelatihan, sekaligus untuk mengevaluasi pemahaman dan penguasaan kami tentang materi pelatihan. Dan terkait dengan efaluasi, ini merupakan salah satu komponen dari course design process. Dalam pelatihan ini juga dibahas dan dipraktikkan model-model evaluasi, mulai dari jenis-jenis tes, non tes dan model-model evaluasi alternatif seperti progress-report, presentasi, partisipasi, paper, proposal dan sebagainya.

Serangkaian materi tersebut merupakan bekal kami–para cados yang menjadi generasi penerus dari generasi yang ada sekarang ini— untuk melaksanakan proses pembelajaran di UIN. Semoga ini juga menjadi bekal kami untuk melakukan perubahan sistem pembelajaran dari teachers oriented menjadi students oriented; sistem pembelajaran yang kurang demokratis menjadi sistem pembelajaran yang membebaskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar