Senin, 19 Oktober 2009

artikel

Persepsi Masyarakat terhadap Konsep Bagi Hasil

dalam Aktivitas dan Kerja Sama Bisnis

(Studi Kasus di BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Oleh: Sri Wahyuni, M.Ag.,M.Hum.[1]

Abstract

BMT Sunan Kalijaga is an Islamic finance institution which uses syar’iah finance system. It uses loss and profit sharing in order to practice its finance counting in busness and investation cooparations. Its products which are based in loss and profit sharing, are musyaraka and mudaraba; but they are not more populary then other products. It’s coused by customers understanding about loss and profit sharing in order to seek the syari’ah finance system. This research aims to know how does the customers understanding about loss and profit sharing, relate to their preference to choose the BMT products; and how does BMT Sunan Kalijaga establish the socialization to its customers about loss and profit sharing as an Islamic finance system.

This research is based on primary data which were found from the field, by interview with the BMT customers and its managers in order to answer the researh problems. The scondary data are used too, in order to complate the research analisys.

From this research, we know that most of the customers of BMT Sunan Kalijaga have understood about loss and profit sharing system in syari’ah economic consept, but they have not understood it specifically, such as the using of arabic words; musyaraka and mudaraba. The customers understanding of loss and profit sharing (musyarakah and mudarabah) as independent variable, doesn’t have influence to the customers preference to choose the BMT products, as dependent variable.

Key words: persepsi masyarakat, konsep bagi hasil, aktivitas dan kerja sama bisnis, BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pendahuluan

Baitul Mal wat Tamwil (BMT) Sunan Kalijaga, berdiri atas kuasa Rapat Pembentukan Koperasi Syariah BMT Sunan Kalijaga yang diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 26 Februari 2005. Koperasi ini pada mulanya, diberi nama Koperasi Syari’ah Bait al-Maal wa at-Tamwil Sunan Kalijaga disingkat Koperasi BMT Sunan Kalijaga. Koperasi BMT Sunan Kalijaga berkedudukan di Jalan Imogiri Timur 217, Kecamatan: Umbulharjo; Kota: Yogyakarta; Propinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Koperasi Syari’ah BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta (atau selanjutnya disebut BMT Sunan Kalijaga) adalah sebuah institusi bisnis yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya serta turut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan syari’at Islam.[2]

BMT Sunan Kalijaga merupakan salah satu Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) yang dilaksanakan dengan menggunakan sistem keuangan Islam, yang didasarkan pada sistem bagi hasil. Konsep bagi hasil ini, sebenarnya, telah dikenal sebelum ajaran Islam dan telah terlembaga dengan baik dalam dunia perdagangan di Arab. Konsep bagi hasil tesebut terlembaga pada aktivitas kerja sama baik melalui lembaga mudaraba maupun musyaraka[3]. Aktivitas perdagangan dengan sistem tersebut juga tetap diadopsi oleh Islam.

Mudaraba merupakan bentuk kerja sama bisnis dengan memadukan antara orang yang mempunyai modal (sahibul mal) dan orang yang mempunyai skill bisnis (mudarib) yang baik dalam menjalankan usaha dengan sistem bagi hasil yang disepakati. Dalam aplikasinya di perbankan syari’ah, mudarabah dapat diterapkan pada: tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus seperti tabungan haji, kurban dan sebagainya; dan dposito spesial, yaitu tabungan yang secara khusus akan diinvestasikan pada nasabah untuk suatu usaha tertentu, misalnya untuk jual beli dengan perantara bank (murabahah) atau untuk kelancaran usaha persewaan barang milik bank (ijarah).

Sementara itu, musyaraka merupakan kerja sama antara dua pihak atau lebih baik dengan modal, tenaga ataupun keahlian dengan tingkat risiko dan keuntungan yang proporsional. Aplikasi musyarakah dalam perbankan syari’ah meliputi dua bentuk, yaitu pembiayaaan proyek dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakana dana untuk membiayai proyek tersebut, setelah proyek itu selesai nasabah mngembalikan dana tersebut beserta bagi hasil yang telah disepakati untuk bank; dan modal ventura, dimana penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya baik secara langsung maupun bertahap.

Konsep bagi hasil ini yang menjadi salah satu landasan berdirinya lembaga-lembaga keuangan Syari’ah yang telah mengalami perkembangan sejak tiga puluh tahun terakhir ini di Indonesia, walaupun tidak sepesat perkembangan ekonomi konvensional.

Di Indonesia, perkembangan awal ekonomi Islam ditandai dengan operasional Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1992, kemudian diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan lain. Pada tahun 1994 lembaga Baitu al-Mal wa at-Tamwil mulai beroperasi dan sampai saat ini mencapai 3000 BMT yang menitikberatkan pada usaha dan pengusaha mikro. Sampai bulan Februari 2005, di Indonesia terdapat 3 bank Islam menjadi bank umum, 15 unit usaha Islam dan 89 BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah).

Pertumbuhan aset perbankan Islam masih lambat dan masih jauh dibandingkan dengan perbankan konvensional, dengan total aset Rp. 22,7 trilyun atau 1,45 % dari seluruh total aset perbankan nasional yang menyentuh angka Rp 1.465,64 trilyun. Jaringan perbankan Islam sampai saat ini dari kantor pusat hingga kantor kas berjumlah 574 buah.[4] Di lain pihak, dengan pertumbuhan aset mencapai 70 % dan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 50 % menjadikan sektor perbankan Islam merupakan sektor yang menarik. Kondisi tersebut didukung dengan keberhasilan perbankan Islam melempar produk pembiayaan sekitar Rp. 18,16 trilyun sepanjang enam bulan pertama atau naik sekitar 19,24%. Sementara perbankan konvensional selama enam bulan ini sangat minim dalam ekspansi kredit.[5]

Perkembangan lembaga-lembaga keuangan di Indonesia yang signifikan tersebut masih menempati porsi yang relatif kecil dibandingkan lembaga keuangan konvensional. Lembaga-lembaga keuangan konvensional telah mempunyai sejarah yang relatif lebih lama dan lebih mapan secara struktural. Di lain pihak, mayoritas umat Islam belum mampu mendukung keberadaan lembaga keuangan Islam tersebut. Fatwa MUI tentang haramnya bunga “hanya” mampu mendongkrak pengalihan dana pihak ketiga sebanyak 25% dari sebelumnya dan tidak berimplikasi signifikan terhadap penambahan total aset perbankan syariah. Konsep bagi hasil dalam dunia perbankan masih dirasakan asing, karena perbankan identik dengan bunga yang serba praktis, mudah diprediksi sehingga sangat menunjang kepastian dunia usaha. Konsep bagi hasil didasarkan pada nisbah yang tidak dapat memberikan kepastian kecuali jika rugi atau laba tersebut benar-benar terjadi dan merupakan hasil akhir.

Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap risiko dan keuntungan juga belum memadai seperti yang diharapkan dalam sistem bagi hasil di perekonomian Islam. Ekonom muslim berpandangan sebagaimana teori portofolio bahwa risiko berbanding dengan keuntungan, risiko yang tinggi dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi dan sebaliknya. Masyarakat secara umum menuntut keuntungan yang tinggi jika melakukan kerja sama, walaupun sebenarnya mengandung risiko yang tinggi. Demikian halnya jika menjadi penabung dengan sistem mudaraba, maka penabung tidak bersedia menanggung kerugian jika perbankan tersebut mengalami kerugian. Kondisi tersebut menjadikan prinsip-prinsip ekonomi Islam tidak dapat diterapkan secara baik di Indonesia, bahkan kebijakan BI yang menjamin seluruh dana nasabah di perbankan melalui UU No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menjadikan prinsip bagi hasil semakin sulit untuk diterima masyarakat. Perundang-undangan tersebut mengatur jaminan keuangan bagi para nasabah tidaklah sejalan dengan prinsip risiko dalam ekonomi Islam. Nasabah terdidik untuk tidak terbiasa menghadapi risiko bisnis yang akan dialami lembaga keuangan yang dipilihnya. Pada saat ini, jumlah tabungan yang dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sampai jumlah Rp. 1 milyar dan pada tanggal 22 Maret 2007 akan diturunkan menjadi Rp. 100 juta, sedangkan nasabah yang memiliki jumlah di atas angka tersebut dianjurkan untuk mengalihkan pada bentuk deposito.[6] Secara empiris, produk perbankan Islam yang diminati nasabah adalah produk murabahah (64,85%) karena lebih memberikan kepastian, sedangkan mudaraba (19,61%) dan musyaraka (11,56%) menempati pasar yang kecil. Kedua produk bagi hasil tersebut merupakan bentuk paling ideal dalam investasi pada lembaga keuangan Islam, tetapi kurang populer di kalangan masyarakat sebagai produk pembiayaan.[7] Sementara itu, di BMT Sunan Kalijaga –berdasarkan data awal dalam penelitian ini—justeru mudharabah menempati prosentase tertinggi diantara produk-produk yang lain, yaitu mudharabah 37, 3 %, murabahah 32,3 % dan wadi’ah 30 %.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh lembaga-lembaga keuangan Islam adalah kekurangan sumber daya manusia dan informasi.[8] Perkembangan ekonomi Islam yang pesat di Indonesia, hendaknya diimbangi dengan pemahaman yang baik dan menyeluruh terhadap prinsip-prinsip ekonomi Islam yang sangat menjunjung nilai keadilan sosial, termasuk konsep bagi hasil.

Berdasarkan paparan di atas, maka tulisan ini membahas tentang bagaimana persepsi masyarakat (nasabah) terhadap konsep bagi hasil dalam dunia usaha (investasi). Penelitian tentang bagi hasil telah banyak dilakukan, diantaranya adalah Abdullah Saeed (1998), melakukan penelitian pada beberapa bank Islam di Timur Tengah yang berkaitan dengan produk-produk perbankan. Penelitian tersebut menunjukan bahwa produk murabaha merupakan produk paling populer di kalangan pengguna jasa perbankan Islam. Produk murabaha menempati porsi 75% pada perbankan di Timur tengah, di Pakistan pada 1984 sekitar 87% dan di Dubai Islamic Bank sebesar 82%. Kondisi tersebut menunjukan bahwa produk bagi-hasil tidak populer di kalangan Investor perbankan Islam.[9]

Penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI, 2000) menunjukan bahwa tingkat apreasiasi masyarakat terhadap lembaga keuangan Syariah cukup tinggi. Di daerah penelitian Jawa Barat menunjukan angka di atas 80% dan di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta sekitar 71,2%. Pemahaman terhadap lembaga keuangan syariah tersebut ternyata tidak diimbangi dengan pemahaman dasar-dasar ekonomi Islam, dan pemahaman terhadap hal tersebut masih lemah.

Rajesh Aggrawal (et. all 1996), melakukan penelitian yang berkaitan dengan sistem bagi hasil dalam perbankan Islam. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem bagi hasil tidak sepenuhnya dapat dijalankan dalam perbankan Islam, hal tersebut ditunjukan dengan tingginya minat nasabah terhadap produk murabaha yang bukan merupakan sistem ideal dalam aktivitas bisnis Islam. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan temuan Abdullah Saeed (1998), yang menyatakan bahwa hampir di seluruh perbankan syari’ah, produk yang paling diminati adalah murabaha yang dianggap lebih memberikan kepastian hitungan dalam dunia bisnis. Sementara itu, Musyaraka dan mudaraba yang ditetapkan sebagai bentuk investasi paling ideal dalam Islam hanya menempati porsi yang sangat kecil. Hal tersebut dikarenakan oleh dua faktor, pertama, para nasabah mudaraba dan murabaha pada perbankan Islam mempunyai moral hazard yang rendah berkaitan dengan kepercayaan (dana) yang diberikan oleh perbankan. Hal tersebut berkaiatan dengan penggunaan dana yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Faktor kedua, yang berkaitan dengan mekanisme yang ditetapkan oleh perbankan Islam. Pada kenyataannya, praktek mudaraba dan musyaraka menerapkan prosedur yang sangat rumit, pihak perbankan bahkan tidak ikut terlibat dalam pengelolaan keuangan dan menyerahkan hal tersebut kepada nasabah dengan membebankan biaya administrasi yang lebih tinggi.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, konsep bagi hasil belum dapat diterapkan secara baik pada lembaga keuangan Islam dan juga belum dapat dipahami secara baik oleh para pelaku bisnis dan masyarakat pada umumnya. Penelitian ini berusaha memperoleh pemahaman yang baik mengenai kendala pemahaman masyarakat yang berkaiatan dengan konsep bagi hasil dalam investasi, terutama di BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana persepsi nasabah BMT Sunan Kalijaga terhadap konsep bagi hasil dalam dunia usaha (investasi); bagaimana upaya yang dilakukan oleh BMT dalam rangka sosialisasi penggunaan sistem bagi hasil pada produk-produknya; dan bagaimana bentuk sosialisasi yang baik terhadap masyarakat berdasar pada kebutuhan dasar nasabah. Dan bagaimana bentuk langkah yang perlu dilakukan oleh BMT baik secara internal maupun terhadap masyarakat.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pemahaman masyarakat (nasabah BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta) terhadap konsep bagi hasil dalam ekonomi Islam dalam investasi; mengeksplorasi terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan oleh BMT dalam rangka sosialisasi terhadap produk yang berbasis bagi hasil; dan melanjutkan dari berbagai penelitian sebelumnya yang berkaiatan dengan kendala mengenai konsep bagi hasil dan merumuskan langkah sosialisasi berdasar kebutuhan masyarakat dan lembaga keuangan Islam.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuntitatif. Rincian metodologi untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian yang disebutkan di atas, adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan, yang menggunakan data primer berupa hasil survey, hasil wawancara dan kuesioner.

b. Lokasi penelitian yang dipilih adalah lembaga keuangan Islam mikro (BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan nasabahnya.

c. Adapun responden-responden yang akan diteliti adalah nasabah BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah menjadi mitra-nasabah selama minimal 6 (enam) bulan.

d. Pengumpulan data primer:

Data primer dikumpulkan melalui sarana kuesioner/ angket dan wawancara.

1) Kuesioner/ angket untuk para nasabah BMT (yang telah menggunakan produk BMT selama minimal 6 bulan) dibutuhkan untuk membahas permasalahan pertama yaitu tentang persepsi masyarakat atau karakteristik dan pemahamannya terhadap konsep bagi hasil.

e. Mengumpulkan data sekunder

Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber seperti:

1) Data yang berkaitan dengan perkembangan keuangan, nasabah-anggota.

2) Sumber dari koran, majalah dan publikasi lainnya

f. langkah-langkah analisis data:

1) Menganalisis karakteristik nasabah BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pemahaman mereka terhadap konsep bagi hasil baik dalam konsep ekonomi Islam maupun dalam dunia usaha, melalui hasil kuestioner

2) Setelah memperoleh karakteristik nasabah, pemahaman nasabah terhadap konsep bagi hasil dan peran dan mekanisme yang telah dijalankan BMT dalam rangka sosialisasi BMT, maka penelitian ini akan merumuskan langkah sosialisasi yang didasarkan pada fakta empiris di atas.

Hasil penelitian

1. Penilaian pada Skor Tabel

Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan agket yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk melihat pemahaman para nasabah tentang produk BMT berupa mudharabah dan musyarakah. Angket ini berupa pertanyaan tertutup dengan membarikan pilihan jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Masing-masing diberi skor secara berurutan 4, 3, 2, 1. maka kami hasilkan skor rerata sebagai berikut:

No.

Pertanyaan

Skor

1.

Konsep Bagi hasil merupakan mekanisme kerja sama dalam aktifitas bisnis

3.166667

2.

Konsep Bagi-hasil didasarkan pada pembagian keuntungan-kerugian dalam usaha secara proporsional

2.833333

3.

Konsep bagi hasil merupakan konsep paling baik diantara konsep bisnis dalam ekonomi Islam

2.777778

4.

Konsep bagi hasil terdiri dari Mudaraba dan musyaraka

2.944444

5.

Mudaraba merupakan kerja sama antara pemilik modal dan pelaku bisnis

2.805556

6.

Risiko modal pada mudaraba sepenuhnya ditanggung pemilik modal

2.971429

7.

Musyaraka merupakan kerja sama dalam hal modal, keahlian dan pekerjaan

2.75

8.

Keuntungan-kerugian dalam musyaraka didasarkan pada proporsi modal

3.027778

No.

Pertanyaan

Skor

1.

BMT Suka memiliki produk Mudaraba

3.055556

2.

Tabungan mudaraba memberikan bagi hasil yang memadai

2.888889

3.

Bagi hasil mudaraba pada pembiayaan kompetitif

2.666667

4.

Pinjaman mudaraba mudah diperoleh

2.527778

5.

Administrasi pembiayaan mudaraba mudah

2.611111

6.

Jaminan pada mudaraba tidak memberatkan

2.805556

7.

Pelayanan produk mudaraba di BMT Suka dilaksanakan secara professional

2.638889

Produk Musyaraka di BMT SUKA

No.

Pertanyaan

Skor

1.

BMT Suka mempunyai produk musyaraka

3

2.

Bagi hasil produk Pembiayaan musyaraka kompetitif

2.555556

3.

Persyaratan untuk memperoleh pinjaman musyarakah mudah

2.583333

4.

Tingkat bagi hasil pinjaman musyarakah kompetitif

2.805556

5.

Jaminan pinjaman musyarakah tidak memberatkan

2.611111

6.

Sistem administrasi pada musyaraka sederhanaaya

2.472222

7.

Selama ini, Pihak BMT terlibat dalam manajemen pembiayaan musyaraka

3.264706

8

Pelayanan produk musyaraka di BMT Suka dilaksanakan secara professional

3.194444

No.

Pertanyaan

Skor

1.

Saya berminat menggunakan produk bagi hasil

3.277778

2.

Saya berminat menggunakan produk tabungan mudaraba

3.25

3.

Bagi hasil tabungan lebih tinggi dari produk lembaga keuangan lain

3.111111

4.

Saya berminat menggunakan pembiayaan mudaraba

3.111111

5.

Bagi hasil mudaraba yang tinggi untuk pihak BMT sesuai dengan risiko BMT yang tinggi

2.714286

6.

Saya akan menggunakan produk mudaraba walaupun administrasi pengelolaan lebih rumit

2.861111

7.

Saya akan menggunakan produk mudaraba walaupun risiko jaminan menjadi tanggungan saya

2.2

8.

Saya berminat menggunakan pembiayaan musyaraka

2.944444

9.

Bagi hasil musyaraka sesuai dengan rasio modal anggota dan BMT

2.861111

10.

Saya akan menggunakan produk musyaraka walaupun administrasi pengelolaan lebih rumit

2.657143

11.

Saya akan menggunakan produk musyaraka walaupun risiko jaminan menjadi tanggungan saya

2.527778

Kelompok pertanyaan yang pertama berkaitan dengan pemahaman konsep bagi hasil oleh para anggota BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari delapan (8) pertanyaan menunjukan bahwa tingkat pemahaman para anggota BMT mempunyai skor yang relatif rendah dan hanya pertanyaan nomer 1 dan 8 yang memperoleh angka rata-rata 3,16 dan 3,02. Pernyataan pertama berkaitan dengan pengertian dasar yaitu, “Konsep Bagi hasil merupakan mekanisme kerja sama dalam aktifitas bisnis”. Jawaban responden menunjukan bahwa tingkat pemahaman para anggota terhadap konsep bagi hasil yang berkaitan dengan kerja sama telah difahami secara baik. Hal tersebut menunjukan bahwa secara umum diketahui bahwa bagi hasil identik dengan kerja sama, hal tersebut didukung dengan berbagai informasi bahwa bagi hasil dan kerja sama dikenal baik dalam ekonomi Islam maupun ekonomi konvensional yang dikenal dengan ventura capital.[10] Demikian juga dengan pernyataan nomer 8, yang berkaitan dengan sistem atau mekanisme dalam bagi hasil, yaitu proporsi keuntungan dan kerugian didasarkan pada proporsi modal. Pernyataan ini secara umum juga telah dikenal secara luas dan merupakan mekanisme baku dalam sistem bagi hasil.

Pernyataan lain mendapatkan nilai yang lebih rendah dengan nilai rata-rata terendah adalah 2,75 yaitu pernyataan pada nomer 7. Pernyataan tersebut adalah, ” Musyaraka merupakan kerja sama dalam hal modal, keahlian dan pekerjaan” Jawaban responden menunjukan bahwa selama ini, para anggota BMT mempunyai informasi bahwa kerja sama dalam dunia bisnis sebatas modal atau uang. Keahlian dan pekerjaan dianggap bukan sebagai bagian dari kerja sama, melainkan sebagai pelengkap dalam sebuah kerja sama.

Dari keseluruhan pernyataan dalam indepnden variabel pertama menunjukan bahwa kerja sama yang dikenal dalam dunia usaha adalah yang identik dengan musyaraka. Kerja sama dengan sistem modal (uang) yang ditanggung seluruhnya (100%) oleh salah satu pihak jarang dikenal, sehingga pernyataan yang berkaitan dengan mudaraba mempunyai skor yang relatif lebih rendah. Kurangnya pemahaman anggota terhadap sistem mudaraba menunjukan bahwa sosialisasi dan praktek mudaraba di masyarakat relatif masih jarang terjadi. Hal tersebut juga didukung oleh fakta bahwa tingkat risiko yang sangat tinggi dan ditanggung oleh satu pihak menjadikan tipe bisnis tersebut kurang diminati oleh masyarakat, walalupun di pihak lain mekanisme tersebut dapat memberikan tingkat keuntungan yang tinggi bagi si penanggung risiko.

Kelompok pernyaan independen kedua berkaitan secara khusus dengan mudaraba. Pernyataan pada kelompok dua berisi tentang mudaraba sebagai salah satu produk BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta, pelayanan maupun administrasi. Pernyataan yang mendapatkan skor tertinggi (3,05) berkaiatan dengan pernyataan yang sangat umum yaitu mudaraba sebagai bagian dari produk BMT. Pernyataan DENgan skor terendah (2,52) adalah pernyataan pada nomor 4 yang berkaitan dengan kemudahan memperoleh produk mudaraba. Jawaban responden memperkuat beberapa data beberapa perbankan baik di Indonesia maupun di dunia Islam, bahwa produk mudaraba merupakan produk yang kurang populer oleh para investor[11]. Hal tersebut dikarenakan perbankan dan lembaga keuangan menerapkan persyaratan yang sangat ketat untuk mendapatkan produk tersebut. Persyaratan tersebut meliputi persyaratan sebelum akad dan selama peminjaman, baik yang bersifat administratif, manajemen dan sistem evaluasi terhadap produk tersebut[12].

Kelompok pernyataan ke tiga yang ajukan kepada para responden berkaitan dengan musyaraka baik sebagai bagian dari produk BMT, mekanisme maupun cara perolehannya. Skor tertinggi diperoleh pada pernyataan nomor 7 yang berkaitan dengan keterlibatan pihak BMT pada pengelolaan manajemen anggota yang menggunakan produk musyaraka. Jawaban responden tersebut berbeda dengan teori yang berkembang bahwa pihak BMT relatif tidak begitu terlibat dalam hal pengelolaan anggota karena kekurangan tenaga di lapangan. Pernyataan lain menunjukan bahwa produk musyaraka juga merupakan produk yang kurang populer di kalangan anggota maupun nasabah perbankan dan lembaga keuangan Islam.[13]

Pada kelompok pernyataan dependen variabel berisi tentang minat untuk menggunakan produk bagi hasil, manfaat penggunaan produk, mekanisme yang berkaitan dengan sistem bagi hasil. Pernyataan terhadap minat mendapatkan skor tertinggi (3,27), peminatan para responden dapat diinterpretasikan pada beberapa hal. Usaha para responden, kemungkinan mempunyai tingkat risiko yang besar baik karena jenis usahanya maupun sistem operasionalnya sehingga produk bagi hasil merupakan alternatif yang baik sebagai dana investasinya. Penggunaan produk hasil memungkinkan para pelaku bisnis untuk berbagi risiko dengan mitra usaha sehingga dapat meminimalisir tingkat risiko tersebut. Skor untuk pernyataan nomor 11 merupakan skor terendah, dan jika dikaitkan dengan pernyataan nomor satu (1) menunjukan bahwa para responden berminat untuk menggunakan produk bagi hasil tetapi tidak siap untuk memberikan jaminan yang memadai dan dipersyaratkan oleh lembaga keuangan Islam. Jaminan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dan akan dieksekusi jika terjadi kemacetan yang disebabkan oleh mismanajemen oleh pihak anggota. Berbagai kemungkinan dari kondisi tersebut adalah, tingkat pengelolaan usaha oleh anggota relatif tidak baik sehingga para anggota mempunyai tingkat kekhawatiran yang tinggi jika menggunakan produk bagi hasil. Kemungkinan lain adalah, belum jelasnya aturan main tentang penilaian terhadap mismanajemn yang dijadikan untuk melakukan eksekusi barang jaminan. Hal tersebut berimplikasi pada penilaian terhadap kemacetan angsuran anggota yang dianggap sebagai mismanajemen secara sepihak.

2. Hasil Regresi

Hasil regresi mengenai pengaruh pemahaman bagi hasil para responden terhadap minat nasabah dalam menggunakan produk bagi hasil menunjukan hasil yang signifikan pada standar 10% tetapi tidak pada 5% dengan nilai p 0.5946174 dengan R Square 0.008416806. Pemahaman terhadap konsep bagi hasil tidak berpengaruh terhadap minat para nasabah untuk mengambil produk bagi hasil, sehingga minat tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor lain. Hal tersebut konsisten dengan hasil pada tabel pertama yang menunjukan bahwa tingkat pemahaman anggota terhadap konsep bagi hasil yang relatif rendah.

Tingkat pemahaman yang rendah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor baik secara internal BMT maupun eksternal. Secara internal, pihak BMT jarang melakukan sosialisasi mengenai sistem bagi hasil sebagai salah satu produk BMT. Kegiatan sosialisasi merupakan kegiatan yang dilakukan pada awal pendirian BMT, sedangkan aktifitas pasca pembukaan BMT diisi dengan rutinitas penagihan dan penyaluran sehingga aktifitas sosialisasi menjadi berkurang. Pada bagian lain, pihak BMT juga lebih cenderung pada penyaluran produk murabaha dan mengabaikan produk bagi hasil. Hal tersebut dilakukan karena pelaksanaan produk bagi hasil mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi dan terbatasnya tenaga yang akan selalu memonitoring atau andil dalam manajemen.

Hasil regresi pada independen variabel kedua mempunyai nilai R Square 0.050430246 dan P Value 0.1879257. Independen variabel mempengaruhi dependen variabel sebesar 5% dengan P Value di bawah 5%. Pengetahuan anngota BMT mengenai produk mudaraba tidak berpengaruh terhadap minat nasabah pada produk bagi hasil. Hasil pengujian tersebut memperkuat data selama ini, bahwa produk mudaraba menempati porsi paling kecil sebagai produk pembiayaan. Produk mudaraba merupakan produk yang berisiko tinggi buat lembaga keuangan walaupun disertai jaminan, tetapi jaminan tersebut belum dapat meyakinkan pihak lembaga keuangan Islam untuk memperbesar porsi produk mudaraba. Faktor tersebut didukung oleh karakteristik anggota yang cenderung untuk tidak mengelola bisnis secara baik jika risiko bisnis diambil oleh pihak lain. Mudaraba merupakan perpaduan antara pemilik modal (sahibu al-mal) dan orang yang memiliki keahlian dalam bisnis tetapi tidak memiliki modal (mudarib). Dalam dunia bisnis yang riil, kondisi tersebut dapat diaplikasikan pada bisnis yang baru dimulai, tetapi di lain pihak bisnis yang baru dimulai dianggap mempunyai tingkat risiko yang tinggi sehinga lembaga keuangan tidak memberikan pinjaman untuk investasi.

Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pihak lembaga keuangan turut andil dalam pengawasan pengelolaan perusahaan. Hal tersebut berbeda dengan akad transaksi mudaraba sebelumnya yang menyatakan bahwa mudarib bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pengelolaan bisnis. Kewajiban mudarib adalah memberikan laporan perkembangan secara berkala baik yang berkaitan dengan penjualan, keuntungan maupun perubahan modal. Keikutsertaan pihak lembaga keuangan mencerminkan ketidakpercayaan terhadap mudarib selaku mitra usaha.

Hasil pengujian variabel ketiga adalah pengaruh produk musyaraka terhadap minat nasabah pada penggunaan produk bagi hasil menunjukan hasil yang tidak signifikan dengan nilai R Square 0.019200498 dan P Value 0.4202701. Pengaruh independen variabel terhadap dependen variabel hanya sebesar 2% dengan nilai P Value di atas 5%. Hasil pengujian tersebut memperkuat data perbankan syari’ah selama ini bahwa produk musyaraka kurang populer di kalangan para investor. Ketidakpopuleran tersebut dikarenakan oleh dua hal, yaitu pihak lembaga keuangan Islam dan para investor itu sendiri. Dari pihak lembaga keuangan Islam menganggap bahwa produk musyaraka merupakan produk yang sarat dengan risiko. Kalangan lembaga keuangan Islam menerapkan persyaratan yang relatif lebih ketat dibanding persyaratan produk pembiayaan lain. Nasabah dibebani sistem administrasi dan pelaporan yang berat dan tidak sesuai dengan kemampuan para nasabah atau anggota lembaga keuangan Islam. Faktor lain adalah faktor yang berasal dari nasabah itu sendiri, nasabah dan anggota menganggap bahwa setiap bisnis yang dijalankan adalah bisnis yang prospektif dengan tingkat risiko yang minim sehingga para nasabah atau anggota merasa keberatan untuk memberikan bagian keuntungan yang tinggi kepada lembaga keuangan. Secara administratif, para nasabah dan anggota merasa kesulitan untuk membuat laporan secara tertulisa dan rutin dan memberikannya kepada lembaga yang memberikan pinjaman tersebut.

Hasil uji secara bersama juga menunjukan bahwa ketiga variabel tidak signifikan terhadap minat para anggota terhdap penggunaan produk bagi hasil. Hasil uji mempunyai skor R Square 0.51 dan P Value 0.636. Hasil uji secara simultan konsisten dengan pengujian secara parsial bahwa indepnden variabel tidak berpengaruh secara signifikan terhadap depnden varibel. Pengaruh ketiga indepnden variabel hanya sebesar 5.1 % dan sisanya atau 94.9% dipengaruhi oleh faktor lain demikian juga dengan p value yang jauh di atas 5%. Hasil pengujian tersebut konsisten dengan data perkembangan bagi hasil di berbagai lembaga keuangan dan di BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta sendiri. Data dari Bank Indonesia menunjukan bahwa produk musyaraka menempati sekitar 19,61% dan mudaraba 11,56% dari seluruh produk pembiayaan [14].

Faktor yang mempengaruhi terhadap minat menggunakan produk bagi hasil lebih disebabkan oleh karakteristik jenis usaha dan karakteristik anggota atau nasabah itu sendiri. Rata-rata nasabah atau anggota yang berkeinginan menggunakan produk bagi hasil adalah nasabah dengan karakteristik usaha yang mempunyai tingkat risiko tinggi sehingga ingin mengalihkan risiko tersebut kepada pihak lain. Sebaliknya, jenis usaha para nasabah atau anggota dengan tingkat risiko yang kecil maka pembiayaan atau pinjaman investasi dilakukan melalui produk murabaha atau pinjaman melalui perbankan konvensional. Jenis karakteristik usaha yang penuh risiko tersebut menjadikan pihak lembaga keuangan Islam tidak dapat mengklasifikasikan sebagai usaha yang layak untuk mendapat pendanaan melalui produk bagi hasil, terutama produk mudaraba yang akan menyediakan seluruh modal yang diperlukan. Di lain pihak, persyaratan manajemen sebagai bagian dari tata kelola usaha yang menggunakan sistem bagi hasil juga dianggap terlalu rumit seperti; pencatatan aktifitas jual beli, pencatatan pendapatan secara periodik baik harian ataupun mingguan. Kendala tersebut berkaitan dengan kemampuan para anggota dan nasabah yang terbatas terhadap sistem akuntansi ataupun pencatatan lainnya.

Karakteristik usaha yang memiliki risiko tinggi dapat diminimalisir dengan melakukan manajemen risiko oleh lembaga keuangan Islam. Karakteristik usaha yang berisiko tersebut dapat menjadi aset jika usaha tersebut mempunyai prospek yang baik. Di berbagai negara barat, bagi hasil dikenal dengan ventura capital dan mengalami perkembangan yang signifikan sejak tahun 1980 –an. Pada tahun 1987 jumlah perusahaan ventura capital mencapai 352 buah dengan total aset mencapai $. 18.71 milyar. Karakteristik usaha ventura capital di AS adalah jenis usaha yang memiliki risiko tinggi, keuntungan tinggi serta teknologi yang tinggi. Pengelolaan ventura capital diorganisir dalam bentuk perusahaan dan dikelola secara baik sehingga dapat mengelola risiko menjadi keuntungan yang prospektif. Di Indonesia, hubungan antara lembaga keuangan Islam dengan pengguna bagi hasil sebatas mitra usaha antara peneyedia modal dan peminjam modal. Aspek lain seperti, pengelolaan, pemasaran dan efesiensi perusahaan hanya menjadi tanggung jawab peminjam dana. Hal tersebut berkaitan dengan keterbatasan lembaga keuangan Islam di bidang SDM dan profesionalisme para karyawannya.

Karakteristik para nasabah dan anggota juga dapat mempengaruhi penilaian lembaga keuangan Islam terhadap pengajuan pembiayaan bagi hasil. Nasabah atau anggota dinilai tidak serius dalam menjalankan usahanya setelah mendapatkan pembiayaan investasi. Kondisi tersebut karena adanya pengalihan risiko dari anggota dan nasabah kepada lembaga keuangan Islam. Ketidakseriusan tersebut berimplikasi pada pengelolaan usaha dan tingkat kepercayaan lembaga keuangan Islam kepada anggota dan Nasabah. Dalam sistem bagi hasil, tingkat kepercayaan antara nasabah/anggota dan lembaga keuangan sangat diperlukan. Sikap jujur, terbuka dan amanah anggota dan nasabah menjadi modal yang tidak kalah penting disamping uang. Demikian juga dengan kemampuan lembaga keuangan Islam dalam mengelola sistem manajemen produk bagi hasil dengan keterbatasan kemampuan maupun tenaga yang harus mengevaluasi dan memantau aktifitas bisnis para mitra usahanya.

Dalam sistem perbankan Indonesia, lembaga perbankan diharuskan untuk menetapkan jaminan sebesar minimal 125% dari total pinjaman yang diajukan. Penetapan jaminan tersebut diperlukan untuk mengganti seluruh dana yang telah disalurkan jika kemacetan usaha disebabkan oleh mismanajemen dalam aktifitas usaha. Jaminan yang dipersyaratkan oleh lembaga keuangan perbankan tersebut tidak dapat menaikkan omzet produk bagi hasil karena eksekusi jaminan tidak dapat dijalankan secara mudah. Proses eksekusi memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang tidak menguntungkan dalam dunia lembaga keuangan. Demikian juga yang diharapkan pada setiap aktifitas bisnis adalah menghindari kemacetan nasbah sehingga jaminan tidak menjadi tujuan yang diharapkan oleh lembaga keuangan.

Lembaga keuangan Islam di Indonesia dikenal sejak tahun 1992 dibanding lembaga keuangan konvesnional, maka umur lembaga keuangan Islam masih relatif sangat muda. Istilah-istilah, mekanisme kerja dan aktifitas lembaga keuangan Islam belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, sehingga diperlukan sosialisasi secara terus menerus dan terstruktur dengan baik untuk mencapai seluruh lapisan masyarakat. Kendala lain yang cukup signifikan adalah sistem konvensional dan sistem bunga yang sudah sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehingga sosialisasi sistem ekonomi baru (ekonomi Islam) memerlukan penyesuaian yang memerlukan waktu serta pemahaman yang tidak mudah.

Penutup

Berdasarkan hasil uji pengaruh pemahaman anggota BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta terhadap minat pada produk musyaraka dan mudaraba, dapat diambil beberapa kesimpulan:

1. Anggota BMT Sunan Kalijaga Yogyakarta rata-rata memahami konsep bagi hasil, tetapi secara spesifik para anggota BMT belum memahami istilah-istilah yang masih menggunakan bahasa asing. Istilah mudaraba merupakan jenis bagi hasil yang masih terasa asing di kalangan anggota.

2. Hasil pengujian menunjukan bahwa ketiga indepnden variabel (pemahaman tentang bagi hasil, mudaraba, musyaraka) tidak berpengaruh terhadap dependen variabel (minat anggota terhadap produk bagi hasil). Hasil regresi mengenai pengaruh pemahaman bagi hasil para responden terhadap minat nasabah dalam menggunakan produk bagi hasil menunjukan hasil tidak signifikan dengan nilai p 0.5946174 dengan R Square 0.008416806. Hasil regresi pada independen variabel kedua mempunyai nilai R Square 0.050430246 dan P Value 0.1879257. Hasil pengujian variabel ketiga adalah pengaruh produk musyaraka terhadap minat nasabah pada penggunaan produk bagi hasil menunjukan hasil yang tidak signifikan dengan nilai R Square 0.019200498 dan P Value 0.4202701. Hasil uji secara bersama juga menunjukan bahwa ketiga variabel tidak signifikan terhadap minat para anggota terhdap penggunaan produk bagi hasil. Hasil uji mempunyai skor R Square 0.51 dan P Value 0.636. Minat anggota terhadap produk bagi hasil dipengaruhi oleh faktor lain seperti karakteristik jenis usaha serta karakteristik anggota itu sendiri dalam mengelola sistem bagi hasil.

Adapun saran-saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan penelitian ini, bahwa sosialisasi yang efektif dapat dilakukan dengan mengaplikasikan sistem mudaraba dan musyaraka pada bisnis nasabah secara riil. Anggota dan BMT melakukan kelayakan bisnis secara bersama dan mengkaji mekanisme pengelolaan, efesiensi dan pemasaran usaha anggota.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Saeed, Islamic Banking and Interest, Leiden: EJ. Brill, 1996

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, (Kairo: an-Nahdah, 1957)

MB Hendrie Anton, Pengantar Ekonomi Mikro Islam, (Yogyakarta: Penerbit Ekonisia Fakultas Ekonomi UII, 2003)

Murat Sciacca, Ventura Capital, dalai Encyclopedia of Islamic Banking and Insurance, London:IEIBI, 2001

AD/ART Koperasi Syari’ah BMT Sunan Kalijaga

Bisnis Indonesia, 3 Juli 2006

Bisnis Indonesia, 31 Juli 2006

Bisnis Indonesia, 7 Agustus 2006

Republika, 26-2-2007



[1] Penulis adalah Dosen fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

[2] Disarikan dari AD/ART Koperasi Syari’ah BMT Sunan Kalijaga

[3] Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, (Kairo: an-Nahdah, 1957)

[4] Bisnis Indonesia, 7 Agustus 2006

[5] Bisnis Indonesia, 31 Juli 2006

[6] Republika, 26-2-2007

[7] BI-Bisnis Indonesia, 31 Juli 2006

[8] Bisnis Indonesia, 3 Juli 2006

[9] Abdullah Saeed, Islamic Banking and Interest, Leiden: EJ. Brill, 1996

[10] Murat Sciacca, Ventura Capital, dalai Encyclopedia of Islamic Banking and Insurance, London:IEIBI, 20001

[11] Abdullah Saeed, Islamic Banking and Interest, Leiden: EJ. Brill, 1996

[12] Abdullah Saeed, Islamic Banking and Interest, Leiden: EJ. Brill, 1996

[13] Data BI, skh. Bisnis Indonesia, 31 Juli 2006

[14] Data Perkembangan Perbankan Syariah BI tahun 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar